POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Jalanan Menjadi Mimbar Demokrasi: Suara Rakyat yang Tak Boleh Dibungkam

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
September 5, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman, 

Jalanan yang Menjerit

Di negara demokrasi, jalanan seharusnya menjadi ruang aman bagi suara rakyat. Tetapi hari-hari ini, jalanan justru lebih sering menjadi saksi luka: bentrokan, korban jiwa, dan bangunan yang terbakar. Apakah ini karena rakyat yang “brutal”? Tidak. Ini karena negara sering tuli, dan sebagian elit justru lihai menunggangi keresahan menjadi panggung kepentingan.

Demo bukanlah dosa. Ia lahir karena suara rakyat terlalu lama diabaikan. Jalanan hanya menjadi opsi terakhir, ketika ruang dialog dikunci rapat dan kebijakan tetap berjalan seolah rakyat hanyalah penonton tak bersuara.

Esensi Demo: Hak, Bukan Anarki

Demo bukanlah anarki. Ia adalah bahasa rakyat, bahasa yang diakui konstitusi. Pasal 28E UUD 1945 jelas menyatakan hak berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Mengkriminalisasi demo sama saja mengkhianati demokrasi yang katanya diperjuangkan sejak Reformasi.

Namun, mari jujur: tak semua demo suci. Ada yang memang murni lahir dari keresahan, tapi ada pula yang sengaja dipelintir, dimanfaatkan untuk menekan lawan politik atau mengamankan kepentingan segelintir kelompok. Di sinilah masyarakat perlu melek, agar tak mudah menjadi pion di papan catur kekuasaan.

Belajar dari Sejarah

Sejarah Indonesia adalah sejarah jalanan. Dari Sumpah Pemuda, demonstrasi mahasiswa 1966, hingga gelombang Reformasi 1998—semua perubahan besar lahir dari keberanian rakyat turun ke jalan. Tapi sejarah juga mengajarkan: demo yang kehilangan arah, yang terbakar emosi dan provokasi, hanya menyisakan puing-puing dan penyesalan.

Hari ini, kita seolah mengulang pola yang sama. Aspirasi rakyat yang tulus dicemari oleh provokator, sementara pemerintah terlalu sibuk mencari kambing hitam alih-alih membuka ruang dialog. Hasilnya? Siklus kekerasan yang tak pernah usai.

Demo di Indonesia vs Negara Maju

Di London, Berlin, atau Ottawa, demo bisa berlangsung damai, rapi, dan tetap didengar. Pemerintah menyiapkan jalur komunikasi, aparat menjaga keamanan tanpa menekan. Di Indonesia? Aparat kerap bersikap represif, massa mudah tersulut, dan media lebih sibuk mengangkat sisi dramatis daripada substansi tuntutan.

Ini bukan semata soal kedewasaan rakyat, tetapi juga kegagalan negara menciptakan mekanisme yang sehat bagi aspirasi. Tanpa kanal komunikasi yang kredibel, jalanan akan selalu jadi medan tempur ketidakpuasan.

Demo yang Sehat: Bukan Utopia

Demo yang sehat bukan hal mustahil. Syaratnya jelas:

📚 Artikel Terkait

Raudhah Ramadan

Post-Jokowi with Jokowi

Banjir di Musim Kemarau

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Tuntutan transparan dan terukur. Agar publik bisa menilai dan mendukung.

Koordinasi matang antara massa dan aparat. Agar aspirasi tak tenggelam dalam kerusuhan.

Media yang fokus pada substansi, bukan sensasi.

Masyarakat sipil aktif mengawal. Agar demo tak jadi panggung provokator.

Dengan mekanisme ini, demo bisa menjadi energi perubahan, bukan sekadar letupan kemarahan yang cepat padam.

Manfaat Demo yang Tak Boleh Dilupakan

Demo yang tertib dan bermartabat membawa banyak manfaat:

Menjadi kanal katarsis sosial, mengurangi potensi konflik yang lebih parah.

Mengajarkan rakyat tentang hak dan kewajiban berdemokrasi.

Mengoreksi arah kebijakan yang menyimpang.

Memperkuat identitas kolektif bahwa negara ini milik bersama, bukan milik segelintir elit.

Risiko yang Mengintai

Tetapi kita juga tak boleh naif. Di balik massa yang berteriak untuk keadilan, selalu ada pihak yang siap menunggangi. Ada yang mencari panggung politik, ada yang mengincar keuntungan ekonomi, bahkan ada yang sengaja menyulut kekacauan demi legitimasi untuk menekan rakyat.

Inilah yang membuat banyak demo berakhir ricuh, meninggalkan stigma bahwa demo identik dengan kekerasan. Padahal, masalahnya bukan pada demo itu sendiri, tetapi pada mereka yang mengotori esensi perjuangan rakyat.

Ajakan: Menata Ulang Budaya Demo

Kita perlu menata ulang budaya demo di Indonesia. Negara harus berhenti melihat rakyat sebagai ancaman. Aparat harus berhenti menganggap massa sebagai musuh. Dan rakyat harus lebih cerdas menjaga kemurnian aspirasinya.

Jangan biarkan jalanan hanya menjadi kuburan harapan. Jadikan ia mimbar demokrasi yang bermartabat, tempat suara rakyat tak hanya didengar, tetapi juga direspons dengan kebijakan nyata.

Refleksi Penutup

Demokrasi tanpa demo hanyalah demokrasi kosmetik—cantik di atas kertas, rapuh di kenyataan. Tapi demo tanpa kesadaran kolektif juga berbahaya, hanya akan melahirkan kerusuhan tanpa arah.

Kini saatnya kita, sebagai bangsa, belajar dari sejarah dan pengalaman negara lain. Bahwa demo bukan sekadar marah-marah di jalan, melainkan seni berdialog, seni mengawal kekuasaan agar tetap waras.

Karena pada akhirnya, jalanan adalah milik rakyat. Dan suara rakyat, seberapa pun kerasnya, adalah nafas bagi demokrasi itu sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tangis Langit Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00