Dengarkan Artikel
Oleh Afrizal Refo, MA
Setiap tanggal 22 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momentum bersejarah yang tidak hanya menandai kiprah kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menjadi refleksi mendalam atas peran mereka dalam menjaga nilai-nilai keislaman, moral, dan kebangsaan di tengah arus globalisasi yang semakin deras. Hari Santri bukanlah sekadar seremonial atau rutinitas tahunan melainkan panggilan jiwa untuk kembali meneguhkan jati diri santri sebagai penjaga ilmu dan akhlak yang kokoh.
Santri adalah sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan di pesantren atau dayah, tempat di mana ilmu agama dipelajari secara mendalam disertai dengan latihan spiritual, kedisiplinan, dan penguatan karakter. Seorang santri tidak hanya belajar membaca kitab kuning atau memahami fiqih dan tafsir tetapi juga ditempa untuk hidup sederhana, mandiri, dan berakhlak mulia. Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan sekadar untuk diketahui melainkan harus dihayati dan diamalkan.
Kehidupan di pesantren ibarat miniatur peradaban Islam yang hidup di tengah masyarakat. Di sanalah nilai-nilai keikhlasan, tawadhu’, dan kebersamaan tumbuh subur. Seorang santri bangun sebelum fajar menyingsing, menegakkan shalat tahajud, kemudian bersiap untuk shalat Subuh berjamaah. Setelah itu mereka mengaji Al-Qur’an, belajar kitab, dan mengikuti pelajaran dengan penuh semangat hingga malam hari. Rutinitas ini bukanlah paksaan tetapi menjadi bagian dari kesadaran spiritual bahwa ilmu dan ibadah adalah dua sisi yang tak terpisahkan.
Di antara yang harus dilakukan santri dalam kesehariannya adalah menjaga disiplin, menghormati guru (Tgk), serta mengamalkan adab dalam setiap langkahnya. Santri diajarkan untuk menundukkan pandangan, menahan lisan, dan menjaga kebersihan hati. Mereka dibiasakan untuk tidak mengeluh meski fasilitas sederhana, tidak bergantung pada kenyamanan, dan selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan. Di pesantren kebahagiaan tidak diukur dari kemewahan melainkan dari kedekatan dengan Allah dan keberkahan ilmu yang didapat.
Sudah selayaknya seorang santri harus meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap perilaku. Sebab pesantren bukan hanya lembaga pendidikan melainkan juga tempat pembentukan karakter. Di sana setiap santri belajar arti kesabaran saat menghadapi ujian, keikhlasan dalam beramal dan kejujuran dalam bertutur kata. Santri juga dididik untuk cinta tanah air sebagaimana para ulama dan santri tempo dulu yang menjadi pelopor perjuangan melawan penjajah. Sejarah mencatat, resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti nyata peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Dalam konteks kekinian peran santri tidak berhenti di balik pagar pesantren. Mereka dituntut menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Dunia hari ini menghadapi tantangan besar degradasi moral, maraknya berita bohong, krisis kejujuran, hingga lunturnya semangat gotong royong. Di sinilah nilai-nilai pesantren menemukan relevansinya. Kedisiplinan santri, kesederhanaan, serta semangat mencari ilmu dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang mulai tergerus gaya hidup instan dan budaya konsumtif.
Pesantren juga menjadi laboratorium kehidupan sosial yang menakjubkan. Di sana hidup berbagai santri dari beragam latar belakang daerah, budaya, dan bahasa. Namun perbedaan itu tidak menjadi jurang pemisah. Justru dari sanalah mereka belajar arti ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam Islam) yang melampaui batas suku dan daerah. Nilai toleransi dan kebersamaan tumbuh dari pengalaman hidup bersama dalam asrama, berbagi makanan, saling menasihati, dan bekerja sama dalam kegiatan harian.
📚 Artikel Terkait
Selain itu kehidupan pesantren melatih kemandirian dan tanggung jawab. Santri tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik hidup nyata. Mereka mencuci pakaiannya sendiri, memasak, membersihkan lingkungan, hingga mengatur jadwal belajar tanpa harus selalu diperintah. Dari kebiasaan sederhana itu lahir pribadi tangguh yang tidak manja dan siap menghadapi kehidupan. Seorang santri yang ditempa di pesantren ibarat baja yang dibakar dalam api, semakin kuat dan tahan terhadap cobaan.
Kita pun harus mengakui bahwa pesantren kini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan modern tanpa kehilangan ruh tradisinya. Banyak pesantren yang menggabungkan kurikulum umum dengan pendidikan agama secara seimbang. Santri tidak hanya menguasai ilmu-ilmu syar’i, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang sains, teknologi, dan kewirausahaan. Fenomena ini membuktikan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Momentum Hari Santri seyogianya menjadi refleksi bagi seluruh elemen bangsa bukan hanya bagi kalangan pesantren. Semangat santri adalah semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian. Nilai-nilai itu sangat dibutuhkan di tengah kehidupan berbangsa saat ini yang kerap dihiasi dengan sikap individualistis dan pragmatis. Bila setiap warga negara meneladani keikhlasan dan kedisiplinan santri maka Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat secara moral dan kokoh dalam spiritual.
Santri hari ini juga menghadapi tantangan baru: dunia digital dan media sosial yang seringkali membawa pengaruh negatif. Oleh karena itu santri masa kini harus mampu menjadi pelopor literasi digital yang santun dan beretika. Mereka perlu menggunakan teknologi untuk berdakwah, menyebarkan kebaikan, dan melawan arus informasi sesat. Dunia maya membutuhkan sosok santri yang tidak hanya pandai membaca kitab tetapi juga cerdas membaca zaman.
Lebih dari itu santri adalah simbol harapan bagi masa depan bangsa. Mereka adalah generasi yang membawa kesejukan dalam tutur kata, kejujuran dalam tindakan, serta kesederhanaan dalam gaya hidup. Dari pesantren lahir para ulama, pendidik, dan pemimpin yang berjiwa besar; mereka yang berjuang bukan demi popularitas melainkan karena panggilan iman.
Kini saat lonceng Hari Santri berdentang setiap 22 Oktober marilah kita semua santri, alumni dan masyarakat luas merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan pesantren. Jangan biarkan semangat keikhlasan itu pudar. Jadikan pesantren sebagai sumber inspirasi dalam membangun bangsa yang beradab dan berakhlak.
Pesantren adalah tempat di mana ilmu dan adab disatukan, tempat di mana akal diasah dan hati disucikan. Di sinilah generasi penerus bangsa belajar untuk tidak hanya pintar tetapi juga benar. Seperti pepatah pesantren yang sering dikutip, “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya.” Maka seorang santri sejati bukanlah mereka yang hanya menguasai banyak kitab tetapi yang mampu menerangi sekitarnya dengan cahaya akhlak dan ilmu yang bermanfaat.
Hari Santri bukan hanya milik mereka yang berpakaian sarung dan bersorban tetapi milik semua yang menjunjung tinggi nilai keikhlasan, kejujuran, dan perjuangan. Sebab setiap orang yang menjaga ilmu dan akhlak dalam dirinya sesungguhnya adalah santri dalam makna yang lebih luas. Dan dari pesantrenlah cahaya peradaban itu terus memancar, menerangi jalan bangsa menuju masa depan yang penuh berkah.
Penulis Adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kota Langsa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






