Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Absurditas lahir dari konfrontasi antara kebutuhan manusia dan kesunyian dunia yang tidak masuk akal.” — Albert Camus(1913-1960), The Myth of Sysiphus(1942; Kakatua 2021).
Paris, kota huate-couture — pernah saya kunjungi 2011 lampau — selalu menjadi panggung ganda: kota seni yang melahirkan impresi estetika sekaligus pusat politik energi yang menyembunyikan wajah keras geopolitik.
Denny JA dalam artikelnya: Paris, Seni dan Minyak(Desember 2025) menyingkap paradoks itu, bagaimana keindahan seni yang lahir dari kota cahaya berkelindan dengan kepentingan minyak dan kapital.
Kritik ini menemukan gema baru bila dibandingkan dengan analisis Revasha Putri Kayana(20) dalam Realisme Struktural Ofensif: Implikasi Kehadiran Petroyuan Terhadap Dominasi Petrodolar(2023), yang menyoroti strategi Tiongkok melalui petroyuan sebagai tantangan terhadap dominasi dolar Amerika.
Jika Revasha menekankan logika realisme ofensif dalam perebutan mata uang energi, maka konteks Prancis menghadirkan wajah lain: petro-euro yang berakar pada sejarah kolonialisme energi dan seni sebagai legitimasi simbolik.
Mengacu pada Douglas A. Yates(61), dalam The French Oil Industry and the Corps des Mines in Africa(2009), menegaskan bahwa Corps des Mines—kelompok elit teknokrat Prancis—menjadi penghubung vital antara negara dan korporasi minyak seperti TotalEnergies.
Melalui mereka, Prancis mempertahankan pengaruh di Afrika dengan kontrol atas minyak, sebuah bentuk neo-kolonialisme energi.
Yates menggunakan teori rentier state untuk menjelaskan bagaimana ketergantungan negara-negara Afrika pada pendapatan minyak melahirkan pola korupsi, ketidakstabilan, dan ketergantungan pada kekuatan eksternal.
Minyak, dalam kerangka ini, bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen politik luar negeri yang memperkuat posisi global Prancis.
Petro-euro, dengan demikian, bukan hanya mata uang transaksi, melainkan simbol kekuasaan yang berakar pada sejarah kolonial dan jaringan teknokratik. Namun, Prancis bukan hanya negeri minyak dan teknokrat.
Konklusi dipetik dari Yates, associate professor ilmu politik di Université de Cergy-Pontoise, Prancis, berikut ini:
“Kerakusan yang menjarah bumi dan kehausan yang tak pernah terpuaskan, menjadikan minyak bukan sekadar energi, melainkan absurditas eksistensial: sistem yang terus berulang, menjerat bangsa dalam lingkaran ketergantungan, seperti Sisyphus yang tak pernah selesai.“
Selain itu, Yates juga tumbuh dari tanah kelahiran filsafat eksistensialisme yang digemakan oleh Jean-Paul Sartre(1905-1980) dalam Being and Nothingness(1943) dan Albert Camus(1913-1960) dalam The Myth of Sisyphus(1942).
Kedua, filsuf kondang eksistensialisme ini, meski beda perspektif, Camus penerima Nobel Sastra termuda(44 tahun) pada 1957; Sartre malah menolak Nobel Sastra pada 1964.
Eksistensialisme menyoroti absurditas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia dalam dunia yang penuh keterlemparan. Aufgeworfen, dalam bahasa eksistensialis Heidegger.
Jika minyak menjadi instrumen kekuasaan, eksistensialisme menghadirkan kritik reflektif atas absurditas sistem itu.
Sartre menekankan kebebasan individu yang selalu terikat pada tanggung jawab, sementara Camus menyoroti absurditas hidup yang menuntut manusia untuk tetap berjuang meski tanpa makna final.
📚 Artikel Terkait
Dalam konteks petro-euro, filsafat ini menjadi cermin: bagaimana bangsa dan individu terjebak dalam struktur global energi, namun tetap dituntut untuk memilih, bertindak, dan menanggung konsekuensi.
Perbandingan dengan artikel Revasha tentang petroyuan memperlihatkan dua wajah realisme struktural ofensif.
Di satu sisi, Tiongkok dengan petroyuan menantang dominasi petrodolar melalui strategi ofensif yang jelas. Boleh kebijakan ini yang juga dijajali Indonesia di tengah kompetisi global energi?
Di sisi lain, Prancis dengan petro-euro mempertahankan pengaruhnya melalui jaringan teknokratik dan korporasi minyak, sambil menampilkan wajah seni dan filsafat sebagai legitimasi budaya.
Seni Paris dan filsafat eksistensialisme bukan sekadar ornamen, melainkan kritik yang menyingkap absurditas sistem energi global.
Jika petroyuan adalah strategi ofensif, maka eksistensialisme adalah refleksi kritis atas absurditas kekuasaan itu.
Petro-euro dan filsafat eksistensialisme bertemu dalam satu titik: keduanya mengungkapkan bahwa minyak bukan hanya soal ekonomi, melainkan soal makna, kebebasan, dan absurditas dalam panggung sejarah manusia.
Namun, di lain hal, paradoks petroglobal yang digambarkan Douglas A. Yates—antara kerakusan dan kehausan minyak sebagai instrumen neo‑kolonialisme energi Prancis—dapat diperluas untuk membandingkannya dengan strategi petroyuan Tiongkok sebagaimana dibahas Revasha Putri Kayana.
Dalam konteks Prancis, Yates menekankan bagaimana Corps des Mines dan TotalEnergies mempertahankan pengaruh melalui kontrol atas minyak Afrika.
Kerakusan muncul dalam bentuk eksploitasi sumber daya, sementara kehausan tampak dalam ketergantungan berulang terhadap minyak sebagai alat legitimasi politik luar negeri.
Paradoks ini adalah siklus tanpa akhir: semakin banyak minyak dieksploitasi, semakin besar pula ketergantungan dan absurditas yang tercipta.
Sartre dan Camus memberi bingkai filosofis: kebebasan yang terjerat struktur, dan absurditas yang menuntut pemberontakan reflektif.
Strategi petroyuan Tiongkok, sebagaimana ditulis Revasha, menghadirkan wajah lain dari paradoks ini.
Petroyuan bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan strategi ofensif untuk menantang dominasi petrodolar.
Di sini, kerakusan tampak sebagai ambisi Tiongkok untuk memperluas pengaruh global, sementara kehausan muncul sebagai kebutuhan dunia akan alternatif dari sistem dolar yang mapan.
Paradoksnya: petroyuan menjanjikan kebebasan dari dominasi dolar, namun sekaligus menciptakan ketergantungan baru pada yuan dan struktur ekonomi Tiongkok.
Jika petro‑euro Prancis adalah paradoks kolonial yang berulang di Afrika, maka petroyuan Tiongkok adalah paradoks ofensif yang berulang di panggung global.
Keduanya menunjukkan bahwa minyak dan mata uang energi bukan hanya soal ekonomi, melainkan absurditas eksistensial: sistem yang terus mencari legitimasi, namun tak pernah mencapai kepuasan.
Sartre akan menyebutnya sebagai kebebasan yang selalu terikat pada tanggung jawab dalam struktur yang menjerat.
Sementara, Camus akan melihatnya sebagai batu Sisyphus yang terus didorong: petroglobal dan petroyuan sama‑sama mengulang absurditas itu.
Dengan demikian, perbandingan ini menyingkap bahwa baik petro‑euro maupun petroyuan adalah wajah berbeda dari paradoks yang sama.
Satunya, kerakusan dan kehausan energi global, yang dalam kacamata eksistensialisme bukan hanya strategi politik. Lainnya, menjangkau refleksi atas absurditas manusia dalam sejarah.
Dan Indonesia, lewat Komut Pertamina Hulu Energi(PHE), sedang menjajali petro-rupiah di dalam labirin birokrasi minyak global yang eksistensialis sekaligus sedikit absurd.
coversongs: Serge Gainsbourg(1928-1991). Jane Birkin(1946-2023). Duet kontroversial mereka “Je t’aime… moi non plus” pertama kali dirilis pada 1969.
Lagu ini menjadi simbol perpaduan antara provokasi seni Gainsbourg dan pesona Birkin, sekaligus menandai era baru musik pop Prancis yang berani menabrak tabu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





