Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Nabi Ibrahim adalah seorang kekasih Allah yang sepanjang hidupnya diuji dengan cobaan-cobaan besar. Bersama keluarganya, beliau menorehkan kisah pengabdian, kesabaran, dan pengorbanan yang membuat mereka dijadikan panutan bagi umat manusia sepanjang zaman dan ditulis dalam Al-Qur’an.
Ibrahim dan istrinya, Sarah, hidup berpuluh tahun tanpa dikaruniai anak. Namun cinta dan kesetiaan di antara mereka tetap utuh. Hingga pada suatu ketika, Sarah yang penuh kasih rela mengorbankan perasaannya. Ia meminta Ibrahim menikahi Hajar, seorang budak yang mereka miliki, agar Ibrahim bisa memperoleh keturunan. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kelak menjadi ayah bangsa Arab, yaitu Ismail.
Namun, fitrah manusia tak bisa diingkari. Rasa cemburu tumbuh dalam hati Sarah ketika melihat kebahagiaan Ibrahim bersama Hajar dan anaknya. Atas izin Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi jauh, meninggalkan Palestina menuju sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Makkah. Di sanalah, di antara bukit Shafa dan Marwah, Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi kecilnya hanya dengan sedikit perbekalan.
Hajar, meski hatinya tersayat, tidak menentang. Ia tidak berkeluh kesah pada Ibrahim, karena tahu ini semua adalah perintah Allah. “Jika ini perintah Allah, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,” demikian keyakinan Hajar yang teguh. Ia tetap tinggal bersama bayinya, bersandar pada pertolongan Allah.
Ketika persediaan air habis dan Ismail menangis kehausan, Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, mencari-cari setetes air. Tujuh kali ia bolak-balik, hingga langkahnya terhenti karena letih. Saat ia kembali pada bayinya, sebuah keajaiban terjadi: dari bawah kaki kecil Ismail, terpancarlah air zamzam. Hajar segera menampungnya, dan mata air itu terus mengalir hingga kini, menjadi sumber kehidupan bagi kota suci Makkah.
Di tengah lembah itu, Ibrahim pun menengadahkan tangan, memohon dengan doa yang indah:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman, dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (jadikanlah) mereka orang-orang yang mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]:37)
Doa itu dikabulkan Allah. Dari sebuah lembah tandus, Makkah tumbuh menjadi kota yang ramai, tempat manusia dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk beribadah.
Tahun-tahun berlalu, Ibrahim kembali mengunjungi Hajar dan Ismail. Di masa itulah Allah memerintahkan Ibrahim dan putranya untuk membangun Ka’bah. Batu demi batu mereka tegakkan, tangan tua Ibrahim menyusun bersama tangan muda Ismail. Dan dari tengah kerja keras itu, mereka berdoa:
📚 Artikel Terkait
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah [2]:127–128)
Betapa mulia doa ini. Ibrahim tidak hanya memikirkan dirinya dan anaknya, tetapi juga generasi keturunannya hingga akhir zaman.
Kisah keluarga Ibrahim semakin memuncak ketika datang ujian yang luar biasa. Saat Ismail telah remaja, Allah memerintahkan Ibrahim dalam mimpinya untuk menyembelih putranya. Dengan penuh kepasrahan, Ibrahim menyampaikan hal itu pada Ismail. Dan alangkah teguhnya hati sang anak ketika menjawab,
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]:102)
Maka keduanya berjalan menuju tempat penyembelihan. Ibrahim menundukkan hati, Ismail pun menyerahkan diri. Saat pisau didekatkan ke leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor kibas.
Perintah agung itu sejatinya adalah ujian, dan mereka lulus dengan kemuliaan.
Tidak berhenti di situ, Ibrahim juga selalu berdoa agar keturunannya menjadi generasi yang tetap menjaga ibadah:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]:40)
Doa ini adalah bukti bahwa Ibrahim tidak hanya ingin meninggalkan warisan harta atau kedudukan, melainkan warisan iman yang abadi.
Perjalanan hidup keluarga Ibrahim merupakan teladan yang ditulis dalam Al-Qur’an agar umat manusia mengambil pelajaran. Dari Ibrahim kita belajar tentang tauhid, doa, dan pengorbanan. Dari Hajar kita belajar tentang kesabaran dan tawakal kepada Allah. Dari Ismail kita belajar tentang ketaatan seorang anak kepada Allah dan orang tuanya.
Tak heran jika Allah berfirman, bahwa Dia memilih keluarga Ibrahim bersama keluarga Imran sebagai panutan bagi seluruh manusia (QS. Āli ‘Imrān: 33). Hingga akhir zaman, kisah keluarga Ibrahim akan terus dikenang, menggetarkan hati jutaan manusia di seluruh dunia, dan mengajarkan bahwa ketaatan sejati hanya milik mereka yang sanggup mengorbankan segala demi cinta kepada Allah.
Dari kisah Nabi Ibrahim ini banyak ilmu parenting yang bisa kita ambil hikmahnya dan dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah. Aamiin ….
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






