POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Berdialog dengan Teks

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
October 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Don Zakiyamani

Di dunia yang serba cepat ini, manusia lebih sering menelan informasi ketimbang mengunyahnya. Scroll, klik, bagikan. Tak ada dialog, tak ada jeda berpikir. Padahal, di balik setiap teks — dari buku, berita, hingga unggahan media sosial — selalu ada ruang untuk berdialog. Ruang itu kini makin sepi.

Adakah manusia yang berbicara dengan batu? Ada. Para geolog dan arkeolog melakukannya. Adakah manusia berdialog dengan kopi? Ada juga. Para petani dan barista melakukannya setiap hari. Maka, mengapa kita — yang saban hari disuguhi banjir informasi — tidak berdialog dengan teks, gambar, atau video yang kita lihat?

Kita hidup di zaman monolog. Zaman di mana kebenaran disampaikan sepihak, lalu diterima tanpa verifikasi. Betapa sering manusia digital mempercayai informasi yang berseliweran tanpa bertanya, tanpa ragu, tanpa berpikir. Padahal, seperti adagium klasik: “Jangan membaca buku bila percaya sepenuhnya pada isi buku.” Buku, meski telah melalui verifikasi ketat, bukanlah guru, melainkan teman dialog. Setiap paragraf seharusnya mengundang perdebatan. Setiap kalimat seharusnya menantang pikiran. Kita bukan penonton teks. Kita mitra berpikirnya.

📚 Artikel Terkait

POTRET yang Menginspirasi

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya

Balita Pencari Nafkah: Antara Kemiskinan dan Kesiapan Menjadi Orang Tua

Haus Buku (Di) Era AI

Membaca tanpa berdialog adalah seperti makan tanpa mengunyah. Informasi yang masuk tanpa proses analisis hanya akan menumpuk di kepala sebagai data mentah. Itulah sebabnya anak-anak dibatasi dalam menggunakan gawai — karena belum memiliki alat “mengunyah intelektual”. Ironisnya, orang dewasa justru makin sering menelan mentah-mentah informasi dari layar mereka. Akibatnya, kebodohan sistemik tumbuh subur. Berlandaskan unggahan palsu, orang berbicara tentang kebenaran. Celakanya, pendengarnya ikut-ikutan percaya. Kebodohan pun menular, dari satu akun menjadi seribu. Dan semua itu terjadi karena satu hal: kita berhenti berdialog dengan teks.

Fenomena ini bukan hanya penyakit media sosial. Ia juga hidup di ruang-ruang akademik. Banyak kajian ilmiah disampaikan tanpa dialog dengan teks. Buku dibedah tanpa pernah dibaca. Dosen berdebat tanpa riset. Ilmu pengetahuan dikunci dalam kebenaran tunggal. Inilah bentuk lain dari oligarki pengetahuan — ketika ruang berpikir baru dianggap ancaman, bukan kesempatan. Padahal, membuka ruang pengetahuan baru tidak menghapus kebenaran lama. Ia justru membersihkan ruang berpikir yang pengap, menata meja dan kursi ide agar lebih lapang, dan memberi pencahayaan baru bagi kebenaran yang mungkin lebih jernih.

Ruang digital kini penuh isi tapi miskin makna. Media sosial membanjiri kita dengan konten, namun sedikit yang mengundang dialog. Penikmatnya sibuk menggulir, menyukai, membagikan — tapi jarang berpikir. Otak pun berubah menjadi gudang tak bertuan, penuh barang yang tak tahu siapa pemiliknya. Dialog dengan teks bukan sekadar aktivitas literasi. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan sistemik. Dengan berdialog, kita menghidupkan kembali fungsi dasar manusia: berpikir, meragukan, lalu menemukan kebenaran yang tumbuh dari kesadaran sendiri — bukan dari algoritma.

Di bulan Oktober ini POTRET kembali mengadakan lomba menulis. Dengan tema “mengapa saya malas membaca”, POTRET ingin menggali sebab utama malas membaca. Proses membaca bukan sekedar mengeja kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Namun membaca melibatkan dialog setara, karena bacaan itu mitra otak bukan bos. Sekalipun bacaan itu magnum opus dari seorang pemikir, saintis, ulama, filsuf, tetap harus ada proses dialog. Selamat membaca sambil ngopi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Pembelajaran yang Memuliakan

Pembelajaran yang Memuliakan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00