POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home POTRET Budaya

Secangkir Teh, Sejumput Doa

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 11, 2025
in POTRET Budaya, Puisi Essay
0
Secangkir Teh, Sejumput Doa - 5850002b ce9f 4b05 bf36 afc89cbc0d46 | POTRET Budaya | Potret Online

Ilustrasi

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (8)

Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Secangkir Teh, Sejumput Doa - d95a4606 f591 41a6 8d6d 12a8a214215c | POTRET Budaya | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
Untaian Puisi Moh. Ghufron Cholid
21 Jan 2025
Selengkapnya

Di pinggir jalan yang ramai,
seorang ibu tua duduk di balik gerobak kayu,
menjerang air di atas tungku kecil,
menyeduh teh manis untuk mereka yang singgah.

Uap mengepul di udara pagi,
membaur dengan doa-doa lirih yang ia bisikkan,
bukan tentang kekayaan, bukan tentang kemewahan,
hanya rezeki cukup untuk bertahan,
dan harapan agar dagangannya laku sebelum petang.

01
Baca Juga
BIngkai Remaja
Puisi –Puisi Yosefina Ure Pukan
05 Jun 2024
Selengkapnya

Setiap pelanggan yang datang,
ia sambut dengan senyum yang tak pernah pudar,
meski di balik bibirnya yang ramah,
ada gigi yang mulai tanggal,
dan cerita hidup yang jarang terdengar.

Di seberang jalan, seorang anak kecil menunggu,
berseragam lusuh tapi tetap rapi,
matanya berbinar saat ibunya melambaikan tangan,
menyisihkan koin terakhir untuk ongkos sekolahnya.

Secangkir Teh, Sejumput Doa - A6179470 486A 40F5 91FF 08C9F15AF245 | POTRET Budaya | Potret Online
Baca Juga
Literasi
Pelajaran Menjemur Pakaian
19 Apr 2022
Selengkapnya

Hari berlalu, matahari bergeser perlahan,
panas membakar aspal di depan gerobak,
tapi ibu tua itu tak beranjak,
ia tetap mengaduk gelas-gelas harapan,
mengukir senyum di antara keringat yang menetes.

Menjelang magrib, sisa teh dalam panci mulai dingin,
namun hatinya tetap hangat,
karena di setiap teguk yang orang lain minum,
ada sejumput doa yang ikut mengalir,
menyentuh langit, mengetuk pintu Tuhan.

Malam datang bersama adzan,
ia menutup gerobaknya dengan hati lapang,
sebuah langkah kecil ia ayunkan pulang,
menyusuri jalan yang sama,
dengan keyakinan esok akan membawa rezeki baru,
dan Ramadhan akan selalu memberi berkah.


Rumah Kayu Cepu, 8 Maret 2025

Tags: #Puisi
Previous Post

‎Kafe, Rumah Singgah Bagi Peradaban Manusia Modern

Next Post

Belajar dari  Sang Gagak

Next Post
Secangkir Teh, Sejumput Doa - 1000405008_11zon | POTRET Budaya | Potret Online

Belajar dari  Sang Gagak

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah