POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Desember 22, 2025
in Puisi Essay
0
Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya - 1c176fc3 d655 4482 8e0f 3b3163b72f45 | Puisi Essay | Potret Online

Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata seorang pemuda yang memilih bersembunyi di hutan setelah kuliahnya gagal, karena tak sanggup menghadapi rasa malu di hadapan orang tua.)

—000—

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya - c24ca38d 6e95 49ba bb6a 062831573db5 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Dari Limbah Menjadi Cinta
09 Feb 2025

Anca tidak pulang.
Ia berhenti di langkah yang seharusnya
mengarah ke rumah.
Ia berbelok,
menanjak bukit tinggi,
mencari tanah yang mau menampungnya.

Hutan menerimanya
tanpa tanya,
tanpa tuntutan,
tanpa perlu tahu
riwayat kegagalannya.

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya - 7cff1bac 8d15 4a90 bf36 7d06f5cacd91 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan
22 Jan 2025

Di bawah pohon yang tua,
Anca duduk memeluk lutut.
Tanah dingin menempel di kulitnya,
namun itu lebih bisa ia tahan
daripada bayangan mata orang tua
yang sedang menunggu pelunasan hutang
selembar keberhasilan
yang harus ia buktikan

Sunyi merambat di sela napasnya.
Ia merasa pulang berarti
datang dengan pembenaran,
dengan angka,
dengan cerita yang sesuai rencana.

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya - 0cf53e2a 790f 4e6b ac39 f9b0a848a98d | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Genre
DUA PUSAI, DUA PENGEYEL
16 Jan 2025

Sedangkan yang ia bawa
hanya kegagalan
yang belum sempat ia maafkan.

Ia tak bisa membawa apa-apa
selain rasa malu
yang tumbuh menjadi beban.

Kuliah itu gagal.
Bukan karena ia tak mencoba,
melainkan karena hidup
tak selalu memberi waktu
yang sama pada setiap orang.
Namun penjelasan semacam itu
terasa tak cukup
untuk dibawa pulang.

Di hutan,
tak ada yang menanyakan IPK.
Tak ada yang membandingkan.
Tak ada kalimat
“Seharusnya kamu bisa.”

Hanya suara serangga
yang datang dan pergi
tanpa peduli
gelar apa yang ia miliki.

—000—

Malam turun pelan.
Anca menatap gelap
seperti menatap dirinya sendiri.
Ia tak ingin menghilang,
hanya ingin tak terlihat
oleh orang-orang
yang membuatnya kecil hati.

Di kepalanya,
rumah berputar-putar
dalam dua wajah.
Yang satu:
tempat ia dulu disambut
tanpa syarat.
Yang lain:
ruang sunyi
dengan pertanyaan
yang membuat dadanya runtuh.

Ia takut.
Bukan pada amarah,
melainkan pada kecewa
yang tak diucapkan.
Takut melihat cinta
berubah menjadi tuntutan.

Anca tahu,
orang tuanya bekerja keras.
Ia tahu harapan itu besar.
Justru karena itulah
rasa malunya tak tertanggungkan.
Ia merasa datang
dengan tangan kosong
ke hadapan doa-doa
yang pernah dipanjatkan
atas namanya.

—000—

Di hutan,
ia menangis perlahan.
Air mata itu jatuh
tanpa saksi,
tanpa perlu dijelaskan.
Untuk pertama kalinya,
ia boleh rapuh
tanpa harus kuat.

Ia bertanya pada dirinya sendiri,
apakah gagal berarti selesai?
Atau hanya berarti
ia tersesat sebentar?

Anca tak menulis surat.
Tak meninggalkan pesan.
Ia hanya menunggu
sebuah pelukan hangat
yang membuatnya bisa pulang,
tanpa merasa dirinya sebuah kesalahan.

Jika kelak Anca kembali,
ia tak butuh persidangan.
Ia hanya ingin
pintu yang terbuka,
dan satu kalimat sederhana
yang tak menuntut apa pun

“Masuklah.
Kamu masih punya rumah
saat dunia sedang tak ramah.”

Sebab tak ada anak
yang memilih hutan
jika rumah
masih bisa menjadi
tempat bernaung
bagi hati
yang sedang runtuh.

CATATAN:
(1)https://kabarselebes.id/berita/2025/12/13/kisah-anca-pemuda-dari-banggai-yang-malu-pulang-karena-gagal-kuliah-di-bandung-dan-sembunyi-di-tebing-pangandaran/
(2)https://lampung.tribunnews.com/news/1197412/tertekan-dipaksa-kuliah-pemuda-nekat-tinggal-di-hutan-bertahan-hidup-makan-daun
(3)https://pijarpsikologi.org/blog/antara-tuntutan-dan-harapan-beban-emosional-seorang-anak-pertama

Previous Post

Puisi -Puisi Prihatin Alkhair Aljohore Untuk Aceh

Next Post

Marwah Republik atau Keselamatan Rakyat?Ketika Pemda Aceh Membuka Pintu Dunia di Saat Negara Menutupnya

Next Post
Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya - bdc3b917 6449 4e92 a955 ae998a8a6c07 1 | Puisi Essay | Potret Online

Marwah Republik atau Keselamatan Rakyat?Ketika Pemda Aceh Membuka Pintu Dunia di Saat Negara Menutupnya

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah