Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Disclaimer, ini hanya fiksi. Jangan bilang ini, fakta, ya. Simak cerpen absurd ini sambil seruput Koptagul, wak!
Malam itu, di bawah tanah, tepat di bawah parkir motor pegawai KPK, ada warkop mini tempat trio buron ngopi. Qorun Nasiku (buron KPK), Siplester Stalon (buron Kejaksaan), dan Sirly Fansuri (buron Polisi) duduk santai pakai sandal jepit, sambil ketawa cekakak-cekikik macam baru habis nonton komedi slapstick.
“Eh, KPK betulan kena batunya ya?” kata Siplester sambil mengangkat cangkir Koptagulnya.
Qorun menjawab, “Kau pikir baru? Dari dulu tu mereka udah main tebak-tebakan hukum. Bedanya sekarang makin jelas bodohnya.”
Sirly tertawa, “Lah iya! Kasus Harun Masiku itu aja bikin mereka tampak macam anak-anak TK main petak umpet tapi baru belajar hitung angka. Satu… dua… tiga… buka mata… bingung! Tidak ketemu!”
Mereka ngakak. Suara tawa sampai naik ke saluran ventilasi. Mungkin terdengar samar di atas, para pegawai KPK yang sedang jaga malam mungkin terheran, “Ini suara jin atau suara kritik?”
Qorun lanjut, “Nuan bayangkan, wak. KPK menetapkan kerugian Rp 1,25 triliun tanpa audit negara. Itu bukan ratio legis. Itu ratio ngarang-ngarang!”
Siplester tepuk meja, “Itu macam mahasiswa menghitung IPK sendiri, terus marah karena dosen nggak percaya hasilnya.”
Sirly mengangguk, “Tanpa BPK, tanpa BPKP, tanpa audit resmi. Itu perhitungan macam orek-orek warung.”
Mereka ketawa lagi.
Wan Dolah yang jaga warkop muncul bawa kacang rebus. “Nah ini, trio buron, kalian betul-betul keterlaluan. Di atas sana pegawai KPK lagi sibuk kerja, kalian di bawah sini sibuk menghina.”
Qorun menjawab, “Kami bukan menghina, Wan.oo Kami memberi kritik konstruktif plus tawa penyubur iman!”
Sirly tiba-tiba menirukan gaya pejabat KPK, “Proses telah sesuai proseduuur… langkah penindakan telah sesuai kaidah… kami menghormati keputusan… bla bla bla…”
Tapi begitu Presiden Prabowo turun tangan,
📚 Artikel Terkait
Siplester menimpali dengan nada dramatis, “Yah mau gimana… itu hak prerogatif Presiden.”
Mereka bertiga kompak tertawa sampai bahu goyang.
Lalu Qorun berbisik, “Sekarang lihat… KPK dulu ditakuti semua orang. Sekarang ditertawakan semua orang. Bahkan oleh buronannya sendiri.”
Sirly mengangkat kacang, “Cheers buat tragedi hukum negeri ini!”
Siplester menjawab, “Kalau KPK itu film, judulnya, ‘Dari Jagoan Menjadi Badut’.”
Mereka hening sebentar, bukan karena refleksi moral, tapi karena tenggorokan kering.
Sirly menyeruput lagi. “Siplester… kau gimana? Masih aman dari Kejaksaan?”
“Heh! Mereka itu sibuk geledah-geledah akhir tahun. Tapi aku di sini ngopi tiap malam. Mereka aja nggak tau pintu masuk warkop ini.”
Qorun ikut menyahut, “Polisi juga begitu. Sirly di sini ngopi tiap malam. Mereka malah sibuk ngejar anak SMA pengguna knalpot brong.”
Tiga buron itu tertawa begitu keras sampai plester plafon bawah tanah bergetar.
“Pada akhirnya,” kata Qorun, “KPK gagal tangkap Harun Masiku, gagal soal Ira Puspadewi, gagal memahami logika hukum… dan gagal menangkap aku.”
Siplester mengacungkan jari, “Kejaksaan gagal tangkap aku.”
Sirly mengangkat kacang rebus, “Polisi gagal tangkap aku.”
Lalu bertiga berteriak pelan tapi penuh kemenangan “SEMUA GAGAL!”
Lalu mereka tertawa…
Tertawa dengan tawa yang sangat menyakitkan institusi penegakan hukum… tapi sangat menyembuhkan jiwa rakyat yang sudah terlalu lelah melihat sandiwara negara.
Tunggu cerpen berikutny dengan topik lebih Koptagul.
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






