POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Dari Warung Gampong ke Seulawah: Demokrasi Ekonomi dan Politik Pancasila di Aceh

RedaksiOleh Redaksi
September 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Ditulis oleh Muhamad Ihwan

Suasana ruang Zoom Meeting itu sederhana, wajah-wajah peserta berjejer rapi di layar. Meski hanya virtual, Diklat Ideologi Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan ANRI terasa hidup. 

Para pengajar maheswara, begitu istilahnya tak hanya menyampaikan materi, melainkan mengajak kami merenung. Salah satu kalimat yang menancap: “Ekonomi Pancasila adalah jalan tengah: bukan kapitalisme yang rakus, bukan sosialisme yang mengebiri inisiatif.”

Kalimat itu mengiang lama, terutama bagi saya yang sudah lima tahun lebih bertugas di Aceh. Sebab di tanah ini, Pancasila bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam tradisi kenduri, gotong royong pasca-tsunami, budaya minum kopi, hingga cara masyarakat menjaga alam dan memuliakan tamu. Aceh adalah laboratorium kecil bagaimana Pancasila menemukan wujud paling konkritnya.

Kenduri dan Gotong Royong: Ekonomi Pancasila di Meja Makan

Setiap bulan Rabiul Awal, masyarakat Aceh punya tradisi: Kenduri Maulid. Mereka yang mampu dianggap tabu bila tidak ikut serta. Seekor kerbau atau sapi dibeli bersama, dipotong, lalu dimasak jadi kuah beulangong yang beraroma rempah. Semua orang, tanpa pandang status, duduk bersila menyantap hidangan.

Ini bukan sekadar pesta kuliner. Kenduri Maulid adalah wajah asli sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang kaya berbagi, yang kurang mampu mendapat tempat, semua merasa terhormat. Di Aceh, gotong royong bukan istilah di buku pelajaran, tapi laku sehari-hari yang terus diwariskan.

Aceh Pasca-Tsunami: Pancasila yang Menyelamatkan

Ketika gempa dan tsunami 2004 meluluhlantakkan Aceh, ribuan nyawa melayang, arsip berharga hanyut, rumah-rumah rata dengan tanah. Namun, dari puing-puing itu lahir kembali semangat gotong royong. Masyarakat bahu-membahu membangun gampong, mendirikan kembali meunasah, membersihkan jalan, bahkan menolong tetangga yang kehilangan segalanya.

Data BRR NAD-Nias mencatat lebih dari 140 ribu rumah dibangun kembali dalam waktu relatif singkat berkat kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional. Inilah sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang menemukan makna paling nyata.

Syariat Islam dan Ketuhanan yang Maha Esa

Aceh juga punya corak khas dalam menerjemahkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Syariat Islam berlaku di ranah publik bagi Muslim, sementara non-Muslim dihormati untuk tetap menjalankan keyakinannya.

Ketaatan itu tampak nyata di jalan-jalan kota. Saat azan Magrib berkumandang, toko, warung kopi, dan roda bisnis berhenti serentak. Aktivitas ekonomi tunduk pada panggilan Tuhan. Di titik inilah ekonomi dan iman saling berpelukan: keuntungan duniawi tak boleh mengalahkan kewajiban ukhrawi.

📚 Artikel Terkait

Meupu Keuh Dali Asoe Dalam Tah

Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Tradisi Mudik Produk Budaya Masyarakat Urban

Dua Setangkai Puisi Rosli K. Matari

Warung Gampong dan Ekonomi Lokal

Jika di kota-kota besar orang lebih senang ke supermarket, masyarakat Aceh punya kebiasaan lain: belanja di warung gampong. Warung kecil bukan sekadar tempat membeli gula atau minyak, tetapi juga ruang interaksi sosial, tempat gosip politik hingga musyawarah kecil tentang sawah dan laut.

Data BPS Aceh menunjukkan, lebih dari 70% aktivitas perdagangan ritel di wilayah pedesaan masih ditopang oleh warung lokal. Inilah wujud nyata sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang mengalir sampai ke ruang ekonomi.

Alam dan Budaya: Menjaga Kehidupan Bersama

Aceh masih asri. Di subuh yang hening, burung-burung melintas di langit Lhokseumawe, udara segar berhembus dari hutan di Gayo. Penduduknya ramah, memuliakan tamu peumulia jamee seperti pepatah yang mereka pegang teguh: tamu adalah raja.

Budaya minum kopi yang menjamur di setiap sudut kota adalah simbol lain keterbukaan. Warung kopi bukan sekadar tempat menyeruput robusta Ulee Kareng, melainkan forum musyawarah. Di sana politik dibicarakan, ekonomi dirundingkan, dan silaturahmi dirawat.

Dari Seulawah untuk Republik

Sejarah juga mencatat peran Aceh di masa awal Republik. Tahun 1948, Presiden Soekarno datang ke Banda Aceh bukan sekadar mencari simpati, melainkan dukungan nyata. Rakyat Aceh, yang kala itu hidup sederhana, mengumpulkan emas, uang, dan harta benda untuk negara. Dari sumbangan itu lahirlah Pesawat Dakota Seulawah 1, cikal bakal Garuda Indonesia Airways.

Tak berhenti di situ, emas dari masyarakat Aceh juga turut menopang pembangunan Monumen Nasional (Monas), simbol kejayaan bangsa yang berdiri di jantung Jakarta. Gotong royong Aceh melampaui batas wilayah, menyatu dengan sejarah bangsa.

Demokrasi Politik di Gampong

Dalam politik, demokrasi di Aceh menemukan bentuk paling akar rumput. Kepala gampong (keuchik) dipilih langsung oleh masyarakat, bukan ditunjuk oleh pemerintah daerah. Di sini, sila keempat tidak berhenti di teks konstitusi, tapi hidup dalam praktik sehari-hari: musyawarah, pemilihan, dan tanggung jawab kolektif.

Menjaga Pancasila di Tengah Globalisasi

Kini, di tengah arus globalisasi dan integrasi ekonomi dunia dari BRICS hingga pasar bebas ASEAN Indonesia ditantang untuk tetap setia pada Pancasila. Aceh memberi pelajaran: bahwa global bisa diterima tanpa kehilangan lokal. Warung gampong tetap hidup meski minimarket masuk, syariat tetap berjalan meski pariwisata tumbuh, gotong royong tetap lestari meski kapitalisme merayap.

Penutup: Pancasila dari Aceh untuk Indonesia

Mengikuti Diklat Pancasila secara online, saya tersadar: nilai-nilai Pancasila bukan sekadar wacana akademik. Ia hidup, bekerja diam-diam di gampong-gampong, di meja kenduri, di warung kopi, di jalanan yang lengang ketika azan berkumandang, dan bahkan dalam sejarah besar ketika Aceh menyumbang pesawat dan emas untuk Republik.

Aceh adalah cermin kecil bagaimana Pancasila bisa tetap relevan. Dari ruang Zoom ke warung gampong, dari masjid ke meja musyawarah, dari Seulawah hingga Monas semuanya bersuara lantang: Pancasila bukan sekadar dasar negara, ia adalah napas bangsa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Kritik Bentuk Peduli, Bukan Menghakimi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00