Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa

Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa - b3c55a5a c4fa 423a 8f73 4d783ea91058 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa

Oleh Rivaldi


Di negeri ini, Pancasila tidak pernah hilang—ia dibunuh pelan-pelan oleh negara yang mengaku menjaganya. Ia dipajang di ruang rapat, diteriakkan saat upacara, lalu dikencingi nilainya ketika bencana menghantam Aceh dan Sumatra.


Saat tanah retak, rumah hanyut, dan rakyat tidur di lumpur, negara justru sibuk menyusun kalimat normatif. Di mana Sila Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab itu? Jangan-jangan sila itu hanya berlaku untuk pejabat, bukan untuk rakyat yang kehilangan segalanya.


Kalau negara masih punya rasa malu, Sila Kedua seharusnya hadir dalam bentuk tindakan cepat, bukan pidato basi. Tapi yang datang justru kelambanan, pembiaran, dan sikap seolah bencana adalah urusan lokal, bukan tanggung jawab nasional.

Kemanusiaan di republik ini kalah cepat dari konferensi pers. Lalu Sila Kelima—Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia—itu sila atau lelucon nasional? Sebab faktanya, keadilan di negeri ini tidak dibagi rata. Ada daerah yang langsung ditangani, ada daerah yang dibiarkan berdarah sambil disuruh “sabar”. Aceh dan Sumatra lagi-lagi ditempatkan sebagai halaman belakang republik: diperas saat damai, diabaikan saat sekarat.


Negara terlalu sering tampil sok nasionalis, tapi panik ketika diminta benar-benar hadir. Pemerintah cepat saat memungut pajak, cepat saat mengatur rakyat, tapi lamban dan pengecut ketika harus melindungi rakyatnya sendiri.


Jangan ajari rakyat soal Pancasila jika pemerintah sendiri tak becus mengamalkannya. Jangan ceramah soal persatuan jika yang kalian lakukan hanya memperlebar jurang ketidakadilan. Jangan minta rakyat percaya negara jika di saat krisis, negara justru bersembunyi di balik prosedur bangsat bernama birokrasi.


Bencana membuka topeng republik ini:
bahwa Pancasila hanya hidup di baliho, bukan di kebijakan, bahwa kemanusiaan kalah oleh kepentingan politik dan bahwa keadilan sosial hanyalah janji kosong yang diulang tiap lima tahun.


Jika hari ini rakyat Aceh dan Sumatra merasa sendirian, itu bukan karena mereka anti-NKRI, tapi karena NKRI terlalu sering absen ketika mereka membutuhkan.


Ingat baik-baik:
Negara yang meninggalkan rakyat saat bencana, sedang menggali kubur kepercayaannya sendiri. Nah, jika kepercayaan itu mati, jangan salahkan rakyat—salahkan penguasa yang membunuh Pancasila dengan tangannya sendiri.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist