POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

TA Khalid dan Krue Seumangat dari Rantau: Nyala Harapan dari Negeri yang Pernah Berdarah

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
September 14, 2025
What is Scholasticide?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Sudah dua puluh tahun berlalu sejak MoU Helsinki ditandatangani. Dua dekade penuh harapan, namun juga penuh kekecewaan. Di kampus-kampus, di warung kopi, di ruang-ruang diskusi diaspora Aceh di Denmark, Norwegia, Swedia, Jerman, dan Belanda, satu pertanyaan terus bergema: Mengapa UUPA belum direvisi sesuai dengan semangat perdamaian?Mengapa tidak ada satu pun manok agam yang berani bersuara lantang di Senayan?

Kini, nama TA Khalid muncul sebagai satu-satunya “Singa Aceh” yang berani mencetuskan revisi UUPA secara terbuka dan tegas. Ia tidak bicara dengan suara gemetar. Ia tidak menyembunyikan niatnya di balik jargon politik. Ia berdiri di tengah ruang Badan Legislasi DPR RI dan menyatakan bahwa revisi UUPA harus masuk Prolegnas Prioritas Kumulatif Terbuka tahun 2025. Ini bukan sekadar usulan teknis. Ini adalah panggilan sejarah.

Dukungan dari Rantau: Krue Seumangat yang Membara

Saya menerima pesan-pesan dari sahabat-sahabat Aceh eksil di Eropa. Mereka yang dulu terpaksa meninggalkan tanah kelahiran karena konflik, kini menyuarakan dukungan penuh terhadap perjuangan TA Khalid. Di Denmark, para mantan aktivis GAM yang kini menjadi akademisi menulis surat terbuka. Di Swedia, komunitas Aceh diaspora menggelar diskusi daring bertajuk “UUPA dan Masa Depan Perdamaian Aceh.”Di Jerman dan Belanda, mahasiswa Aceh menggalang petisi digital yang mendesak DPR RI untuk mendengarkan suara rakyat Aceh.

Mereka menyebut perjuangan ini sebagai Krue Seumangat—nyala semangat yang tidak pernah padam, meski jauh dari tanah rencong. Mereka tahu bahwa jika UUPA gagal direvisi sesuai MoU Helsinki, maka luka lama akan menganga kembali. Mereka tahu bahwa konflik Aceh telah menelan ratusan ribu nyawa, dan bahwa nyawa orang Aceh pernah dianggap murah, seolah-olah hanya angka dalam laporan militer.

📚 Artikel Terkait

Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta

Guru Dibekali Keterampilan AI dan Etika Bermedia Sosial dalam Bimtek Konten Digital

Tahun Baru, Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula

Pajak Turun, Utang Naik

Nyawa, Konstitusi, dan Harga Diri

Sebagai antropolog Aceh, saya tidak bisa menutup mata. Saya tahu bahwa UUPA bukan sekadar dokumen hukum. Ia adalah simbol harga diri, pengakuan atas sejarah, dan janji bahwa darah yang tumpah dulu tidak sia-sia. Jika janji ini diingkari, maka kita sedang bermain-main dengan bara yang belum padam.

Boyd R. Compton pernah menulis dalam Kemelut Demokrasi Liberal:

“Demokrasi yang gagal memahami aspirasi lokal akan selalu berhadapan dengan resistensi yang tak kunjung padam.”

TA Khalid memahami ini. Ia tidak bicara atas nama partai, tapi atas nama rakyat Aceh yang menanti keadilan. Ia adalah suara yang selama ini hilang. Ia adalah manok agam yang akhirnya berani terbang melawan angin.

Saya menulis ini dengan harapan bahwa suara-suara dari rantau, dari kampus, dari eksil, dan dari tanah Aceh sendiri akan bersatu. Bahwa Krue Seumangat akan menjadi api yang menerangi jalan revisi UUPA. Dan bahwa kita tidak akan membiarkan sejarah Aceh kembali berdarah karena kelalaian politik.

Aceh tidak butuh janji. Aceh butuh keberanian. TA Khalid telah memulainya. Jangan biarkan ia berjalan sendiri.

Leiden, 14 September 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Menjelaskan Di Balik Aksi Protes Dan Kerusuhan 2025 (1)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00