POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Petro-Euro dan Filsafat Eksistensialisme

RedaksiOleh Redaksi
December 7, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

“Absurditas lahir dari konfrontasi antara kebutuhan manusia dan kesunyian dunia yang tidak masuk akal.” — Albert Camus(1913-1960), The Myth of Sysiphus(1942; Kakatua 2021).

Paris, kota huate-couture — pernah saya kunjungi 2011 lampau — selalu menjadi panggung ganda: kota seni yang melahirkan impresi estetika sekaligus pusat politik energi yang menyembunyikan wajah keras geopolitik.

Denny JA dalam artikelnya: Paris, Seni dan Minyak(Desember 2025) menyingkap paradoks itu, bagaimana keindahan seni yang lahir dari kota cahaya berkelindan dengan kepentingan minyak dan kapital.

Kritik ini menemukan gema baru bila dibandingkan dengan analisis Revasha Putri Kayana(20) dalam Realisme Struktural Ofensif: Implikasi Kehadiran Petroyuan Terhadap Dominasi Petrodolar(2023), yang menyoroti strategi Tiongkok melalui petroyuan sebagai tantangan terhadap dominasi dolar Amerika.

Jika Revasha menekankan logika realisme ofensif dalam perebutan mata uang energi, maka konteks Prancis menghadirkan wajah lain: petro-euro yang berakar pada sejarah kolonialisme energi dan seni sebagai legitimasi simbolik.

Mengacu pada Douglas A. Yates(61), dalam The French Oil Industry and the Corps des Mines in Africa(2009), menegaskan bahwa Corps des Mines—kelompok elit teknokrat Prancis—menjadi penghubung vital antara negara dan korporasi minyak seperti TotalEnergies.

Melalui mereka, Prancis mempertahankan pengaruh di Afrika dengan kontrol atas minyak, sebuah bentuk neo-kolonialisme energi.

Yates menggunakan teori rentier state untuk menjelaskan bagaimana ketergantungan negara-negara Afrika pada pendapatan minyak melahirkan pola korupsi, ketidakstabilan, dan ketergantungan pada kekuatan eksternal.

Minyak, dalam kerangka ini, bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen politik luar negeri yang memperkuat posisi global Prancis.

Petro-euro, dengan demikian, bukan hanya mata uang transaksi, melainkan simbol kekuasaan yang berakar pada sejarah kolonial dan jaringan teknokratik. Namun, Prancis bukan hanya negeri minyak dan teknokrat.

Konklusi dipetik dari Yates, associate professor ilmu politik di Université de Cergy-Pontoise, Prancis, berikut ini:

“Kerakusan yang menjarah bumi dan kehausan yang tak pernah terpuaskan, menjadikan minyak bukan sekadar energi, melainkan absurditas eksistensial: sistem yang terus berulang, menjerat bangsa dalam lingkaran ketergantungan, seperti Sisyphus yang tak pernah selesai.“

Selain itu, Yates juga tumbuh dari tanah kelahiran filsafat eksistensialisme yang digemakan oleh Jean-Paul Sartre(1905-1980) dalam Being and Nothingness(1943) dan Albert Camus(1913-1960) dalam The Myth of Sisyphus(1942).

Kedua, filsuf kondang eksistensialisme ini, meski beda perspektif, Camus penerima Nobel Sastra termuda(44 tahun) pada 1957; Sartre malah menolak Nobel Sastra pada 1964.

Eksistensialisme menyoroti absurditas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia dalam dunia yang penuh keterlemparan. Aufgeworfen, dalam bahasa eksistensialis Heidegger.

Jika minyak menjadi instrumen kekuasaan, eksistensialisme menghadirkan kritik reflektif atas absurditas sistem itu.

Sartre menekankan kebebasan individu yang selalu terikat pada tanggung jawab, sementara Camus menyoroti absurditas hidup yang menuntut manusia untuk tetap berjuang meski tanpa makna final.

📚 Artikel Terkait

AI: Inovasi yang Menantang Hakikat Pemikiran Kritis

Prahara Rumah Tangga Akibat Putusan MK

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Rangkaian Puisi Alkhair Aljohore

Dalam konteks petro-euro, filsafat ini menjadi cermin: bagaimana bangsa dan individu terjebak dalam struktur global energi, namun tetap dituntut untuk memilih, bertindak, dan menanggung konsekuensi.

Perbandingan dengan artikel Revasha tentang petroyuan memperlihatkan dua wajah realisme struktural ofensif.

Di satu sisi, Tiongkok dengan petroyuan menantang dominasi petrodolar melalui strategi ofensif yang jelas. Boleh kebijakan ini yang juga dijajali Indonesia di tengah kompetisi global energi?

Di sisi lain, Prancis dengan petro-euro mempertahankan pengaruhnya melalui jaringan teknokratik dan korporasi minyak, sambil menampilkan wajah seni dan filsafat sebagai legitimasi budaya.

Seni Paris dan filsafat eksistensialisme bukan sekadar ornamen, melainkan kritik yang menyingkap absurditas sistem energi global.

Jika petroyuan adalah strategi ofensif, maka eksistensialisme adalah refleksi kritis atas absurditas kekuasaan itu.

Petro-euro dan filsafat eksistensialisme bertemu dalam satu titik: keduanya mengungkapkan bahwa minyak bukan hanya soal ekonomi, melainkan soal makna, kebebasan, dan absurditas dalam panggung sejarah manusia.

Namun, di lain hal, paradoks petroglobal yang digambarkan Douglas A. Yates—antara kerakusan dan kehausan minyak sebagai instrumen neo‑kolonialisme energi Prancis—dapat diperluas untuk membandingkannya dengan strategi petroyuan Tiongkok sebagaimana dibahas Revasha Putri Kayana.

Dalam konteks Prancis, Yates menekankan bagaimana Corps des Mines dan TotalEnergies mempertahankan pengaruh melalui kontrol atas minyak Afrika.

Kerakusan muncul dalam bentuk eksploitasi sumber daya, sementara kehausan tampak dalam ketergantungan berulang terhadap minyak sebagai alat legitimasi politik luar negeri.

Paradoks ini adalah siklus tanpa akhir: semakin banyak minyak dieksploitasi, semakin besar pula ketergantungan dan absurditas yang tercipta.

Sartre dan Camus memberi bingkai filosofis: kebebasan yang terjerat struktur, dan absurditas yang menuntut pemberontakan reflektif.

Strategi petroyuan Tiongkok, sebagaimana ditulis Revasha, menghadirkan wajah lain dari paradoks ini.

Petroyuan bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan strategi ofensif untuk menantang dominasi petrodolar.

Di sini, kerakusan tampak sebagai ambisi Tiongkok untuk memperluas pengaruh global, sementara kehausan muncul sebagai kebutuhan dunia akan alternatif dari sistem dolar yang mapan.

Paradoksnya: petroyuan menjanjikan kebebasan dari dominasi dolar, namun sekaligus menciptakan ketergantungan baru pada yuan dan struktur ekonomi Tiongkok.

Jika petro‑euro Prancis adalah paradoks kolonial yang berulang di Afrika, maka petroyuan Tiongkok adalah paradoks ofensif yang berulang di panggung global.

Keduanya menunjukkan bahwa minyak dan mata uang energi bukan hanya soal ekonomi, melainkan absurditas eksistensial: sistem yang terus mencari legitimasi, namun tak pernah mencapai kepuasan.

Sartre akan menyebutnya sebagai kebebasan yang selalu terikat pada tanggung jawab dalam struktur yang menjerat.

Sementara, Camus akan melihatnya sebagai batu Sisyphus yang terus didorong: petroglobal dan petroyuan sama‑sama mengulang absurditas itu.

Dengan demikian, perbandingan ini menyingkap bahwa baik petro‑euro maupun petroyuan adalah wajah berbeda dari paradoks yang sama.

Satunya, kerakusan dan kehausan energi global, yang dalam kacamata eksistensialisme bukan hanya strategi politik. Lainnya, menjangkau refleksi atas absurditas manusia dalam sejarah.

Dan Indonesia, lewat Komut Pertamina Hulu Energi(PHE), sedang menjajali petro-rupiah di dalam labirin birokrasi minyak global yang eksistensialis sekaligus sedikit absurd.

coversongs: Serge Gainsbourg(1928-1991). Jane Birkin(1946-2023). Duet kontroversial mereka “Je t’aime… moi non plus” pertama kali dirilis pada 1969.

Lagu ini menjadi simbol perpaduan antara provokasi seni Gainsbourg dan pesona Birkin, sekaligus menandai era baru musik pop Prancis yang berani menabrak tabu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Air yang Mengambil Jalan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00