• Latest
Dari Adam Smith ke Omnibus Law

Dari Adam Smith ke Omnibus Law

Desember 17, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Adam Smith ke Omnibus Law

: Oligarki yang Menyandera Negara lewat Bisnis Tambang dan Perkebunan

Redaksi by Redaksi
Desember 17, 2025
in Artikel, Ekonomi Syariah
Reading Time: 5 mins read
0
Dari Adam Smith ke Omnibus Law
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Sobirin Malian

Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan

Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776) tak hanya merintis ekonomi pasar bebas via (invisible hands) “tangan tak terlihat”, tetapi menusuk tajam intervensi negara yang busuk: monopoli didukung pemerintah, tarif proteksionis, hak istimewa dagang yang lahirkan rente buat segelintir “merchants and master manufacturers”—oligarki licik yang melobi birokrat demi tameng dari kompetisi ganas. Negara? Berakhir “tersandera” kepentingan sempit ini, menghancurkan inovasi, merusak efisiensi pasar, dan menghilangkan kesejahteraan rakyat yang kemudian, justru menjadi korban.​

Fenomena ini di Indonesia? Bukan hipotetis, tapi kenyataan brutal sehari-hari, terutama bisnis tambang dan perkebunan yang jadi poster child peringatan Smith.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Mengkhawatirkan? Ya, sangat fatal! Negara tak lagi netral, telah berubah menjadi antek oligarki. Abuse of power dilakukan terang-terangan: fasilitator lahan dirampas, hutan dibabat, laut diracuni demi cuan konglomerat dekat istana.​

Kritik Smith: Kronisme yang Menggerogoti Fondasi

Buku IV Smith membongkar East India Company: raksasa bisnis yang dipelihara negara malah jadi monster gemuk, gagal bersaing karena dilindungi dari pasar bebas, meremukkan produktivitas, dan membebani konsumen. Insentif oligarki struktural telanjang: akses kekuasaan eksklusif desain regulasi anti-kompetitif, ubah negara dari wasit adil jadi bandar judi rente. Bukan kritik ekonomi semata, tapi bom politik: kebijakan busuk meremukkan akar kemakmuran nasional.

Hukum jadi alat: negara bukan penjaga, tapi jongos. Kebijakan perkebunan? Banjir bandang, erosi ganas, lahan mandul—musibah lingkungan lahir dari sawit rakus. Tambang? Laut tercemar beracun, terumbu karang mati suram, ikan punah, hayati musnah. Dampak sosial? Penyakit menular meledak, konflik berdarah antarwarga, nilai adat hancur digilas excavator. Abuse of power ini bukan kecelakaan—itu desain oligarki ala Smith! Sadarkah kita, atau elit negara telah terlena?​

Paralel Mematikan: Omnibus Law sebagai Pintu Neraka Oligarki

Peringatan Smith “substansinya” ada dalam UU Cipta Kerja (Omnibus Law) 2020: OSS-RBA (Online Single Submission – Risk Based Approach) memotong birokrasi menjadi serba kilat, ketenagakerjaan lentur, minerba longgar, kawasan ekonomi bebas hambatan (PIK1, PIK2)—deregulasi kinclong selaras visi Smith minim red tape demi kompetisi brutal dan kemudahan usaha. Tapi pengesahan “kucing-kucingan” penuh muslihat tanpa partisipasi rakyat? Bom waktu!

Pasal-pasal licik ciptakan monopoli fresh buat konglomerat istana—echo kronisme Orde Baru, pengusaha kuasai DPRD dan kepala daerah demi proyek curi-curi. Simbiosis bisnis-politik? Dari mutualisme jadi predator asimetris: negara budak investasi elite, UMKM remuk, buruh diperas, daerah lumpuh otonomi. Yahya A. Muhaimin dalam bukunya tentang kaitan “Politik dan Bisnis” punya asumsi serupa dengan Adam Smith: jika kaum pemilik modal kuat dibiarkan masuk dan mendikte kekuasaan, negara pastitersandera—kebijakan tak lagi regulasi, tapi kemudahan semacam  “karpet merah” bagi oligarki.

Kritik Smith: Kronisme yang Menggerogoti Fondasi

Buku IV Smith membongkar East India Company: raksasa bisnis yang dipelihara negara malah jadi monster gemuk, gagal bersaing karena dilindungi pasar bebas, meremukkan produktivitas, dan bebankan konsumen bodoh. Insentif oligarki struktural telanjang: akses kekuasaan eksklusif desain regulasi anti-kompetitif, ubah negara dari wasit adil jadi bandar judi rente. Bukan mengkritik soal ekonomi an sich, tetapi menjadi bom politik: kebijakan busuk telah meremukkan akar kemakmuran nasional.

Fenomena ini menggambarkan, hukum telah menjadi alat: negara bukan penjaga, tapi jongos. Kebijakan perkebunan? Banjir bandang, erosi ganas, lahan mandul—musibah lingkungan yang lahir dari sawit rakus. Tambang? Laut tercemar beracun, terumbu karang mati suram, ikan punah, hayati musnah. Dampak sosial? Penyakit menular meledak, konflik berdarah antarwarga, nilai adat hancur lebur digilas excavator. Abuse of power ini bukan kecelakaan—itu desain oligarki ala Smith! Sadarkah kita atau bisa jadi elit negara telah terlena !!

Paralel Mematikan: Omnibus Law sebagai Pintu Neraka Oligarki

Peringatan Smith ada dalah ruh ganas di UU Cipta Kerja (Omnibus Law) 2020: OSS-RBA potong birokrasi kilat, ketenagakerjaan lentur, minerba longgar, kawasan ekonomi bebas hambatan (PIK1, PIK 2)—deregulasi kinclong selaras visi Smith minim red tape demi kompetisi brutal dan kemudahan usaha. Tapi, pengesahan “kucing-kucingan” penuh muslihat tanpa partisipasi rakyat? Bom waktu! 

Pasal-pasal licik telah menciptakan monopoli fresh buat konglomerat istana—echo kronisme Orde Baru, pengusaha kuasai DPRD dan kepala daerah demi proyek curi-curi. Simbiosis bisnis-politik? Dari mutualisme jadi predator asimetris: negara budak investasi elite, UMKM remuk, buruh diperas, akhirnya daerah lumpuh secara otonomi.

Implikasi Brutal dan Solusi Smith yang Tak Terkalahkan

Omnibus Law bisa jadi mesin growth kalau pro-kompetisi tulen ala Smith: negara batasi diri lindungi properti, hukum tajam, infrastruktur solid. Tapi realita? Lobi gelap ubah deregulasi jadi fasilitator oligarki, siklus berulang: dimana kekuasaan memudahkan bisnis,sangat pragmatis, akhirnya bisnis kuasai kekuasaan. Regulasi dan kebijakan menjadi karpet merah bagi oligark.

ADVERTISEMENT

Solusi ala Adam Smith sejatinya tetap relevan: terapkan checks and balances kuat—transparansi penuh soal lobi bisnis (jangan kucing-kucingan), perkuatlembaga anti-korupsi (seperti KPK) atau kejaksaan yang benar-benar tegas, dan aturan yang adil tanpa pilih kasih. Indonesia perlu reformasi besar-besaran: gabungkan ekonomi pasar bebas dengan pengawasan rakyat yang ketat, supremasi hukum, agar tak ulang kesalahan masa lalu sebelum negara benar-benar dikuasai oligarki.

Implikasi dan Solusi Berbasis Smith

Secara analitis, Omnibus Law bisa mendorong pertumbuhan jika tetap pro-kompetisi seperti ajaran Smith—pemerintah terbatas pada perlindungan properti, hukum tegas dan adil, serta infrastruktur publik. Namun, risiko oligarki muncul saat deregulasi difasilitasi lobi terselubung, memperkuat pola di mana kekuasaan memuluskan bisnis tapi akhirnya bisnis mengendalikan kekuasaan. Solusi Smith masih relevan: terapkanchecks and balances kuat melalui transparansi lobi, penegakan anti-korupsi, dan regulasi netral untuk hindari “penyanderaan” negara. 

Di Indonesia, ini berarti reformasi yang mengintegrasikan liberalisme ekonomi dengan pengawasan demokratis, mencegah pengulangan jebakan historis  sebelum negara benar-benar jadi tahanan oligarki. Waktunya melakukan reformasi atau revitalisasi ulang sekarang juga, atau kita abadi jadi korban desain elite.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Kampus Global atau Kampus Relevan?

Kampus Global atau Kampus Relevan?

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com