Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
“Kemewahan terakhir pemuda menurut Tan Malaka adalah idealisme. Ia berpendapat bahwa idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh para pemuda, yang didorong oleh semangat, gagasan, dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, serta menjaga harapan untuk masa depan bangsa.”
Kutipan Tan Malaka menjadi tulisan pembuka yang menggambarkan demo beberapa hari terakhir di bulan Agustus 2025. Demo yang digerakkan oleh pemuda dan bahkan satu pemuda berusia 21 tahun meninggal di jalanan karena dilindas mobil Barakuda Brimob pada malam hari, tanggal 28 Agustus 2025.
Perasaan duka mendalam saya sampaikan kepada keluarga pemuda bernama Affan Kurniawan (21 tahun), warga Jatipulo, Jakarta Barat, yang merupakan pengemudi ojek online (ojol) dari platform Gojek.
Mengingat anak muda yang sudah menjadi tulang punggung keluarga di usia 21 tahun mengingatkan saya pada kedua putra saya yang berusia 28 tahun dan 23 tahun.
Perasaan yang sama dirasakan oleh semua ibu di Indonesia. Sebagai ibu, kami sangat khawatir dengan jatuhnya korban anak muda. Setiap hari kami was-was, apakah salah satu dari putra dan putri kami yang pergi mencari nafkah halal akan diantar pulang dalam keadaan jenazah.
Insiden tragis ini terjadi di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, saat aparat kepolisian berupaya membubarkan massa demonstran yang kian meluas dari depan Gedung DPR RI. Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial, Affan Kurniawan diduga dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob jenis Barakuda yang melaju kencang di tengah kerumunan. Korban sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, tetapi nyawanya tidak tertolong. Selain Affan, ada satu pengemudi ojol lainnya yang terluka parah dan dalam kondisi kritis, meskipun berhasil selamat.
Komunitas ojol secara luas menyatakan duka cita mendalam, dengan ribuan ucapan belasungkawa dari rekan sesama pengemudi, publik figur seperti Denny Sumargo dan Pasha Ungu yang datang melayat, serta tuntutan keadilan yang kian menggema di media sosial.
Demo buruh dan mahasiswa pada 28 Agustus 2025 ini awalnya digelar secara serentak di 38 provinsi di Indonesia, dengan tuntutan utama seperti penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, reformasi pajak perburuhan, dan penyetopan PHK massal. Di Jakarta, aksi berpusat di depan Gedung DPR/MPR RI, yang berujung ricuh setelah bentrokan antara massa dan aparat. Kericuhan meluas hingga Pejompongan, di mana polisi menembakkan gas air mata dan massa melempar batu serta petasan.
Pihak kepolisian telah merespons dengan meminta maaf secara resmi. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan penyesalan mendalam dan memerintahkan Divisi Propam Polri untuk menindaklanjuti kasus ini. Tujuh anggota Brimob yang berada di dalam mobil rantis telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan gabungan di Markas Brimob Polda Metro Jaya, Kwitang, Jakarta Pusat. Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim menegaskan bahwa kendaraan juga telah diamankan, dan proses investigasi akan transparan.
Kejadian ini bukan hanya kehilangan satu nyawa, tapi cerminan kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya, terutama anak muda yang berjuang untuk keadilan.
Semoga Affan Kurniawan husnul khotimah, dan kasus ini menjadi momentum untuk perubahan. Sebagai ibu, sebagai warga negara, kita semua harus bersuara agar tidak ada lagi korban seperti ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tagar #RIPDemokrasi: Sinyal Bahaya Kegagalan Demokrasi di Indonesia
Tagar #RIPDemokrasi ramai berseliweran di media sosial. Apakah ini pertanda bahwa Indonesia sedang menuju status negara gagal? Negara yang gagal menjalankan demokrasi dan menjamin hak asasi manusia (HAM) warganya? Ketika pemuda, bahkan pelajar SMP dan SMA yang masih di bawah umur, turun ke jalan untuk berdemonstrasi, ini adalah peringatan serius bahwa kita sedang menghadapi kegagalan bernegara dalam menciptakan politik yang beradab.
📚 Artikel Terkait
Ketika setiap aksi demonstrasi berujung pada amuk massa, kerusakan fasilitas publik, hingga korban jiwa, ini menjadi sinyal bahaya. Kepekaan kita dalam menjalankan tata kelola bernegara dan berbangsa telah memasuki zona kuning, bahkan mendekati merah. Jika sudah mencapai zona merah, dialog menyelesaikan masalah akan digantikan oleh kekerasan, adu otot, dan tindakan anarkis lainnya yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mengapa Pemuda Turun ke Jalan Berdemo?
Berdasarkan pandangan Bung Hatta dan Sutan Syahrir, demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Demokrasi yang mereka gagas berlandaskan semangat nasionalisme, keadilan sosial, dan kedaulatan rakyat. Menurut Bung Hatta, demokrasi harus mengutamakan kepentingan rakyat kecil, bukan elite.
Namun, kondisi saat ini jauh dari ideal. Ekonomi rakyat tercekik oleh kenaikan berbagai pajak, maraknya PHK di berbagai sektor, dan sulitnya mencari pekerjaan. Sementara itu, elite menikmati hak istimewa dengan kenaikan gaji dan tunjangan DPR. Kesenjangan ekonomi dan kesulitan hidup menciptakan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, terutama pemuda.
Banyak pemuda menyaksikan orang tua mereka bekerja keras di tengah himpitan ekonomi dan kenaikan pajak. Tidak sedikit pula yang terpaksa berhenti sekolah atau kuliah karena keterbatasan biaya, bahkan menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah.
Di sisi lain, elite berpidato di gedung ber-AC sambil bergoyang, sementara rakyat banting tulang di jalanan, berpanas dan berhujan, mencari sesuap nasi yang tak cukup untuk menghidupi keluarga. Pejabat dan elite, yang sering kali menjadi penjilat dan buzzer, menduduki jabatan strategis dengan gaji dan tunjangan fantastis—dibiayai dari pajak rakyat.
Seorang pedagang antre membeli gas 3 kg dengan KTP berkata, “Jangan hinakan kemiskinan kami.” Kebiasaan menjual kata-kata manis untuk mendapatkan posisi telah memuakkan rakyat kecil yang bekerja keras mencari rezeki halal di bawah terik matahari dan hujan.
“Kami terluka dengan cara kalian memperlakukan kami saat meneriakkan ‘merdeka’ selama 80 tahun sambil mengepalkan tangan. Kami terluka ketika kalian menghina wajah kemiskinan rakyat dengan joget penuh kebahagiaan atas kenaikan gaji dan tunjangan,” begitu ungkapan hati rakyat.
Luka ini dirasakan oleh pemuda yang turun ke jalan berdemo—bahkan sebagian dari mereka mungkin anak pejabat atau elite. Namun, mereka bersuara untuk menyampaikan luka yang sama: luka rakyat atas perlakuan yang menghina kemiskinan dan penderitaan.
Tagar #RIPDemokrasi adalah ekspresi luka ketika negara gagal menegakkan demokrasi yang sejati. Pemuda yang turun ke jalan mengingatkan kita bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang mereka miliki.
Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Karya:
– Romansa Cinta Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
– Novita & Kebangsaan Makna di Setiap Rasa (Antologi 100 Puisi Bersertifikat Lomba Nasional dan Internasional)
– Siluet Cinta, Pelangi Rindu
– Self Love: Rumah Perlindungan Diri
Kontak Pembelian Buku: 089520018812
Instagram: @novita.kebangsaan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





