Dengarkan Artikel
Oleh: Kayyisa Elma Mazea
Siswa Kelas 9 SMPN 3 Banda Aceh | Penerima Kafalah Yatim Qatar Charity*
Pagi itu seperti biasa aku dikejutkan dengan suara yang setiap hari tidak asing lagi, mendengar suara wanita ini, dialah ibuku. Tidak lebih dari pukul 05.15 WIB ibu membangunkanku untuk melakukan rutinitas yang sama.
“Rania… Bangun”, ujar ibuku sebelum aku membuka mata dan hanya tertangkap dengan telingaku saja. “Ya bu..”,jawabku dengan nada malas. Bergegas aku bangun sebelum ada panggilan selanjutnya.
Tepat hari ini 8 tahun ayah menempati rumah singgahnya. Aku menyebutnya demikian, karena tidak ada yang abadi di dunia bukan? Ibuku selalu mempunyai rutinitas sederhana yang penting bagi kami berdua di setiap tahunnya. Yaitu, membersihkan makam sang visioner, yaitu ayahku.
Ya, tetap dengan tradisi kesederhanaan yang kita punya, membersihkan makam ayah dan menyiramnya dengan sebotol air putih serta melangitkan banyak untaian doa terbaik untuk orang paling baik dalam versi hidupku.
Ayah dan ibu adalah 2 sosok manusia dengan karakter yang bertolak belakang. Ayah yang pendiam dan ibu yang riuh dengan suara kecilnya. Ayah yang seorang workaholic dan ibu dengan segudang seninya.
Hanya 6 tahun Tuhan membersamai kami dan hari-hari selanjutnya, setelah takdir menyapa kami, aku berjalan tanpa ayah yang sepemikiran, yang visioner. Dia yang banyak mengerti tentangku sementara ibuku sibuk mengurus semua keperluanku dan ayah.
Dan sekarang, 8 tahun kami berjalan tanpa dia, Tuhan menitipkan banyak cerita dalam kehidupan sederhana aku dan ibu, dibentuk dalam keadaan mandiri. Yang aku tahu sekarang, Tuhan tidak pernah menitip keadaan ini untuk membuat kami kalah.
“Rania… Ayo berangkat”, ucap ibuku. Segera aku bergegas sebelum terlambat pergi ke makam ayahku dan melanjutkan kegiatan ke sekolah. Aku pergi dengan motor tua ayahku, menyusuri jalan yang sama setiap hari. Angin cukup dingin di pagi itu.
“Hari ini cuaca tidak begitu panas ya bu” ujarku.
“Ya Ran, alhamdulillah “ jawab ibu.
📚 Artikel Terkait
Karena jarak makam ayah tidak begitu jauh dari rumah, kami pun sampai dalam waktu tidak lama. Area pemakamannya tidak begitu luas, dikelilingi tembok rumah warga sekitar dan dipenuhi rumput yang sudah mulai meninggi. Kubuka pintu besi pagar makam sambil kusapa dengan salam, “Assalamualaikum ya ahlal kuburi”
Kupandani sekeliling makam. Hanya aku dan ibu yang pergi kesana. Kulihat ibu dengan langkah tegarnya, walau usianya mulai senja dan raut wajah yang kian menua. “Ran, bantu ibu membersihkan makam ya” kata ibu. “Ya bu”,jawabku
Saat tiba di kuburan Ayah, termyata ada yang telah membersihaknnya. “Bu, makam ayah sudah bersih” ujarkundengan suara terkejut.
“Ya, sepertinya ada yang membersihkan, doakan orang baik itu ya” ujar ibuku. “Ya bu” jawabku. Terima kasih orang baik, ujarku dalam hati. “Tidak ada kebaikan yang sia sia,sekecil apapun itu”, sambung ibu.
Selalu saja ibu senang bercerita dan berbagi pengalaman dalam banyak hal kepadaku. Ia wanita tegas dan sedikit mengerikan dengan raut muka jika sedang diam. Sebetulnya ia adalah sosok peramah dengan segudang ujian. Ia tetap menyambut ujian dengan senyuman, meski kadang diselingi tangisan jika ia merasa lelah.
“Ran, bantu ibu membersihkan makam di sebelah makam ayahmu”, ajak ibu. Spontan aku bertanya, “Kenapa harus dibersihkan bu? Bukannya ini makam orang?
“Ketika Tuhan menitipkan kebaikan melalui orang lain untuk kita, maka kita pun sebaiknya melakukan hal yang sama, sehingga kebaikan tidak pernah terputus. Ingat nak, tidak ada kebaikan yang sia sia” ucap ibuku.
“Alhamdulillah, sudah bersih ya ran” lanjut ibu. “Ya bu, alhamdulillah” jawabku.
“Sekarang, setelah 5 bulan kita tidak pernah berkunjung ke tempat ayah, apa yang ingin kamu sampaikan pada ayahmu, Ran?
Air mataku mulai menetes, sungguh aku tidak pernah bisa berbicara banyak di makam ayah. Semua terbiasa kusimpan sendiri dalam hati. Karenanya, pada moment ini aku hanya tersenyum di depan ibu yang perlahan meredup terganti dengan isak tangisan.
“Aku rindu ayah, bu” ucapku lirih. Ibu memegang tanganku lebih erat, lalu berkata “Terus kuat ya nak, 8 tahun Tuhan sudah menitipkan ilmu yang begitu banyak pada kita dan kenangan sudah melekat pada ingatan dan hati kita”.
“Ujian ini belum selesai, tapi selalu ada Tuhan bersama kita, percayalah…! Usiamu sudah 14 tahun, Ran. Kamu sudah mulai dewasa, kamu perempuan kuat dan Tuhan telah menjadikan kamu benar-benar kuat. Ibu bangga, nak” lanjut ibuku.
Sembari memeluk bahuku, ibu melanjutkan petuahnya, “Mintalah pada Tuhan agar rindu ini benar-benar tersampaikan pada ayahmu, Tuhan Maha Baik”. “Ya Bu”,jawabku menahan tangis.
“Sebelum kita pulang, ada yang ingin kamu sampaikan lagi pada ayahmu, ran?”.
Senyum kecil kuberikan pada ayah lewat pelukan di batu nisannya. “Rania pulang dulu ya yah” ucapku. Semoga langkah kaki bisa membawa lagi kami ke sini.
* Cerpen di atas dieditori oleh Ahmad Arif, Orphan Supervisor Qatar Charity Indonesia Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





