POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home POTRET Budaya

Secangkir Teh, Sejumput Doa

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 11, 2025
in POTRET Budaya, Puisi Essay
0
Secangkir Teh, Sejumput Doa - 5850002b ce9f 4b05 bf36 afc89cbc0d46 | POTRET Budaya | Potret Online

Ilustrasi

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (8)

Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Baca Juga
  • 01
    POTRET Budaya
    Rempang Air Mata Luka
    14 Sep 2023
  • Secangkir Teh, Sejumput Doa - 2025 05 08 06 17 33 | POTRET Budaya | Potret Online
    # Ironi
    Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
    08 Mei 2025

Di pinggir jalan yang ramai,
seorang ibu tua duduk di balik gerobak kayu,
menjerang air di atas tungku kecil,
menyeduh teh manis untuk mereka yang singgah.

Uap mengepul di udara pagi,
membaur dengan doa-doa lirih yang ia bisikkan,
bukan tentang kekayaan, bukan tentang kemewahan,
hanya rezeki cukup untuk bertahan,
dan harapan agar dagangannya laku sebelum petang.

Baca Juga
  • 01
    POTRET Budaya
    Nyanyian Malam Ini
    06 Okt 2021
  • Secangkir Teh, Sejumput Doa - 6a0be274 be1e 4269 b906 2de28843e686 | POTRET Budaya | Potret Online
    Apresiasi Sastra
    Tabrani Yunis dan Puisi yang Menghidupkan Ghirah Ibadah
    25 Mar 2024

Setiap pelanggan yang datang,
ia sambut dengan senyum yang tak pernah pudar,
meski di balik bibirnya yang ramah,
ada gigi yang mulai tanggal,
dan cerita hidup yang jarang terdengar.

Di seberang jalan, seorang anak kecil menunggu,
berseragam lusuh tapi tetap rapi,
matanya berbinar saat ibunya melambaikan tangan,
menyisihkan koin terakhir untuk ongkos sekolahnya.

Baca Juga
  • 01
    Aceh Besar
    Tim Pengabdian ISBI Aceh Latih Siswa SMK Menulis Cerpen
    24 Agu 2024
  • Secangkir Teh, Sejumput Doa - D225BFDD A43C 4CCF 9115 2439264DA4E4 | POTRET Budaya | Potret Online
    POTRET Budaya
    Namaku (Bukan) el_Sayem
    13 Mar 2025

Hari berlalu, matahari bergeser perlahan,
panas membakar aspal di depan gerobak,
tapi ibu tua itu tak beranjak,
ia tetap mengaduk gelas-gelas harapan,
mengukir senyum di antara keringat yang menetes.

Menjelang magrib, sisa teh dalam panci mulai dingin,
namun hatinya tetap hangat,
karena di setiap teguk yang orang lain minum,
ada sejumput doa yang ikut mengalir,
menyentuh langit, mengetuk pintu Tuhan.

Malam datang bersama adzan,
ia menutup gerobaknya dengan hati lapang,
sebuah langkah kecil ia ayunkan pulang,
menyusuri jalan yang sama,
dengan keyakinan esok akan membawa rezeki baru,
dan Ramadhan akan selalu memberi berkah.


Rumah Kayu Cepu, 8 Maret 2025

Tags: #Puisi
Previous Post

‎Kafe, Rumah Singgah Bagi Peradaban Manusia Modern

Next Post

Belajar dari  Sang Gagak

Next Post
Secangkir Teh, Sejumput Doa - 1000405008_11zon | POTRET Budaya | Potret Online

Belajar dari  Sang Gagak

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah