Dengarkan Artikel
Sekumpulan Puisi Karya: S. Sigit Prasojo
Aku menghambur di jalan binatang—
tempat matahari mengerut seperti puntung
dan tanah lebih setia memeluk bangkai.
Sumpah serapah kuyup di kepalaku,
ludah dunia mengering di mukaku.
Tak ada kitab suci,
tak ada sabda penyelamat—
hanya gelegak perut
dan dengus sepatu berkarat
yang kutarik-tarik di petak busuk ini.
Aku menendang waktu:
ia menertawai aku dengan gigi ompongnya.
Aku meludahi langit:
langit melempar batu ke ubun-ubunku.
Orang-orang bilang:
hidup itu perjalanan.
Bagiku—
hidup adalah jalan bangkai,
kuburan yang menelan tulang-tulangku satu demi satu.
Pernah kutulis mimpi di dinding retak:
sekarang tinggal serpih,
dihajar angin seperti anjing kehilangan tuannya.
Aku berangkat—
dengan lutut patah,
paru-paru koyak,
dan hati yang diseret ke pasar
untuk dijadikan umpan serigala lapar.
Dan aku tahu:
tak ada pulang.
Tak ada tangan menadah tubuhku.
Tak ada nama yang dipanggil malam.
Hanya ada aku,
ada aspal luka,
dan dunia—
dunia yang mengasah kuku
untuk menguliti tubuhku,
sedikit demi sedikit.
Ponorogo, April 2025
Pulang
Aku pulang—
dengan telapak kaki compang-camping,
dengan napas diseret lumpur hitam.
Orang-orang berkumpul di ujung jalan,
mengacungkan tangan,
bukan untuk menyambut—
tapi untuk menuding dosa yang menetes dari pundakku.
Rumah itu,
tak lebih dari bangkai reot,
atapnya dikencingi hujan,
dindingnya digerogoti dendam bertahun-tahun.
Aku pulang—
membawa kepala bocor oleh janji,
membawa tubuh tergores sunyi,
membawa mimpi-mimpi mati dalam karung.
Ibu mengatupkan bibir kering,
ayah memalingkan wajah kosong,
adikku—
menggenggam mainan dari sisa peluru dan amarah.
Tak ada pangkuan,
tak ada roti hangat,
hanya tikar lapuk yang merintih
bersama dengkuran malam beraroma anyir.
Aku pulang—
seperti binatang diseret pulang ke kandang
bukan karena dirindukan,
tapi karena dunia sudah bosan memburuku.
Pulang, katanya, adalah kemenangan.
Bagiku:
pulang adalah liang kosong
yang diberi papan nama.
Aku tidur,
memeluk serpihan bantal berlubang,
dan berharap tak lagi bermimpi.
Karena di sini—
bahkan mimpi pun diburu anjing-anjing lapar,
dan ditelan pagi dengan ludah getir.
Ponorogo, April 2025
PUAH!
tiga palu pecah di ubun-ubun
lima matahari runtuh di lututku
sebelas kuku mencongkel langit
seribu gigi menggigit waktu
darah — darah — darah
menyanyi di pori-pori
menyanyi di ketiak bumi
menyanyi di nadi kuda besi
puah!
📚 Artikel Terkait
darah jadi api
api jadi besi
besi jadi doa
doa jadi luka
dan darah —
darah berdegung!
darah berderam!
darah berdering!
dalam darah —
ada burung sayap patah
ada lonceng tanpa lidah
darah — darah — darah
menari di dindingku
menari di mataku
menari di mulutku
sampai aku
jadi dentang terakhir —
di nisan besi
yang tertawa
dalam
sunyi
Lengkung, Agustus 2025
DI UJUNG GELANGGANG
Aku lempar mata ke batu-batu retak,
angin mengiris, menampar kuping tua zaman.
Ada darah, ada getir — aku kunyah.
Biar! Dunia ini bukan ranjang pengasih.
Aku menanam luka di pundakku,
menjerit pada langit lapuk
yang tak sudi lagi mengingat.
Aku —
serabut langkah yang digerus hari,
tapi masih mengepal janji
yang digali dari bara sendiri.
Takdir,
kau cuma gonggongan
yang kulewati
sambil tertawa tanpa gigi.
Ponorogo,2025
LUKA TAK MINTA AMPUN
Aku hantamkan kepala pada pagi beku,
langkah koyak, dada terburai angin besi.
Tak ada doa,
tak ada tangan penawar.
Aku,
menghirup debu yang mencibir,
menghisap getir sampai mulut hilang rasa,
dan tetap mengacungkan gigi keringku —
ke arah siapa saja
yang menyangka aku roboh.
Aku,
pecahan batu yang menolak pulang,
punggung patah, mulut getir,
tapi mata tetap menggugat
ke dasar segala takdir.
Ponorogo,2025
LANGIT YANG GERAM
Aku tempelakkan nadi ke bumi cadas,
menghunus malam dari kelam yang basi.
Takdir — kau boleh meludah dari singgasana usangmu,
aku tetap mengayun tinju,
menggertak jarak,
menyobek gigil.
Aku berdiri,
dengan dada bolong dan tangan compang,
berteriak pada sunyi yang membatu:
Tak semuanya lahir untuk tunduk!
Aku —
bayang yang mencabik,
bara yang menghardik,
tak sudi berlutut meski tulang retak.
Ponorogo,2025
Email: sprasojo0@gamil.com
Akun Instagram: @maz_prasojo
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






