POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Tahun Baru, Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula

Redaksi by Redaksi
Januari 1, 2026
in Essay, Indonesia, Indonesiana, Kopi
0
Tahun Baru, Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula - f875c645 4b15 4d6d a4eb d15dbaefaf3c | Essay | Potret Online

*Oleh: Agung Marsudi

Pecinta Indonesia

TAHUN BARU 2026 terlalu pahit untuk rakyat, apalagi bagi masyarakat Sumatera Bagian Utara. Bencana banjir bandang datang merenggut harapan, hidup dan masa depan.

Baca Juga
Environment
Too Much Waste! Indonesia in Crisis of ‘Over-waste’
25 Mei 2018

Dari segelas kopi excelsa tanpa gula, ada sejumput cerita, jika kesimpulan penyebab bencana banjir bandang Sumatera adalah hutan, hantu, tuhan. Tiga kata, berasal dari huruf-huruf yang sama, beda makna.

Dari segelas kopi excelsa tanpa gula, ditemani kue bolu jaman dulu, gambar tiga bintang, citra menjangan, tak ada dialektika, 10 tahun pemerintahan Jokowi, kewarasan dan intelektualitas digiring ke gorong-gorong. Politik itu citra blusukan.

Baca Juga
Essay
Akhirnya, UI Dikencingi Ramai – Ramai
20 Jul 2021

Kini era Prabowo, masih segar dalam ingatan yang dalam pidato politiknya berteriak lantang, “Hidup Jokowi!”. Sebuah paradoks Indonesia, yang mengajarkan, bahwa untuk bahagia gak perlu negara, untuk sejahtera gak butuh Pilkada. Adagium kuno, “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” seperti janji palsu bernegara. Negara dikuasai partai politik, penyelenggara negara diatur oligarki. Bangsa dibiarkan berjalan tanpa haluan.

Berbangsa, dan bernegara tenggelam di air bah Desember “gede-gedene sumber”. Bulan bencana, katanya bangga “Sawit adalah kita”. Semerdu aksi para relawan, “Jokowi adalah kita”.

Tahun Baru, Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula - IMG 20250224 WA0003 | Essay | Potret Online
Baca Juga
#Danantara,
Danantara Diresmikan, Indonesia Cerah?
24 Feb 2025

Desember membawa kayu-kayu gelondongan di halaman rumah dan bangunan tersisa di Sumatera Bagian Utara. Mereka pantas dikunjungi, layak difoto, lalu dimedsoskan. Dan, jangan lupa “kayu-kayu gelondongan itu” milik negara. 

Atas nama negara, kekuasaan apapun itu selalu makan korban. Bukti “serakahnomics” entah oleh siapa.

Masih ingat, drama politik kongres PSI di Solo? Kongres partai “mawar” merah, tapi sudah berlogo “gajah”. 

Masih ingat, komedian Abdel, yang menyebut sudah hidup di tujuh presiden; Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Prabowo. “Eh, kelewatan ya, Jokowi. Menurut lu kelewatan gak Jokowi?”

Jokowi dan Prabowo, bukan tokoh baru. Prabowo-Gibran itu sama dengan Prabowo-Jokowi diam-diam. Tahun Baru ini, pastilah tanpa kembang api, karena api simbol penyulut revolusi. 

Dengan menirukan pidato pak Prabowo, saya akhiri tulisan pendek awal tahun ini dengan ucapan, “Hidup Jokowi!”

Untuk Ibu Pertiwi, “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami!”

*Solo, 1 Januari 2026*

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Tahun Baru, Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula - IMG_9200 | Essay | Potret Online

Ketika yang Tak Viral, Tak Penting

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah