POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa

RivaldiOleh Rivaldi
December 21, 2025
Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rivaldi


Di negeri ini, Pancasila tidak pernah hilang—ia dibunuh pelan-pelan oleh negara yang mengaku menjaganya. Ia dipajang di ruang rapat, diteriakkan saat upacara, lalu dikencingi nilainya ketika bencana menghantam Aceh dan Sumatra.


Saat tanah retak, rumah hanyut, dan rakyat tidur di lumpur, negara justru sibuk menyusun kalimat normatif. Di mana Sila Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab itu? Jangan-jangan sila itu hanya berlaku untuk pejabat, bukan untuk rakyat yang kehilangan segalanya.


Kalau negara masih punya rasa malu, Sila Kedua seharusnya hadir dalam bentuk tindakan cepat, bukan pidato basi. Tapi yang datang justru kelambanan, pembiaran, dan sikap seolah bencana adalah urusan lokal, bukan tanggung jawab nasional.

Kemanusiaan di republik ini kalah cepat dari konferensi pers. Lalu Sila Kelima—Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia—itu sila atau lelucon nasional? Sebab faktanya, keadilan di negeri ini tidak dibagi rata. Ada daerah yang langsung ditangani, ada daerah yang dibiarkan berdarah sambil disuruh “sabar”. Aceh dan Sumatra lagi-lagi ditempatkan sebagai halaman belakang republik: diperas saat damai, diabaikan saat sekarat.

📚 Artikel Terkait

PANDEMI

Pilkada Aceh 2024; Masyarakat Siap Memberikan Suara, Adakah Jaminan Suara Mereka Terjaga?

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Ketika Jurnalis Muda Membongkar Topeng Syahwat Pemuka Agama


Negara terlalu sering tampil sok nasionalis, tapi panik ketika diminta benar-benar hadir. Pemerintah cepat saat memungut pajak, cepat saat mengatur rakyat, tapi lamban dan pengecut ketika harus melindungi rakyatnya sendiri.


Jangan ajari rakyat soal Pancasila jika pemerintah sendiri tak becus mengamalkannya. Jangan ceramah soal persatuan jika yang kalian lakukan hanya memperlebar jurang ketidakadilan. Jangan minta rakyat percaya negara jika di saat krisis, negara justru bersembunyi di balik prosedur bangsat bernama birokrasi.


Bencana membuka topeng republik ini:
bahwa Pancasila hanya hidup di baliho, bukan di kebijakan, bahwa kemanusiaan kalah oleh kepentingan politik dan bahwa keadilan sosial hanyalah janji kosong yang diulang tiap lima tahun.


Jika hari ini rakyat Aceh dan Sumatra merasa sendirian, itu bukan karena mereka anti-NKRI, tapi karena NKRI terlalu sering absen ketika mereka membutuhkan.


Ingat baik-baik:
Negara yang meninggalkan rakyat saat bencana, sedang menggali kubur kepercayaannya sendiri. Nah, jika kepercayaan itu mati, jangan salahkan rakyat—salahkan penguasa yang membunuh Pancasila dengan tangannya sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rivaldi

Rivaldi

Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara

Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00