POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
December 5, 2025
Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi

Kemarin kita sudah bejek anggota DPRD Padang Pariaman yang kunker di saat saudaranya banyak tewas. Ini lebih parah lagi, kepala daerah malah asyik umrah di saat 173 terbukur longsor. Yok, kita kenalan Bupati Aceh Selatan, terserah kalian menggelarinya apa. Siapkan Koptagul, simak narasinya, wak!

Nama Mirwan MS, Bupati Aceh Selatan. Ia lahir pada 9 Maret 1975 di Peulumat, Labuhanhaji Timur, tempat di mana warga dulu percaya, anak itu kelak jadi kebanggaan kampung. Perjalanannya melejit dari pengusaha sukses, sarjana ekonomi, magister sosial, hingga Ketua DPC Partai Gerindra Aceh Selatan. Tahun 2024 ia meraih 36,32% suara sah, cukup untuk mengantarkannya dilantik sebagai Bupati Aceh Selatan ke-21 pada 17 Februari 2025. Saat itu, banyak yang menyambutnya ibarat matahari baru, pemimpin muda yang katanya dekat dengan rakyat, bijak, dan paham penderitaan warganya.

Namun, biografi yang awalnya penuh pujian perlahan berubah menjadi drama yang begitu epik dan menyakitkan. Tragedi itu mencapai puncaknya pada Desember 2025, ketika Aceh digulung bencana tanda tangan. Data resmi per 1 Desember 2025 mencatat 173 orang meninggal, 204 hilang, 1.435 luka ringan, 403 luka berat, dan 443.001 jiwa mengungsi di 828 titik. Aceh Selatan termasuk wilayah terdampak paling parah. Rumah hilang, tanah bergerak, sawah tertimbun lumpur, dan warga berlarian menyelamatkan diri. Di Cot Bayu, Trumon Tengah, kamera udara memperlihatkan seluruh permukiman tenggelam seperti desa yang dihapus dari peta.

Justru di saat genting itu, publik menemukan bab paling dramatis dari perjalanan Mirwan. Ia tidak berada di Aceh Selatan. Ia sedang memakai pakaian ihram di Tanah Suci, berangkat umrah pada 2 Desember 2025 tepat di tengah kekacauan yang menelan hidup rakyatnya.

Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya, pada 27 November 2025, Mirwan sempat mengirim surat resmi ke Pemerintah Aceh menyatakan, Kabupaten Aceh Selatan tidak sanggup menangani bencana tanpa dukungan provinsi. Sebuah pengakuan resmi ketidakmampuan. Tragisnya, surat itu justru menjadi batu yang menghantam marwahnya sendiri. Publik kemudian mengetahui, usai menyatakan“tidak sanggup,” ia malah kabur meninggalkan rakyatnya sendiri yang masih berjibaku antara mati dan hidup.

📚 Artikel Terkait

Agama di Tengah Arus Disrupsi: Menimbang Peran Spiritualitas dalam Menjawab Krisis Moral dan Ekonomi

MPU Selenggarakan Mudzakarah Ulama Masalah Keagamaan

SULAIMAN JUNED LATIH GURU DAN SISWA CIPTA DAN BACA PUISI

Yuk! Mengenal Tarif

Reaksi Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), meledak di hadapan publik. Ia menegaskan, seorang bupati yang “kabur” atau lari dari bencana sebaiknya mundur dari jabatannya. “Pemimpin tidak boleh cengeng,” tegasnya tajam. “Tidak boleh lari ketika rakyat sedang kesulitan.” Sebuah sindiran yang menghantam tepat di jantung persoalan. Apa artinya jabatan jika di saat rakyat menggigil di pengungsian, pemimpinnya justru berjalan tenang menuju Ka’bah?

Pemerintah pusat pun terkejut. Kapuspen Kemendagri, Benni Irwan, hanya mengetahui keberangkatan itu dari media. Ia dengan bahasa diplomatis menyatakan, Kemendagri sangat menyayangkan tindakan tersebut. Ini ungkapan halus dari kemarahan resmi negara.

Sementara itu, di lapangan, warga Aceh Selatan menghadapi kenyataan pahit. Mereka menunggu pemimpin mereka di posko, tetapi yang datang hanyalah relawan, hujan, dan kabar, bupati mereka sedang ibadah di negeri jauh. Foto-foto banjir dari BNPB menunjukkan betapa wilayah seperti Trumon Raya dan Bakongan Raya masih porak-poranda pada hari-hari saat Mirwan berada di Tanah Suci. Tanah retak, air belum surut, dan anak-anak duduk di terpal dingin menunggu bantuan.

Begitulah biografi seorang pemimpin yang awalnya ditinggikan setinggi langit lalu jatuh bukan karena musuh politik, bukan karena fitnah, tetapi karena keputusannya sendiri. Sebab tidak ada yang lebih melukai rakyat dari ketika pemimpin mereka memilih pergi pada saat rakyat menjerit meminta tolong.

Pada akhirnya, sejarah mencatat, di tengah 173 nyawa melayang, bupati mereka tidak hadir.
Ia sedang jauh, di tanah suci, bukan untuk rakyatnya, tetapi hanya untuk dirinya sendiri.

Foto Ai hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Di antara Gelap dan Harapan.

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00