POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kerangka Gugatan Hukum terhadap Banjir Sumatra: Sebuah Pendekatan Akademis

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
December 9, 2025
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Banjir yang melanda Sumatra bukan sekadar fenomena alam yang terjadi secara kebetulan, melainkan sebuah bencana yang sarat dengan dimensi politik dan epistemik. Gugatan warga negara (citizen lawsuit) terhadap Presiden dan pejabat pusat yang berwenang dalam kebijakan lingkungan dan penanganan bencana harus dipahami dalam konteks ini. Gugatan tersebut bukan hanya menuntut pertanggungjawaban hukum, tetapi juga menantang legitimasi moral dan epistemik negara yang selama ini mengelola penderitaan rakyat dengan cara yang problematik.

Posisi Gugatan Warga Negara
Gugatan warga negara merupakan mekanisme kontrol sosial yang diakui secara hukum untuk mengawasi dan menuntut kebijakan publik yang merugikan kepentingan masyarakat. Dalam konteks banjir Sumatra, objek gugatan adalah keputusan politik dan kebijakan lingkungan yang anti-sains, yang secara langsung berkontribusi pada terjadinya bencana.

Dengan demikian, banjir tidak lagi dipandang sebagai bencana alam murni, melainkan sebagai bencana politik yang dihasilkan oleh kebijakan yang salah arah. Tergugat dalam gugatan ini adalah Presiden, Menteri Kehutanan, Menteri Keuangan, dan Kepala BNPB, yang memiliki kewenangan langsung dalam penetapan kebijakan dan penanganan bencana.

Dimensi Antropologis: Teori Ann Laura Stoler
Ann Laura Stoler menawarkan kerangka analisis yang sangat relevan untuk memahami bagaimana negara mengelola penderitaan rakyat melalui politik afektif. Dalam kasus banjir Sumatra, negara membingkai bencana tersebut sebagai fenomena “alamiah” untuk menutupi kesalahan kebijakan yang sebenarnya bersifat struktural dan disengaja. Konsep affective states menjelaskan bagaimana penderitaan rakyat dikelola dan dimanipulasi agar tetap dalam narasi yang menguntungkan negara.


Lebih jauh, konsep epistemic violence menjadi kunci untuk mengungkap bagaimana pengetahuan ilmiah tentang ekologi dan tata ruang disingkirkan demi kepentingan oligarki dan kekuasaan sentral. Negara melakukan kekerasan epistemik dengan mengabaikan sains dan pengetahuan lokal, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga menindas suara-suara yang sah.


Konsep imperial debris menegaskan bahwa pola pembangunan sentralistik dan ekstraktif yang menyebabkan bencana ini adalah warisan kolonial yang terus hidup. Negara pusat mengulang pola kolonial dengan mengabaikan pengetahuan lokal dan ekologi daerah, memperkuat dominasi dan marginalisasi.


Dengan demikian, gugatan ini tidak hanya menuntut keadilan lingkungan, tetapi juga menantang kekerasan epistemik dan warisan kolonial yang melekat dalam kebijakan negara.

📚 Artikel Terkait

MK Memutuskan Wamen Dilarang Rangkap Jabatan

Korupsi Layak Masuk Olimpiade

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Duka Lansia Janda Sektim

Dimensi Antropologis: Teori Danilyn

Rutherford dan Paradoks Leviathan
Danilyn Rutherford menggunakan metafora Leviathan untuk menggambarkan negara sebagai raksasa pelindung yang paradoksal. Negara ingin tampil sebagai pelindung rakyat, namun kenyataannya menunjukkan rapuhnya kedaulatan ketika negara gagal melindungi rakyatnya sendiri. Dalam konteks banjir Sumatra, negara membentuk citra dirinya sebagai pelindung melalui narasi bencana alam, tetapi kebijakan yang diambil justru menjadi penyebab penderitaan.


Paradoks Leviathan ini memperlihatkan bahwa negara tidak hanya gagal melindungi, tetapi juga menjadi sumber penderitaan. Gugatan warga negara menjadi alat untuk membongkar citra palsu ini dan menantang legitimasi negara.


Di Aceh, misalnya, Leviathan hadir dalam bentuk kebijakan pusat yang mengabaikan otonomi daerah dan ekologi lokal. Gugatan warga negara menjadi cara untuk menantang kekuasaan pusat yang paradoksal dan rapuh ini.

Argumentasi Hukum-Antropologis


Secara hukum, negara telah melanggar hak warga negara atas lingkungan hidup yang sehat sebagaimana diatur dalam UU Lingkungan Hidup dan Pasal 28H UUD 1945. Pelanggaran ini bukan hanya soal legalitas, tetapi juga soal legitimasi moral dan epistemik negara.


Dari perspektif antropologi, negara melakukan epistemic violence dengan menyingkirkan sains dan pengetahuan lokal, serta memperlihatkan paradoks Leviathan yang gagal mengelola penderitaan rakyat. Kombinasi antara argumentasi hukum dan antropologis ini memperkuat posisi gugatan sebagai perlawanan yang tidak hanya bersifat legal, tetapi juga moral dan epistemik.
Akademisi publik, khususnya antropolog, memiliki legitimasi untuk menjadi penjaga pengetahuan dan suara publik dalam gugatan ini, karena mereka membela sains, ekologi, dan hak warga negara.

Kesimpulan Strategis


Gugatan citizen lawsuit terhadap kebijakan banjir Sumatra dapat diposisikan sebagai perlawanan epistemik terhadap kebijakan anti-sains dan warisan kolonial yang masih hidup. Teori Ann Laura Stoler memperkuat argumen bahwa banjir adalah hasil dari kekerasan epistemik dan pola pembangunan kolonial yang berkelanjutan. Sementara itu, teori Danilyn Rutherford menegaskan bahwa negara sebagai Leviathan adalah entitas yang rapuh dan paradoksal, yang harus ditantang melalui mekanisme hukum.


Dengan demikian, akademisi publik memiliki legitimasi moral dan epistemik untuk menggugat negara, membela sains, ekologi, dan hak warga negara atas lingkungan hidup yang sehat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Krisis Ekologi Merambat Menjadi Krisis Ekonomi dan Krisis Sosial

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00