• Latest

Pemuda. Sejarah dan Buku

Oktober 28, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pemuda. Sejarah dan Buku

Redaksiby Redaksi
Oktober 28, 2025
Reading Time: 5 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

“Banyak buku telah menjadi karya klasik, wajib baca, atau sensasi penerbitan dalam semalam, tetapi berapa banyak yang benar-benar dapat mengklaim telah mengubah cara kita melihat dan berpikir?” — Scott Christianson dan Colin Salter, 100 Books That Changed the World(Gramedia, 2020).

Sembilan puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928.

Tiga sumpah yang diikrarkan: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu—Indonesia—menjadi fondasi nasionalisme modern yang melampaui sekat etnis, kedaerahan, dan kolonialisme.

Namun, dalam refleksi kritis terhadap sejarah panjang republik ini, pertanyaan yang tak terelakkan muncul: apakah semangat pemuda masih hidup dalam tubuh bangsa yang kini digerogoti oleh krisis intelektual dan degradasi literasi?

Ben Anderson(1936-2015) dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946(1972;revisi 2006), menyingkap bagaimana pemuda Indonesia pada masa revolusi bukan hanya aktor politik, tetapi juga pembaca yang rakus, pemikir yang gelisah, dan penulis yang berani.

Selain itu, buku ini menyajikan analisis mendalam tentang peran pemuda dalam revolusi Indonesia, khususnya di Jawa, selama masa transisi dari pendudukan Jepang menuju kemerdekaan.

Anderson menyoroti bahwa pemuda—bukan elite intelektual atau kelas pekerja—adalah aktor utama dalam ledakan revolusioner tahun 1945.

Ia membedah dinamika kelompok pemuda, milisi, dan organisasi politik yang muncul secara spontan dan penuh semangat, sering kali di luar kendali struktur formal.

Anderson juga mengkritisi narasi resmi sejarah Indonesia yang terlalu menekankan peran elite dan partai, sementara mengabaikan energi sosial dan politik yang digerakkan oleh kaum muda.

Ia menunjukkan bahwa revolusi Indonesia bukan hanya soal kemerdekaan nasional, tetapi juga tentang konflik antara cita-cita sosial radikal dan strategi politik pragmatis.

Mereka menjadikan buku sebagai senjata, bukan sekadar pelengkap. Ihwal buku, Scott Christianson dan Colin Salter menegaskan bahwa buku bukan hanya cermin dari realitas, tetapi juga alat pembentuk sejarah dan peradaban.

Dalam konteks Indonesia, buku ini bisa menjadi pengingat akan pentingnya literasi dan bacaan dalam membentuk generasi pemikir dan pemimpin sebagaimana ungkap Christianson dan Salter: “Books do not just reflect the world—they shape it.”

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sutan Sjahrir membaca Marx dan Bakunin, Bung Hatta menulis tentang demokrasi dan ekonomi kerakyatan dengan merujuk pada Kant dan Descartes, Mohammad Yamin menggali sastra Paraton dan Negarakertagama untuk merumuskan identitas nasional.

Bahkan Soepomo dan Agus Salim, dalam perdebatan konstitusi, mengutip Nietzsche dan Renan untuk menegaskan bahwa bangsa bukan sekadar entitas biologis, melainkan konstruksi historis dan spiritual.

Buku-buku itu bukan hanya bacaan, tetapi medan tempur gagasan. Buku juga menyoroti keragaman genre dan disiplin ilmu, dari filsafat, agama, sains, politik, hingga sastra dan seni.

Dari Republic(Plato), The Quran, The Communist Manifesto(Marx dan Engels), On the Origin of Species(Charles Darwin), hingga Silent Spring(Rachel Carson), Mahayana hingga Mahabharata, dari Hegel hingga Stoddard, para pemuda Indonesia menjadikan literasi sebagai jalan menuju kemerdekaan.

Mereka tidak hanya menghafal, tetapi mengolah, mengkritik, mencipta dan menunjukkan bagaimana ide-ide yang tertuang dalam teks tertulis di buku-buku itu mampu mengubah cara manusia berpikir, bertindak, dan membentuk dunia.

Dalam ruang-ruang diskusi, di bawah bayang-bayang penjajahan, mereka merumuskan Indonesia bukan sebagai warisan, tetapi sebagai proyek intelektual dan moral.

Namun kini, di awal abad ke-21, kita menyaksikan paradoks sejarah.

Sumpah Pemuda yang dahulu melahirkan generasi pembebas, kini hanya melahirkan satu figur yang paling kontroversial dalam sejarah republik: Gibran Raka Buming Raka, seorang wakil presiden berusia 37 tahun yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai “pemuda haram konstitusi.”

ADVERTISEMENT

Bukan karena usianya, tetapi karena proses politik yang melingkupinya dianggap mencederai etika konstitusional dan semangat reformasi.

Ia bukan representasi dari pemuda yang membaca Marx atau menulis manifesto, melainkan simbol dari politik dinasti dan algoritma elektoral.

Fenomena ini mencerminkan krisis yang lebih dalam: hilangnya tradisi intelektual dalam tubuh pemuda Indonesia.

Di tengah era digital yang serba cepat dan dangkal, buku tak lagi menjadi pusat gravitasi kesadaran.

Literasi digantikan oleh scroll, refleksi digantikan oleh trending, dan pemikiran digantikan oleh citra. Pemuda kini lebih mengenal influencer daripada filsuf, lebih akrab dengan konten daripada konsep.

Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa besar lahir dari pemuda yang membaca, bukan hanya yang viral.

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa, tetapi proyek kebudayaan. Ia menuntut keberanian untuk berpikir, untuk membaca, dan untuk menulis ulang masa depan.

Tanpa buku, sumpah itu menjadi kosong. Tanpa pemuda yang berpikir, bangsa ini hanya akan menjadi bayang-bayang dari cita-cita yang tak pernah selesai.

Maka, refleksi 97 tahun Sumpah Pemuda hari ini, harus menjadi panggilan untuk kembali ke akar: ke buku, ke sejarah, dan ke pemuda yang berani berpikir melawan zaman.

coversongs: “Book of Days” oleh Enya(64) dirilis sebagai singel pada 22 Juni 1992, dan versi awalnya muncul dalam album Shepherd Moons tahun 1991.

Lagu ini dikenal luas setelah digunakan dalam film Far and Away karya Ron Howard. Lagu ini memiliki dua versi: versi asli dalam bahasa Irlandia(Gaelic) dan versi bilingual Inggris-Irlandia yang dirilis untuk soundtrack film.

Versi bilingual menggantikan versi Gaelic dalam cetakan album setelah pertengahan 1992, menjadikan versi asli relatif langka.

Lagu ini menggambarkan perjalanan hidup sebagai sebuah buku yang belum ditulis, di mana setiap hari adalah halaman baru. Liriknya menyiratkan tema harapan, takdir, dan pencarian makna dalam waktu.

Dengan gaya khas Enya yang atmosferik dan meditatif, lagu ini mengajak pendengar untuk merenungkan bahwa setiap langkah, bahkan yang kecil, adalah bagian dari narasi besar kehidupan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com