Dengarkan Artikel
Fatamorgana Kursi
Oleh Nyakman Lamjame
Kursi hanyalah bayang di padang tandus,
seperti fatamorgana yang dijadikan oase.
Mereka berlari ke arahnya dengan nafas terengah,
mengira di sana ada air penawar dahaga,
padahal yang tersisa hanyalah pasir
dan pantulan wajah mereka sendiri.
Keserakahan, sesungguhnya bukan emas,
melainkan debu yang berkilau dalam cahaya senja.
Tangan yang meraihnya akan kembali kosong,
seperti menggenggam asap,
seperti menadah angin.
📚 Artikel Terkait
Rakyat pun menjadi semacam nama sakral
yang dipanggil di mimbar-mimbar megah,
namun tidak pernah ditemui
di lorong-lorong sempit tempat lapar berdiam.
O, negeri,
sejarah tidak pernah tidur:
ia mencatat bisik-bisik dalam rapat
sebagaimana ia mencatat jerit di jalan.
Dan waktu, dengan pena yang abadi,
menulis di lembar takdir:
bahwa kursi yang dipuja hari ini
akan reput besok,
meninggalkan hanya debu,
dan debu itu akan kembali ke debu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






