anto narasoma
ketakutan itu tiba
ketika badai tsunami datang dengan wajah beringas
parasnya yang tegang
melahap perjalanan ombak ketika badai yang dipenuhi kemarahan itu menerjang keangkuhan tanpa daya
ribuan jiwa yang lebur
ke dalam kematian
itu pun menghantam perasaanku dari utara hingga ke selatan tanah ini
o, tak terlihat diri-Mu
namun jejak-jejak kemarahan yang menelan wilayah, meredam keangkuhan
setelah air ludah-Mu sepenuh garam,
menghantam dan
membasahi puisiku
ke dalam sejarah
lalu,
suara orang-orang
yang menyimpan kematian dalam kubangan sejarah, mencatat peristiwa
yang menenggelamkan kata-kata di antara kalimat puisiku –sesaat sebelum musnah diterjang badai tsunami
Palembang
26 Desember 2004
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.














Discussion about this post