POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hari Santri, Hari Kebangkitan Spirit Keilmuan dan Keteladanan

RedaksiOleh Redaksi
October 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Afrizal Refo, MA

Setiap tanggal 22 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momentum bersejarah yang tidak hanya menandai kiprah kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menjadi refleksi mendalam atas peran mereka dalam menjaga nilai-nilai keislaman, moral, dan kebangsaan di tengah arus globalisasi yang semakin deras. Hari Santri bukanlah sekadar seremonial atau rutinitas tahunan melainkan panggilan jiwa untuk kembali meneguhkan jati diri santri sebagai penjaga ilmu dan akhlak yang kokoh.

Santri adalah sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan di pesantren atau dayah, tempat di mana ilmu agama dipelajari secara mendalam disertai dengan latihan spiritual, kedisiplinan, dan penguatan karakter. Seorang santri tidak hanya belajar membaca kitab kuning atau memahami fiqih dan tafsir tetapi juga ditempa untuk hidup sederhana, mandiri, dan berakhlak mulia. Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan sekadar untuk diketahui melainkan harus dihayati dan diamalkan.

Kehidupan di pesantren ibarat miniatur peradaban Islam yang hidup di tengah masyarakat. Di sanalah nilai-nilai keikhlasan, tawadhu’, dan kebersamaan tumbuh subur. Seorang santri bangun sebelum fajar menyingsing, menegakkan shalat tahajud, kemudian bersiap untuk shalat Subuh berjamaah. Setelah itu mereka mengaji Al-Qur’an, belajar kitab, dan mengikuti pelajaran dengan penuh semangat hingga malam hari. Rutinitas ini bukanlah paksaan tetapi menjadi bagian dari kesadaran spiritual bahwa ilmu dan ibadah adalah dua sisi yang tak terpisahkan.

Di antara yang harus dilakukan santri dalam kesehariannya adalah menjaga disiplin, menghormati guru (Tgk), serta mengamalkan adab dalam setiap langkahnya. Santri diajarkan untuk menundukkan pandangan, menahan lisan, dan menjaga kebersihan hati. Mereka dibiasakan untuk tidak mengeluh meski fasilitas sederhana, tidak bergantung pada kenyamanan, dan selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan. Di pesantren kebahagiaan tidak diukur dari kemewahan melainkan dari kedekatan dengan Allah dan keberkahan ilmu yang didapat.

Sudah selayaknya seorang santri harus meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap perilaku. Sebab pesantren bukan hanya lembaga pendidikan melainkan juga tempat pembentukan karakter. Di sana setiap santri belajar arti kesabaran saat menghadapi ujian, keikhlasan dalam beramal dan kejujuran dalam bertutur kata. Santri juga dididik untuk cinta tanah air sebagaimana para ulama dan santri tempo dulu yang menjadi pelopor perjuangan melawan penjajah. Sejarah mencatat, resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti nyata peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Dalam konteks kekinian peran santri tidak berhenti di balik pagar pesantren. Mereka dituntut menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Dunia hari ini menghadapi tantangan besar degradasi moral, maraknya berita bohong, krisis kejujuran, hingga lunturnya semangat gotong royong. Di sinilah nilai-nilai pesantren menemukan relevansinya. Kedisiplinan santri, kesederhanaan, serta semangat mencari ilmu dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang mulai tergerus gaya hidup instan dan budaya konsumtif.

Pesantren juga menjadi laboratorium kehidupan sosial yang menakjubkan. Di sana hidup berbagai santri dari beragam latar belakang daerah, budaya, dan bahasa. Namun perbedaan itu tidak menjadi jurang pemisah. Justru dari sanalah mereka belajar arti ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam Islam) yang melampaui batas suku dan daerah. Nilai toleransi dan kebersamaan tumbuh dari pengalaman hidup bersama dalam asrama, berbagi makanan, saling menasihati, dan bekerja sama dalam kegiatan harian.

📚 Artikel Terkait

Tantangan dan Peluang Akademisi Indonesia di Era Digital

Haul Gus Dur

Abadi

Pagelaran Rapa’i Geleng SDIT Muhamadiyah Manggeng di Anjungan ABDYA Pada PKA 8

Selain itu kehidupan pesantren melatih kemandirian dan tanggung jawab. Santri tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik hidup nyata. Mereka mencuci pakaiannya sendiri, memasak, membersihkan lingkungan, hingga mengatur jadwal belajar tanpa harus selalu diperintah. Dari kebiasaan sederhana itu lahir pribadi tangguh yang tidak manja dan siap menghadapi kehidupan. Seorang santri yang ditempa di pesantren ibarat baja yang dibakar dalam api, semakin kuat dan tahan terhadap cobaan.

Kita pun harus mengakui bahwa pesantren kini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan modern tanpa kehilangan ruh tradisinya. Banyak pesantren yang menggabungkan kurikulum umum dengan pendidikan agama secara seimbang. Santri tidak hanya menguasai ilmu-ilmu syar’i, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang sains, teknologi, dan kewirausahaan. Fenomena ini membuktikan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Momentum Hari Santri seyogianya menjadi refleksi bagi seluruh elemen bangsa bukan hanya bagi kalangan pesantren. Semangat santri adalah semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian. Nilai-nilai itu sangat dibutuhkan di tengah kehidupan berbangsa saat ini yang kerap dihiasi dengan sikap individualistis dan pragmatis. Bila setiap warga negara meneladani keikhlasan dan kedisiplinan santri maka Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat secara moral dan kokoh dalam spiritual.

Santri hari ini juga menghadapi tantangan baru: dunia digital dan media sosial yang seringkali membawa pengaruh negatif. Oleh karena itu santri masa kini harus mampu menjadi pelopor literasi digital yang santun dan beretika. Mereka perlu menggunakan teknologi untuk berdakwah, menyebarkan kebaikan, dan melawan arus informasi sesat. Dunia maya membutuhkan sosok santri yang tidak hanya pandai membaca kitab tetapi juga cerdas membaca zaman.

Lebih dari itu santri adalah simbol harapan bagi masa depan bangsa. Mereka adalah generasi yang membawa kesejukan dalam tutur kata, kejujuran dalam tindakan, serta kesederhanaan dalam gaya hidup. Dari pesantren lahir para ulama, pendidik, dan pemimpin yang berjiwa besar; mereka yang berjuang bukan demi popularitas melainkan karena panggilan iman.

Kini saat lonceng Hari Santri berdentang setiap 22 Oktober marilah kita semua santri, alumni dan masyarakat luas merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan pesantren. Jangan biarkan semangat keikhlasan itu pudar. Jadikan pesantren sebagai sumber inspirasi dalam membangun bangsa yang beradab dan berakhlak.

Pesantren adalah tempat di mana ilmu dan adab disatukan, tempat di mana akal diasah dan hati disucikan. Di sinilah generasi penerus bangsa belajar untuk tidak hanya pintar tetapi juga benar. Seperti pepatah pesantren yang sering dikutip, “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya.” Maka seorang santri sejati bukanlah mereka yang hanya menguasai banyak kitab tetapi yang mampu menerangi sekitarnya dengan cahaya akhlak dan ilmu yang bermanfaat.

Hari Santri bukan hanya milik mereka yang berpakaian sarung dan bersorban tetapi milik semua yang menjunjung tinggi nilai keikhlasan, kejujuran, dan perjuangan. Sebab setiap orang yang menjaga ilmu dan akhlak dalam dirinya sesungguhnya adalah santri dalam makna yang lebih luas. Dan dari pesantrenlah cahaya peradaban itu terus memancar, menerangi jalan bangsa menuju masa depan yang penuh berkah.

Penulis Adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kota Langsa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Indonesia Raya dan Mercusuar Perdamaian Dunia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00