Dengarkan Artikel
Oleh Don Zakiyamani
Di dunia yang serba cepat ini, manusia lebih sering menelan informasi ketimbang mengunyahnya. Scroll, klik, bagikan. Tak ada dialog, tak ada jeda berpikir. Padahal, di balik setiap teks — dari buku, berita, hingga unggahan media sosial — selalu ada ruang untuk berdialog. Ruang itu kini makin sepi.
Adakah manusia yang berbicara dengan batu? Ada. Para geolog dan arkeolog melakukannya. Adakah manusia berdialog dengan kopi? Ada juga. Para petani dan barista melakukannya setiap hari. Maka, mengapa kita — yang saban hari disuguhi banjir informasi — tidak berdialog dengan teks, gambar, atau video yang kita lihat?
Kita hidup di zaman monolog. Zaman di mana kebenaran disampaikan sepihak, lalu diterima tanpa verifikasi. Betapa sering manusia digital mempercayai informasi yang berseliweran tanpa bertanya, tanpa ragu, tanpa berpikir. Padahal, seperti adagium klasik: “Jangan membaca buku bila percaya sepenuhnya pada isi buku.” Buku, meski telah melalui verifikasi ketat, bukanlah guru, melainkan teman dialog. Setiap paragraf seharusnya mengundang perdebatan. Setiap kalimat seharusnya menantang pikiran. Kita bukan penonton teks. Kita mitra berpikirnya.
📚 Artikel Terkait
Membaca tanpa berdialog adalah seperti makan tanpa mengunyah. Informasi yang masuk tanpa proses analisis hanya akan menumpuk di kepala sebagai data mentah. Itulah sebabnya anak-anak dibatasi dalam menggunakan gawai — karena belum memiliki alat “mengunyah intelektual”. Ironisnya, orang dewasa justru makin sering menelan mentah-mentah informasi dari layar mereka. Akibatnya, kebodohan sistemik tumbuh subur. Berlandaskan unggahan palsu, orang berbicara tentang kebenaran. Celakanya, pendengarnya ikut-ikutan percaya. Kebodohan pun menular, dari satu akun menjadi seribu. Dan semua itu terjadi karena satu hal: kita berhenti berdialog dengan teks.
Fenomena ini bukan hanya penyakit media sosial. Ia juga hidup di ruang-ruang akademik. Banyak kajian ilmiah disampaikan tanpa dialog dengan teks. Buku dibedah tanpa pernah dibaca. Dosen berdebat tanpa riset. Ilmu pengetahuan dikunci dalam kebenaran tunggal. Inilah bentuk lain dari oligarki pengetahuan — ketika ruang berpikir baru dianggap ancaman, bukan kesempatan. Padahal, membuka ruang pengetahuan baru tidak menghapus kebenaran lama. Ia justru membersihkan ruang berpikir yang pengap, menata meja dan kursi ide agar lebih lapang, dan memberi pencahayaan baru bagi kebenaran yang mungkin lebih jernih.
Ruang digital kini penuh isi tapi miskin makna. Media sosial membanjiri kita dengan konten, namun sedikit yang mengundang dialog. Penikmatnya sibuk menggulir, menyukai, membagikan — tapi jarang berpikir. Otak pun berubah menjadi gudang tak bertuan, penuh barang yang tak tahu siapa pemiliknya. Dialog dengan teks bukan sekadar aktivitas literasi. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan sistemik. Dengan berdialog, kita menghidupkan kembali fungsi dasar manusia: berpikir, meragukan, lalu menemukan kebenaran yang tumbuh dari kesadaran sendiri — bukan dari algoritma.
Di bulan Oktober ini POTRET kembali mengadakan lomba menulis. Dengan tema “mengapa saya malas membaca”, POTRET ingin menggali sebab utama malas membaca. Proses membaca bukan sekedar mengeja kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Namun membaca melibatkan dialog setara, karena bacaan itu mitra otak bukan bos. Sekalipun bacaan itu magnum opus dari seorang pemikir, saintis, ulama, filsuf, tetap harus ada proses dialog. Selamat membaca sambil ngopi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






