• Latest
Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - IMG 20250424 WA0009 | #Kontemplasi | Potret Online

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

April 25, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
April 25, 2025
in #Kontemplasi
Reading Time: 3 mins read
0
Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - IMG 20250424 WA0009 | #Kontemplasi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Toleransi sebagai Pilar Peradaban

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

“Sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap,” begitu suara peringatan Buya Syafii yang tegas namun penuh kasih.

Kata-kata ini lahir dari kepekaan sejarah, pengalaman panjang, dan kecintaannya pada keutuhan Indonesia yang majemuk.

Buya menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa tak melulu datang dari ekonomi yang rapuh atau konflik kekuasaan, melainkan dari runtuhnya nilai-nilai toleransi.

Dalam toleransi, terkandung penghormatan pada perbedaan, pengakuan atas keberagaman, dan keinginan hidup berdampingan secara damai.

Indonesia adalah negara plural dengan ratusan etnis, bahasa, dan keyakinan; maka toleransi bukan sekadar pilihan, melainkan syarat utama keberlangsungan.

Ketika toleransi goyah, celah-celah konflik akan terbuka lebar, dan api perpecahan bisa membakar sendi-sendi bangsa.

Buya paham benar bahwa sejarah dunia mencatat keruntuhan peradaban besar dimulai dari kegagalan hidup rukun di tengah perbedaan.

Maka, bagi Buya, toleransi bukan slogan, tapi fondasi moral yang harus dihidupi, dibela, dan dijaga dengan kebijaksanaan.

Ia selalu menolak segala bentuk ekstremisme yang memaksakan kebenaran tunggal dalam soal iman, budaya, atau pilihan hidup.

Sebaliknya, ia menyerukan agar ruang-ruang publik dipenuhi oleh percakapan, bukan permusuhan; oleh pengertian, bukan penghakiman.

Pesan Buya ini terasa begitu relevan di era media sosial yang sering kali memupuk polarisasi dan memperuncing perbedaan.

Ketika orang lebih mudah tersulut emosi daripada membuka ruang dialog, toleransi menjadi korban pertama yang terluka.

Padahal, seperti yang selalu Buya tekankan, keberagaman adalah anugerah, bukan ancaman; dan keragaman adalah kekayaan, bukan sumber permusuhan.

Dalam banyak forum, Buya mengajak umat beragama untuk membangun jembatan, bukan tembok pemisah; memperkuat empati, bukan membakar prasangka.

Ia melihat bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan secara dewasa dan beradab.

Toleransi dalam pandangan Buya bukan berarti menyamakan semua hal, tetapi menghargai perbedaan dengan sikap saling memahami dan tidak memaksakan.

Kematangan suatu masyarakat tercermin dari sejauh mana mereka mampu bersikap adil kepada yang berbeda.

Buya mengingatkan bahwa tanpa toleransi, demokrasi akan kehilangan jiwanya dan hukum akan kehilangan ruh keadilannya.

Kita menyaksikan bagaimana konflik sektarian, diskriminasi minoritas, dan intoleransi verbal dapat dengan mudah merusak ikatan sosial.

Oleh karena itu, Buya mengajak semua elemen bangsa—dari pemuka agama, tokoh adat, hingga kaum muda—untuk menjadi penjaga nilai-nilai toleransi.

Ia percaya bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keseragaman, melainkan oleh kebesaran hati menerima keragaman.

Toleransi harus diajarkan sejak dini, dipraktikkan di ruang-ruang keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan media.

Buya ingin bangsa ini menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua, bukan milik segelintir kelompok yang mengklaim kebenaran sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merayakan perbedaan sebagai kekuatan bersama dalam satu simpul persaudaraan.

Maka, menjaga toleransi adalah menjaga masa depan; melindungi toleransi adalah merawat kehidupan; menumbuhkan toleransi adalah membesarkan cinta.

Pesan Buya Syafii Maarif tentang toleransi adalah pelita di tengah zaman yang rawan disulut api kebencian dan politik identitas.

Ia tidak hanya berbicara, tapi menunjukkan dengan teladan, bahwa menjadi beragama secara benar adalah menjadi manusia yang memuliakan sesama.

Dari kata-kata beliau, kita belajar bahwa toleransi bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral bangsa yang sejati.


Rumah Kayu Cepu, 25 April 2025

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - 2025 04 25 08 39 08 | #Kontemplasi | Potret Online

Guru Sandal Jepit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com