POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Langkah Panjang Menuju Keabadian

RedaksiOleh Redaksi
September 2, 2025
Cahaya Kecil Bernama Apis
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh

Aku melangkah, pelan tapi pasti,
menyusuri lorong waktu yang tak henti berdetak.
Di setiap denyut, aku menemukan diriku,
kadang rapuh, kadang kokoh,
seperti batu yang dipahat ombak,
seperti pohon yang diguncang angin.

Langkahku panjang,
bukan sekadar perjalanan jasmani,
tetapi arak-arakan jiwa
yang terus mencari arti.

Aku menatap bintang di malam hening,
mereka seakan berbicara dengan bahasa cahaya,
bahwa hidup bukan sekadar singgah,
melainkan ziarah yang mengantar ruh
kepada keabadian.

Aku pernah jatuh,
dalam jurang kekecewaan,
namun aku pun pernah terbang,
dengan sayap harapan yang kusulam
dari doa-doa ibuku.

Aku pernah menangis
di tengah sunyi tanpa teman,
namun aku pun pernah tertawa,
dalam pelukan hangat sahabat
yang tak letih menyalakan api semangat.

Setiap luka adalah guru,
setiap senyum adalah penyembuh.
Dan di antara keduanya,
aku belajar:
bahwa keabadian bukan tentang tidak mati,
melainkan tentang jejak
yang tak hilang meski waktu berlari.

Aku ingin meninggalkan langkah panjang,
yang disambung oleh generasi berikutnya.
Seperti sungai yang tak pernah kering,
meski musim berganti.
Seperti kata bijak yang diwariskan,
meski bibir yang mengucap telah sunyi.

Langkahku bukan milikku semata,
ia adalah warisan yang kutitipkan
kepada dunia.
Semoga bumi merasakan teduhnya,
semoga langit mendengar syukurnya.

Seribu doa mengiringi perjalananku,
seribu harap menyinari jalanku.
Aku tahu,
tak semua jalan mudah,
tak semua malam terang.
Namun aku percaya,
tak ada langkah yang sia-sia
bila diniatkan untuk kebaikan.

Keabadian bukan tentang tubuh,
ia adalah ingatan,
ia adalah karya,
ia adalah cinta
yang tak lekang oleh waktu.

📚 Artikel Terkait

Unity in Diversity: Living with Justice and Compassion in God’s World

Bersinergi Langkah Membangun Opini dan Konstruksi Positif tentang Blora

Jejak Waktu dan Cinta yang Tinggal

Tak Ada Tuhan Dalam Pidato di PBB

Aku berjalan,
melewati musim gugur yang menanggalkan daun,
melewati musim semi yang menumbuhkan tunas.
Aku berjalan,
melewati badai yang menampar wajahku,
melewati pelangi yang memeluk mataku.

Setiap langkah adalah cerita,
setiap cerita adalah pelajaran,
setiap pelajaran adalah cahaya
yang membimbingku semakin dekat
kepada arti sejati perjalanan.

Di tepi senja aku duduk,
merenungi garis cakrawala.
Langit berwarna jingga,
seakan melukis kisah manusia
yang lahir, tumbuh, lalu kembali.

Aku sadar,
hidup ini bukan soal panjangnya waktu,
tetapi tentang kedalaman makna.
Aku tak ingin hanya menjadi bayangan
yang hilang ditelan gelap.
Aku ingin menjadi cahaya,
meski kecil,
yang tetap bersinar
menuntun langkah orang lain.

Di malam yang sepi,
aku mendengar bisikan hatiku sendiri:
“Teruslah berjalan,
jangan berhenti di tengah ragu.
Setiap jejakmu adalah saksi,
bahwa engkau pernah berjuang
meski dunia kadang tak mengerti.”

Aku pun bangkit,
menguatkan kaki yang letih,
menghapus air mata yang jatuh,
menyulam kembali harapan yang sempat koyak.

Aku tahu,
keabadian bukan tentang berdiri di puncak,
tetapi tentang berjalan tanpa henti
meski tanah licin,
meski jalan terjal.

Keabadian bukan tentang dipuji,
tetapi tentang meninggalkan jejak
yang membuat orang lain tersenyum,
yang membuat dunia sedikit lebih indah.

Langkah panjang ini
kadang sepi, kadang ramai.
Ada yang datang,
ada yang pergi.
Ada yang menyalakan lentera di sisiku,
ada pula yang memadamkannya.
Namun aku belajar,
tak semua yang padam berarti gelap,
kadang gelap hanya mengajarkanku
bagaimana menemukan cahaya dari dalam.

Aku ingin saat aku tiada nanti,
angin tetap mengingat suaraku,
air tetap merasakan sentuhanku,
bumi tetap merasakan langkahku.
Bukan karena aku besar,
tetapi karena aku pernah tulus
mencintai kehidupan.

Aku ingin saat aku terbaring nanti,
nama kecilku tetap hidup
dalam doa mereka yang kutolong,
dalam tawa mereka yang pernah kusayangi,
dalam karya kecil yang kutinggalkan
untuk dunia yang masih berputar.

Aku tak ingin abadi sebagai raga,
aku ingin abadi sebagai makna.
Seperti buku tua yang masih dibaca,
seperti lagu lama yang masih dinyanyikan,
seperti doa kuno yang masih dikumandangkan
di bibir manusia.

Keabadian itu,
bukan rahasia yang jauh,
ia ada di sini,
dalam setiap langkah panjang
yang kita ambil dengan cinta.

Aku berjalan,
kadang dengan percaya diri,
kadang dengan gemetar.
Namun aku berjalan.
Karena berhenti adalah mati,
dan aku ingin hidup
bahkan setelah mati.

Maka langkah panjangku
akan terus kujalani,
hingga akhirnya aku tiba
pada pintu keabadian.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Kisah Heroik Keluarga Ibrahim serta Doa-doanya dalam Al-Qur’an

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00