• Latest

Berdialog dengan Teks

Oktober 17, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Berdialog dengan Teks

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
Oktober 17, 2025
in Artikel
Reading Time: 2 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Don Zakiyamani

Di dunia yang serba cepat ini, manusia lebih sering menelan informasi ketimbang mengunyahnya. Scroll, klik, bagikan. Tak ada dialog, tak ada jeda berpikir. Padahal, di balik setiap teks — dari buku, berita, hingga unggahan media sosial — selalu ada ruang untuk berdialog. Ruang itu kini makin sepi.

Adakah manusia yang berbicara dengan batu? Ada. Para geolog dan arkeolog melakukannya. Adakah manusia berdialog dengan kopi? Ada juga. Para petani dan barista melakukannya setiap hari. Maka, mengapa kita — yang saban hari disuguhi banjir informasi — tidak berdialog dengan teks, gambar, atau video yang kita lihat?

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Kita hidup di zaman monolog. Zaman di mana kebenaran disampaikan sepihak, lalu diterima tanpa verifikasi. Betapa sering manusia digital mempercayai informasi yang berseliweran tanpa bertanya, tanpa ragu, tanpa berpikir. Padahal, seperti adagium klasik: “Jangan membaca buku bila percaya sepenuhnya pada isi buku.” Buku, meski telah melalui verifikasi ketat, bukanlah guru, melainkan teman dialog. Setiap paragraf seharusnya mengundang perdebatan. Setiap kalimat seharusnya menantang pikiran. Kita bukan penonton teks. Kita mitra berpikirnya.

Membaca tanpa berdialog adalah seperti makan tanpa mengunyah. Informasi yang masuk tanpa proses analisis hanya akan menumpuk di kepala sebagai data mentah. Itulah sebabnya anak-anak dibatasi dalam menggunakan gawai — karena belum memiliki alat “mengunyah intelektual”. Ironisnya, orang dewasa justru makin sering menelan mentah-mentah informasi dari layar mereka. Akibatnya, kebodohan sistemik tumbuh subur. Berlandaskan unggahan palsu, orang berbicara tentang kebenaran. Celakanya, pendengarnya ikut-ikutan percaya. Kebodohan pun menular, dari satu akun menjadi seribu. Dan semua itu terjadi karena satu hal: kita berhenti berdialog dengan teks.

Fenomena ini bukan hanya penyakit media sosial. Ia juga hidup di ruang-ruang akademik. Banyak kajian ilmiah disampaikan tanpa dialog dengan teks. Buku dibedah tanpa pernah dibaca. Dosen berdebat tanpa riset. Ilmu pengetahuan dikunci dalam kebenaran tunggal. Inilah bentuk lain dari oligarki pengetahuan — ketika ruang berpikir baru dianggap ancaman, bukan kesempatan. Padahal, membuka ruang pengetahuan baru tidak menghapus kebenaran lama. Ia justru membersihkan ruang berpikir yang pengap, menata meja dan kursi ide agar lebih lapang, dan memberi pencahayaan baru bagi kebenaran yang mungkin lebih jernih.

ADVERTISEMENT

Ruang digital kini penuh isi tapi miskin makna. Media sosial membanjiri kita dengan konten, namun sedikit yang mengundang dialog. Penikmatnya sibuk menggulir, menyukai, membagikan — tapi jarang berpikir. Otak pun berubah menjadi gudang tak bertuan, penuh barang yang tak tahu siapa pemiliknya. Dialog dengan teks bukan sekadar aktivitas literasi. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan sistemik. Dengan berdialog, kita menghidupkan kembali fungsi dasar manusia: berpikir, meragukan, lalu menemukan kebenaran yang tumbuh dari kesadaran sendiri — bukan dari algoritma.

Di bulan Oktober ini POTRET kembali mengadakan lomba menulis. Dengan tema “mengapa saya malas membaca”, POTRET ingin menggali sebab utama malas membaca. Proses membaca bukan sekedar mengeja kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Namun membaca melibatkan dialog setara, karena bacaan itu mitra otak bukan bos. Sekalipun bacaan itu magnum opus dari seorang pemikir, saintis, ulama, filsuf, tetap harus ada proses dialog. Selamat membaca sambil ngopi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Pembelajaran yang Memuliakan

Pembelajaran yang Memuliakan

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com