POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Nasihat Istri yang Tak Didengar

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
October 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kisah ini based on true story. Kalian masih ingat hakim Djumanto yang disogok 40 miliar. Sekarang ia sedang menjalani persidangan. Terungkap, ia mengabaikan nasihat istrinya. Simakk cerpennya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Ada jenis suara yang hanya akan kita rindukan ketika semuanya sudah terlambat: suara seorang istri yang cerewet.
Cerewet, tapi penuh cinta.
Cerewet, tapi menyelamatkan.
Cerewet, tapi tidak pernah salah.

Djuyamto tahu itu sekarang, setelah segalanya hancur. Setelah toga kebanggaannya diganti rompi oranye, dan ruang sidang yang dulu jadi singgasananya berubah jadi kuburan reputasi. Tapi sebelum semua itu, ia punya seseorang di rumah, seorang perempuan yang tidak tahu hukum, tapi sangat paham hidup.

“Pak, jangan sentuh uang itu. Uang itu bukan rezeki, itu jebakan,” kata istrinya suatu malam, sambil melipat baju kerja Djuyamto.
Ia hanya menghela napas. “Bu, kau tidak tahu dunia ini. Ini bukan suap. Ini bentuk penghargaan.”
Istrinya berhenti melipat. Tatapannya dingin tapi dalam. “Kalau penghargaan itu datang sebelum pekerjaan selesai, itu bukan penghargaan, Pak. Itu pelicin dosa.”

Djuyamto tersenyum kecil, mencoba menenangkan suasana. “Bu, semua orang melakukannya. Tak ada yang dirugikan.”
“Kalau semua orang melakukannya, lalu siapa yang tersisa untuk memperbaiki dunia, Pak?”
Djuyamto terdiam, tapi hanya sebentar. Lelaki yang merasa berkuasa jarang bisa kalah dalam perdebatan, bahkan dengan kebenaran.

Hari demi hari, nasihat istrinya terdengar seperti dengung nyamuk di telinga, mengganggu tapi tak dianggap. Kadang ia mematikan percakapan dengan alasan rapat penting, kadang berpura-pura tidur. Seperti kebanyakan suami yang merasa dirinya bijak, Djuyamto memilih diam, bukan karena benar, tapi karena tak mau mendengar.

📚 Artikel Terkait

Wajah Ceria Saat Salsabila Terima Hadiah Sepeda POTRET

Permintaan Terakhir Albert Einstein: Warisan Kebajikan di Penghujung Hidup

DPPPA Aceh Gelar Pelatihan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak

Kenakan Pakaian Adat Aceh, Warnai Peringatan Hardikda di Aceh Timur

Namun nasihat yang diabaikan punya cara sendiri untuk membalas. Uang yang dulu terasa seperti berkah, kini jadi racun yang menggerogoti jiwanya perlahan. Saat jaksa menyebut angka 40 miliar, dunia Djuyamto runtuh. Ia tak melihat uang, ia melihat dosa yang menjelma menjadi angka.

Di persidangan, suaranya gemetar. “Saya menghancurkan karier saya sendiri,” katanya sambil menahan tangis.
Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengampunan. Hanya sunyi, seperti rumahnya dulu setiap kali ia menolak mendengarkan istrinya. Yang lebih menyakitkan, suara perempuan itu masih ada, bukan di hadapannya, tapi di kepalanya.

“Pak, uang bisa membeli waktu, tapi tidak bisa membeli kembali masa lalu.”
“Pak, kalau Tuhan belum menegur, jangan kira Dia lupa.”
“Pak, kalau Bapak terlalu sibuk dengan dunia, nanti dunia yang akan sibuk mengubur Bapak.”

Setiap malam di sel tahanan, nasihat itu datang satu per satu seperti bayangan. Kadang lembut, kadang keras, kadang terdengar seperti doa yang gagal dikabulkan. Di antara kesunyian yang panjang, Djuyamto sadar, istri bukan hanya pasangan hidup, tapi penjaga agar suami tidak tersesat oleh logika yang ia banggakan sendiri.

Ia menyesal. Bukan karena kehilangan jabatan, tapi karena kehilangan suara yang selalu ia abaikan. Dulu, ia menutup telinga karena bosan mendengar kebenaran. Kini, ia menutup wajah karena malu pada kebodohan sendiri.

Barangkali, semua suami seharusnya paham, istri yang cerewet bukan tanda tak menghormati, tapi tanda masih peduli. Ketika ia berhenti menasihati, itu artinya ia sudah berhenti berharap. Lelaki yang kehilangan harapan istrinya, sesungguhnya sudah kehilangan separuh jiwanya.

Malam itu, di dalam gelap penjara, Djuyamto berbisik pelan ke udara kosong, “Bu, kalau waktu bisa diulang, aku janji akan dengar semua omelanmu, setiap hurufnya.”

Tapi waktu tak pernah mau mengulang. Ia hanya meninggalkan gema, suara istri yang tak lagi pulang, dan suami yang akhirnya belajar mendengar, ketika sudah tak ada yang bicara.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Mastnawi Purbaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00