POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Kampus

Dialetika Kampus

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Mei 5, 2026
in Kampus
0
ChatGPT Image 5 Mei 2026, 02.39.46_11zon

Oleh : Novita Sari Yahya

Dialog drama dialetika kampus terdapat dalam buku self love: rumah perlindungan diri

Drama Kampus 3 Babak tentang Gerakan Mahasiswa, Represi, dan Kebebasan Akademik
Karya: Novita Sari Yahya

Baca Juga
  • 719d1a9e-8d13-4b23-99b8-4f0a2a3c1bc6
    Artikel
    Tegas! Rektor UI “Tugas Kampus Cetak Sarjana, Bukan Koki!”
    06 Mei 2026
  • 02
    Aceh
    Warung Kopi di Aceh Layaknya Kampus
    26 Nov 2017

DAFTAR TOKOH

Raka — Mahasiswa ilmu politik, idealis

Baca Juga
  • IMG_0631
    Artikel
    Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar
    05 Apr 2026
  • 02
    bimbingan karier
    Mencari Jalan Keluar Ketika Tersesat di Belantara Kampus
    15 Apr 2021

Mira — Aktivis pers kampus, reflektif

Bagas — Mahasiswa hukum, logis

Baca Juga
  • IMG_1084
    Artikel
    Di Antara Absensi dan Adzan: Catatan dari Masjid Kampus UNIKI Bireuen di Era Digital
    06 Mei 2026
  • 02
    Kampus
    Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi
    18 Des 2025

Sinta — Mahasiswi baru, pengamat

Dosen Arif — Dosen sosiologi politik

Pejabat Kampus — Representasi institusi

Narator

BABAK I — BENIH PERTANYAAN

Adegan 1 — Taman Kampus, Pagi

(Suasana santai. Mahasiswa duduk melingkar.)

Narator:
Setiap gerakan selalu dimulai dari pertanyaan kecil. Dari rasa tidak puas yang belum menemukan bahasa.

Raka:
“Kalian pernah merasa kampus ini tenang sekali? Terlalu tenang.”

Bagas:
“Tenang bukan berarti sehat. Kadang itu tanda semua orang memilih diam.”

Sinta:
“Memangnya mahasiswa harus selalu gelisah?”

Mira:
“Bukan gelisah. Tapi peka. Kalau ruang pikir mati, kampus kehilangan maknanya.”

Adegan 2 — Diskusi Terbuka

Raka:
“Aku ingat kritik Rocky Gerung soal intelektual yang kehilangan keberanian. Itu seperti peringatan.”

Bagas:
“Karena kalau yang berpikir berhenti bicara, ruang publik diisi mereka yang hanya mengandalkan kekuatan.”

Mira:
“Fenomena yang juga dibahas Ian Wilson tentang kuasa informal di jalanan.”

(Mahasiswa lain mulai memperhatikan.)

Adegan 3 — Kesepakatan

Raka:
“Bagaimana kalau kita bikin forum diskusi terbuka tentang kebebasan akademik?”

Mira:
“Aku bisa bantu dari pers kampus.”

Bagas:
“Aku urus aspek hukum dan perizinan.”

Narator:
Dan begitulah, sebuah ide kecil mulai bergerak.

(Lampu redup.)

BABAK II — GELOMBANG DAN TEKANAN

Adegan 1 — Aula Kampus

(Poster diskusi terpasang. Mahasiswa berkumpul.)

Dosen Arif:
“Kebebasan akademik bukan sekadar hak berbicara. Ia adalah fondasi ilmu pengetahuan.”

Sinta:
“Pak, kenapa kebebasan itu sering terasa rapuh?”

Dosen Arif:
“Karena ia selalu berada di antara pengetahuan dan kekuasaan.”

Adegan 2 — Diskusi Memanas

Raka:
“Sejarah menunjukkan, mahasiswa sering jadi pengingat negara.”

Bagas:
“Dan tokoh seperti Hariman Siregar membuktikan risiko dari keberanian itu.”

Mira:
“Pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi risiko yang sama?”

(Suasana tegang.)

Adegan 3 — Intervensi

(Pejabat Kampus masuk.)

Pejabat Kampus:
“Kegiatan diskusi ini harus menjaga stabilitas kampus. Jangan sampai memicu kegaduhan.”

Raka:
“Diskusi bukan kegaduhan. Justru cara mencegah konflik.”

Pejabat Kampus:
“Kebebasan tetap ada batasnya.”

(Pejabat keluar. Suasana hening.)

Adegan 4 — Monolog Raka

(Lampu fokus.)

Raka:
“Apakah keberanian selalu dianggap ancaman? Atau justru kita yang terlalu takut kehilangan kenyamanan?”

(Lampu kembali normal.)

BABAK III — KESADARAN DAN HARAPAN

Adegan 1 — Malam di Kampus

(Suasana lebih tenang.)

Mira:
“Aku baru sadar, perjuangan bukan hanya soal aksi. Tapi menjaga ruang dialog tetap hidup.”

Bagas:
“Hukum bisa mengatur, tapi nalar publik yang menentukan arah.”

Sinta:
“Berarti mahasiswa bukan hanya pengkritik, tapi penjaga akal sehat?”

Dosen Arif:
“Tepat sekali.”

Adegan 2 — Resolusi

Raka:
“Kita lanjutkan forum ini secara rutin. Bukan untuk melawan, tapi untuk merawat ruang berpikir.”

Mira:
“Karena demokrasi tidak hanya lahir di parlemen, tapi juga di ruang diskusi.”

Bagas:
“Dan sejarah membuktikan, ide selalu lebih kuat dari rasa takut.”

Adegan 3 — Penutup

(Semua tokoh berdiri di depan panggung.)

Narator:
Gerakan mahasiswa bukan sekadar aksi di jalan. Ia adalah percakapan panjang tentang keberanian berpikir. Selama kampus masih menjadi ruang dialog, harapan tidak akan pernah sunyi.

(Lampu perlahan padam.)

CATATAN PEMENTASAN

Durasi: ±60–75 menit

Tema musik: instrumental minimalis / suara ambience kampus

Setting: kursi, meja diskusi, poster, papan tulis

Gaya akting: realis, dialog natural

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812
Tags: #analisisArtikelLiterasi
Previous Post

Bedah Buku – Also sprach Zarathustra

Next Post

Budaya CANTIK

Next Post
Dialetika Kampus - 829b57d8 0a91 4338 b850 2dd175f40d66 | Kampus | Potret Online

Budaya CANTIK

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah