Dengarkan Artikel
Oleh Alya Azzahra
Siswi Kelas 3 SMP IT, Ibnu Mas Ud
Namaku Alya Azzahra, siswi kelas 3 SMP IT Ibnu Masud. Seharusnya hari-hariku di pesantren berjalan seperti biasa belajar, menghafal, tertawa bersama teman-teman. Namun tanggal 26 November 2025 menjadi garis baru dalam hidupku.
Garis yang memisahkan hari-hari aman dengan dunia yang tiba-tiba retak.
Siang itu ibu datang tergesa-gesa ke pesantren. “Alya, kita harus pulang,” katanya pelan. Wajahnya pucat, matanya bengkak seperti habis menangis.
“Ada apa, Bu?”
“Pidie Jaya… banjir besar. Kampung halaman kita habis… keluarga kita terjebak.”
Dunia seperti berhenti sesaat. Banjir bukan hal baru di Aceh, tapi ketika ibu berkata habis, kata itu menancap seperti duri di dadaku.
Dalam perjalanan pulang, ibu hanya diam. Tangannya gemetar di setir, tapi ia memaksa terlihat kuat. Aku tahu di balik diamnya itu ada badai yang ia tahan.
Namun perjalanan itu tidak seperti biasanya. Jalanan menuju Pidie Jaya terputus di banyak titik. Mobil dan motor tertimbun lumpur yang datang bersama banjir bandang.
Hari pertama, kami tidak bisa melintas sama sekali. Lumpur menutup seluruh badan jalan tebal, lengket, dan keras seperti semen basah yang menelan apa pun yang dilewatinya. Orang-orang hanya berdiridi pinggir jalan, memandang puing-puing kendaraan yang terbenam hanya terlihat atap mobil dan bahkan ada yang tidak terlihat lagi jejaknya.
Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi di depan sana, apalagi bagaimana keadaan keluarga ibu di kampung yang tak bisa dihubungi karena aliran listrik dan internet putus total.
Hari kedua pun tidak banyak berubah. Suara mesin alat berat terdengar dari kejauhan, tapi lumpur masih terlalu dalam untuk dilewati. Ibu mondar-mandir gelisah, menatap layar ponsel yang mati dan jalanan yang tak bergerak. Malam itu, kami tidur di dalam mobil dengan hati gelisah.
Baru pada hari ketiga kami bisa bergerak kembali. Itupun bukan karena jalan sudah baik, melainkan karena semua orang memilih memaksa maju. Mobil hanya bisa berjalan pelan, kadang harus berhenti karena roda tergelincir. Ada bagian jalan yang tak bisa dilewati kendaraan sama sekali, sehingga kami turun dan berjalan kaki. Setiap langkah seperti terbenam dalam lumpur pekat yang menyedot kaki hingga betis. Sepatu kami tenggelam, beberapa tertinggal, dan kami berjalan dengan kaki basah bercampur lumpur.
Meski berat, kami terus melangkah. Di pikiran kami hanya satu: memastikan keluarga ibu baik-baik saja. Saat akhirnya memasuki wilayah Kecamatan Meureudu, pemandangan yang terbentang membuat napasku tercekat.Kecamatan Meureudu itu seperti tenggelam. Lumpur menutupi jalan sampai setinggi lutut, rumah-rumah rusak, dan pepohonan tumbang saling bertumpukan. Udara penuh bau lumpur, kayu basah, dan sesuatu yang membuat dada terasa sesak.
Sesampainya di kampung, aku membeku.
Rumah-rumah yang dulu penuh tawa kini tinggal rangka.Lumpur setinggi dua meter mengubur semuanya. Setelah air surut, hanya atap-atap rumah yang tersisa, mengintip dari kubangan lumpur seperti saksi bisu bencana yang tak terbayangkan.
Ibu menutup mulutnya, berusaha menahan isak. “Rumah Nenek…” gumamnya lirih.
Kami segera menuju tenda pengungsian. Di sana, pemandangan yang tak pernah ingin kulihat terbentang: wajah-wajah letih, dingin, dan kelaparan.
Di antara mereka, aku melihat Sepupu Ibu, Bunda dan anak-anaknya wajahnya pucat penuh tanah kering di pipi.
“Bunda…” ia memeluk ibu erat, menangis tanpa suara.
Dengan suara bergetar, Bunda bercerita.
📚 Artikel Terkait
Saat banjir besar datang, air membawa longsor dari bukit.Lumpur menyerbu cepat seperti hewan buas. Mereka berlari, membawa pakaian seadanya. Namun banyak terjebak karena jalan tertutup patahan pohon dan serpihan rumah yang terbawa arus banjir besar.
“Kami bertahan di atas loteng rumah tetangga. Dua hari… dua hari tanpa makan, tanpa minum cukup,” katanya. “Anak-anak menangis, Bunda… tapi tidak ada yang bisa kami beri. Kami kira kami akan mati.”
Aku menggenggam tangan ibu. Cerita itu menghantam hatiku seperti gelombang. Ibu menangis terisak, mencium kepala sepupunya.
“Kami lihat air makin tinggi… bau tanah, kayu, bangkai semuanya bercampur. Kami hanya bisa menunggu. Sampai akhirnya boat evakuasi datang.”
Aku tak bisa membayangkan dua hari itu. Dua hari tanpa makanan. Dua hari di tengah gelap, dengan suara deras air dan ancaman longsor yang bisa datang sewaktu-waktu. Dua hari mempertahankan hidup dalam ketakutan.
Pengungsian menjadi rumah sementara. Namun rumah yang satu ini dingin, ramai, tapi sekaligus sepi. Orang-orang tidur berdesakan hanya dengan tikar tipis.
Makanan terbatas. Dalam sehari, kadang hanya ada roti atau miei nstan yang dibagi untuk banyak orang. Anak-anak menangis kelaparan, orang tua gelisah karena obat-obatan sangat sedikit.Banyak lansia yang batuk keras akibat lumpur yang mengering menjadi debu, beterbangan dan masuk ke hidung serta paru-paru.
ISPA menyerang sebagian besar pengungsi. Termasuk adik kecil anak sepupu ibu yang batuk tak berhenti.
“Dada sakit… sesak…” keluhnya.
Melihatnya, hatiku serasa diremas. Ia yang dulu ceria berlari di halaman saat kami pulang kampung, kini terkulai lemah di pangkuan ibunya.
Kami berjalan ke rumah nenek yang masih terkubur. Lumpur sudah mulai mengering, berubah menjadi tanah keras yang retak-retak. Debunya terangkat oleh angin, membuatku batuk-batuk.
Saat mengangkat sebuah kayu besar dari reruntuhan, ibu tiba-tiba menunduk, memungut sesuatu. Sebuah tas kecil milik nenek kotor, basah, tapi masih utuh. Di dalamnya ada tasbih, mushaf kecil, dan foto ibu waktu kecil.
Ibu menangis lebih keras. “Ini satu-satunya yang tersisa…”
Aku memeluk ibu dari samping.
Aku sendiri menemukan piring kecil bermotif bunga yang biasa digunakan nenek untuk menyajikan kue. Retak, tapi tidak pecah.Aku membersihkannya perlahan, menatap motifnya dengan perasaan campur aduk.
Barang kecil ini adalah pengingat bahwa rumah yang hilang bukan sekadar bangunan, tapi tempat kenangan bertahun-tahun.
Malam itu, tenda pengungsian semakin sesak. Angin malam menusuk, dan anak-anak mulai menangis lagi. Para relawan sibuk mengatur distribusi makanan, tapi jumlahnya tak cukup.
Aku duduk di samping ibu sambil mengoles minyak kayu putih ke punggung sepupu kecilku yang menggigil.
“Kenapa semua ini harus terjadi, Bu?” tanyaku lirih.
Ibu menatapku, menahan air mata.
“Musibah bukan untuk ditanya kenapa, sayang. Tapi untuk dihadapi. Dengan sabar… dan bersama-sama.”
Tiba-tiba dari luar terdengar tangis keras. Seorang ibu berteriak memanggil petugas karena anaknya sesak napas. Debu lumpur terlalu pekat malam itu. Petugas berlarian membawa inhaler terakhir.
Suasana hening. Hanya doa yang terdengar di hati masing-masing.
Aku menggenggam tangan ibu semakin erat.
Menjelang tengah malam, aku keluar tenda sebentar. Langit Aceh bertabur bintang. Indah… namun terasa pahit.
Aku menatap kampung kami atau apa yang tersisa darinya. Rumah-rumah terkubur, jalanan retak, pepohonan tumbang.
Namun di tengah kehancuran itu, ada suara-suara yang tetap hidup: suara doa, suara kebersamaan, suara tekad untuk bangkit.
Aku menutup mata dan berbisik,
“Bumi Aceh lon sayang… meski banjir menghapus jejak, kami akan membangun kembali semuanya.”
Aku tahu perjalanan ini panjang. Setelah lumpur dibersihkan, akan ada air mata. Setelah rumah didirikan kembali akan ada trauma yang harus diobati. Tapi Aceh telah melalui banyak luka tsunami, gempa, konflik, badai namun selalu bangkit.
Dan kini, di tengah malam yang dingin ini, aku percaya kampung kami pun akan bangkit. Bukan karena rumah-rumahnya kuat. Tapi karena orang-orangnya kuat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






