POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membangun Ulang Jiwa Kampus: Menghidupkan Ashabiyah Ibnu Khaldun di Tengah Krisis Solidaritas Akademik

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
September 19, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Di tengah gegap gempita jargon internasionalisasi dan perburuan ranking global, kampus-kampus kita menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar: pudarnya jiwa kebersamaan akademik. Perguruan tinggi hari ini kerap terlihat megah dari luar, dengan gedung baru dan program prestisius, tetapi di dalamnya, ikatan moral antara dosen, mahasiswa, dan pengelola semakin rapuh.

Dalam Muqaddimah-nya yang monumental, Ibnu Khaldun, sejarawan dan sosiolog Muslim abad ke-14, merumuskan konsep Ashabiyah—sebuah bentuk solidaritas kolektif yang menjadi fondasi muncul dan runtuhnya peradaban. Konsep ini bukan sekadar ikatan emosional atau kekerabatan, tetapi kekuatan moral yang mengikat komunitas dalam satu visi perjuangan

Pemikiran Ibnu Khaldun, dalam karyanya masih relevan hingga kini, menyebutnya dengan istilah Ashabiyah. Bukan sekadar solidaritas emosional, Ashabiyah adalah ruh kolektif yang membuat sebuah komunitas bergerak dalam visi dan perjuangan bersama. Tanpa itu, sebuah institusi—sekuat apa pun fasilitasnya—akan perlahan menuju keruntuhan.

Kampus dan Siklus Pudarnya Solidaritas

Khaldun mengingatkan bahwa setiap entitas sosial memiliki siklus hidup: lahir dengan idealisme, tumbuh dengan semangat, lalu perlahan menua dan melemah ketika kebersamaan hilang.

Jika kita bercermin, banyak kampus di Indonesia melewati fase yang sama:

• Fase awal: didirikan dengan semangat pengabdian, gotong royong, dan cita-cita mencerdaskan bangsa.

• Fase pertumbuhan: orientasi bergeser pada ekspansi fisik, peringkat global, hingga komersialisasi pendidikan.

• Fase stagnasi: solidaritas akademik merosot. Nilai bukan lagi cermin integritas, tetapi sekadar angka administratif.

Sebuah riset World Education Futures Forum (2024) bahkan menyebut 60% perguruan tinggi di Asia Tenggara mengalami penurunan kualitas akademik akibat melemahnya budaya kolaborasi dan kepemimpinan internal yang timpang.

Menghidupkan Kembali Ashabiyah Akademik

📚 Artikel Terkait

SARINAH

Ketika Wajah Perempuan Muncul di Tengah Demonstrasi: Potret Perjuangan dan Resistensi

Semangat Islam Abdullah bin Umar

Kutangkap Kelam

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa keadilan, nilai luhur, dan solidaritas kolektif adalah fondasi yang tak bisa digantikan. Kampus bukan mesin produksi ijazah, tetapi rumah bersama untuk membentuk manusia berilmu dan berakhlak.

Ada tiga hal mendesak untuk memulihkan Ashabiyah akademik:

1. Membangun komunitas akademik yang humanis.

Dosen dan mahasiswa bukan sekadar pengajar dan peserta didik, melainkan mitra dalam mencari ilmu. Program kolaboratif, kebijakan rekrutmen berbasis nilai, dan penegakan meritokrasi harus jadi budaya kampus.

2. Merombak birokrasi yang kaku.

Kampus yang terjebak pada administrasi dan angka kehilangan fleksibilitas inovatif. Manajemen partisipatif, yang melibatkan komunitas akademik, menjadi kunci agar keputusan tidak hanya lahir dari meja rapat elit birokrasi.

3. Menegakkan keadilan akses.

Pendidikan tinggi hanya bermakna jika memberi kesempatan setara bagi semua anak bangsa. Transparansi anggaran, distribusi beasiswa yang adil, dan pengurangan kesenjangan antara perguruan tinggi negeri dan swasta adalah langkah nyata.

Solidaritas Digital: Ashabiyah Era Baru

Kita hidup di era digital, di mana solidaritas akademik bisa lahir lewat kolaborasi lintas kampus, riset bersama, hingga berbagi pengetahuan secara terbuka. Ashabiyah akademik tak lagi terbatas ruang fisik, tetapi juga bisa bertumbuh di ruang maya.

Inilah modal baru—spiritual dan digital capital—yang harus diarusutamakan dalam kurikulum maupun tata kelola kampus.

Refleksi: Kampus Tanpa Jiwa

Sejarah membuktikan, institusi yang besar bukan hanya dibangun dengan beton, melainkan oleh kepercayaan dan kebersamaan. Ketika dosen berjalan sendiri, mahasiswa merasa asing di kampusnya, dan birokrasi bekerja tanpa nurani, maka sebenarnya proses keruntuhan sudah dimulai.

Ibnu Khaldun pernah mengingatkan: “Jika solidaritas punah, maka kekuasaan runtuh.” Dalam konteks pendidikan, solidaritas itu adalah Ashabiyah akademik. Tanpanya, kampus hanyalah bangunan kosong tanpa jiwa.

Kini saatnya menghidupkan kembali semangat kebersamaan itu. Kampus harus kembali menjadi rumah bersama, tempat tumbuhnya keadilan, ilmu, dan masa depan bangsa yang beradab.

’Wallahu A’lam bissawab’

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00