• Latest

Membangun Ulang Jiwa Kampus: Menghidupkan Ashabiyah Ibnu Khaldun di Tengah Krisis Solidaritas Akademik

September 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membangun Ulang Jiwa Kampus: Menghidupkan Ashabiyah Ibnu Khaldun di Tengah Krisis Solidaritas Akademik

Hanif Arsyadby Hanif Arsyad
September 19, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Hanif Arsyad

Di tengah gegap gempita jargon internasionalisasi dan perburuan ranking global, kampus-kampus kita menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar: pudarnya jiwa kebersamaan akademik. Perguruan tinggi hari ini kerap terlihat megah dari luar, dengan gedung baru dan program prestisius, tetapi di dalamnya, ikatan moral antara dosen, mahasiswa, dan pengelola semakin rapuh.

Dalam Muqaddimah-nya yang monumental, Ibnu Khaldun, sejarawan dan sosiolog Muslim abad ke-14, merumuskan konsep Ashabiyah—sebuah bentuk solidaritas kolektif yang menjadi fondasi muncul dan runtuhnya peradaban. Konsep ini bukan sekadar ikatan emosional atau kekerabatan, tetapi kekuatan moral yang mengikat komunitas dalam satu visi perjuangan

Pemikiran Ibnu Khaldun, dalam karyanya masih relevan hingga kini, menyebutnya dengan istilah Ashabiyah. Bukan sekadar solidaritas emosional, Ashabiyah adalah ruh kolektif yang membuat sebuah komunitas bergerak dalam visi dan perjuangan bersama. Tanpa itu, sebuah institusi—sekuat apa pun fasilitasnya—akan perlahan menuju keruntuhan.

Kampus dan Siklus Pudarnya Solidaritas

Khaldun mengingatkan bahwa setiap entitas sosial memiliki siklus hidup: lahir dengan idealisme, tumbuh dengan semangat, lalu perlahan menua dan melemah ketika kebersamaan hilang.

Jika kita bercermin, banyak kampus di Indonesia melewati fase yang sama:

• Fase awal: didirikan dengan semangat pengabdian, gotong royong, dan cita-cita mencerdaskan bangsa.

• Fase pertumbuhan: orientasi bergeser pada ekspansi fisik, peringkat global, hingga komersialisasi pendidikan.

• Fase stagnasi: solidaritas akademik merosot. Nilai bukan lagi cermin integritas, tetapi sekadar angka administratif.

Sebuah riset World Education Futures Forum (2024) bahkan menyebut 60% perguruan tinggi di Asia Tenggara mengalami penurunan kualitas akademik akibat melemahnya budaya kolaborasi dan kepemimpinan internal yang timpang.

Menghidupkan Kembali Ashabiyah Akademik

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa keadilan, nilai luhur, dan solidaritas kolektif adalah fondasi yang tak bisa digantikan. Kampus bukan mesin produksi ijazah, tetapi rumah bersama untuk membentuk manusia berilmu dan berakhlak.

Ada tiga hal mendesak untuk memulihkan Ashabiyah akademik:

1. Membangun komunitas akademik yang humanis.

Dosen dan mahasiswa bukan sekadar pengajar dan peserta didik, melainkan mitra dalam mencari ilmu. Program kolaboratif, kebijakan rekrutmen berbasis nilai, dan penegakan meritokrasi harus jadi budaya kampus.

2. Merombak birokrasi yang kaku.

Kampus yang terjebak pada administrasi dan angka kehilangan fleksibilitas inovatif. Manajemen partisipatif, yang melibatkan komunitas akademik, menjadi kunci agar keputusan tidak hanya lahir dari meja rapat elit birokrasi.

3. Menegakkan keadilan akses.

Pendidikan tinggi hanya bermakna jika memberi kesempatan setara bagi semua anak bangsa. Transparansi anggaran, distribusi beasiswa yang adil, dan pengurangan kesenjangan antara perguruan tinggi negeri dan swasta adalah langkah nyata.

Solidaritas Digital: Ashabiyah Era Baru

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
ADVERTISEMENT

Kita hidup di era digital, di mana solidaritas akademik bisa lahir lewat kolaborasi lintas kampus, riset bersama, hingga berbagi pengetahuan secara terbuka. Ashabiyah akademik tak lagi terbatas ruang fisik, tetapi juga bisa bertumbuh di ruang maya.

Inilah modal baru—spiritual dan digital capital—yang harus diarusutamakan dalam kurikulum maupun tata kelola kampus.

Refleksi: Kampus Tanpa Jiwa

Sejarah membuktikan, institusi yang besar bukan hanya dibangun dengan beton, melainkan oleh kepercayaan dan kebersamaan. Ketika dosen berjalan sendiri, mahasiswa merasa asing di kampusnya, dan birokrasi bekerja tanpa nurani, maka sebenarnya proses keruntuhan sudah dimulai.

Ibnu Khaldun pernah mengingatkan: “Jika solidaritas punah, maka kekuasaan runtuh.” Dalam konteks pendidikan, solidaritas itu adalah Ashabiyah akademik. Tanpanya, kampus hanyalah bangunan kosong tanpa jiwa.

Kini saatnya menghidupkan kembali semangat kebersamaan itu. Kampus harus kembali menjadi rumah bersama, tempat tumbuhnya keadilan, ilmu, dan masa depan bangsa yang beradab.

’Wallahu A’lam bissawab’

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com