Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif Arsyad
Belakangan publik kembali dikejutkan dengan operasi tangkap tangan (OTT) Wakil Menteri Tenaga Kerja dari Kabinet Merah Putih yang diduga terjerat kasus pemerasan. Data yang dirilis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melalui hasil National Risk Assessment (NRA) bahkan mencatat angka fantastis.
Sepanjang tahun 2024 saja, kerugian negara akibat praktik korupsi mencapai Rp 984 triliun. Angka ini menunjukkan betapa uang menjadi pusat dari berbagai skandal kekuasaan. Dalam kehidupan modern, hampir tak ada aktivitas manusia yang lepas dari peran uang—dari urusan makan, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga ongkos berhaji.
Uang di satu sisi memudahkan banyak hal, namun di sisi lain ia kerap menuntut kesetiaan yang melampaui batas, seolah lebih tinggi dari ketaatan kita kepada Tuhan. Maka muncul pertanyaan mendasar: apakah uang masih sekadar alat, atau sudah menjelma menjadi “tuhan kecil” yang diam-diam disembah manusia?
Kisah fiksi Gerald Crowford memberi cermin tentang kenyataan ini. Gerald, tokoh miskin dalam cerita, diperlakukan rendah, bahkan dianggap hina hanya karena tidak memiliki uang. Sebaliknya, tokoh-tokoh kaya seperti Danny dan Yuri bisa mengatur orang lain sesuka hati, membeli loyalitas, bahkan menentukan arah hidup seseorang hanya dengan harta. Bahkan cinta, yang sejatinya urusan hati, dalam kisah itu ditakar dengan materi.
Meski berangkat dari dunia fiksi, narasi ini sejatinya akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Di sekeliling kita, jabatan bisa dibeli, suara rakyat bisa ditukar dengan amplop, bahkan persahabatan atau hubungan keluarga bisa pecah hanya karena uang.
Inilah wajah kehidupan modern yang secara perlahan menempatkan uang bukan lagi sebagai sekadar alat tukar, melainkan ukuran nilai dan martabat manusia. Apa yang digambarkan Crowford selaras dengan analisis Max Weber, yang mengaitkan lahirnya kapitalisme modern dengan etika Protestan.
Weber menyebut etika kerja keras, disiplin, dan akumulasi harta telah menjadikan kekayaan sebagai indikator moralitas. Kaya berarti sukses, miskin berarti gagal. Uang bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol keselamatan sosial.
Islam memandang arah ini sebagai penyimpangan. Bukan berarti Islam anti-harta, sebaliknya, Islam mengakui peran vital uang dalam kehidupan. Namun Islam menolak keras penuhanan uang. Nilai manusia tidak ditakar dengan saldo, melainkan dengan iman, ketakwaan, dan kontribusi sosial. Dalam pandangan Islam, uang hanyalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kepemilikan manusia bersifat sementara dan terbatas.
Al-Qur’an menegaskan hal itu dengan tegas: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanah atasnya” (QS. Al-Hadid: 7). Ayat ini jelas menyatakan bahwa hakikat harta bukanlah milik manusia, melainkan titipan dari Allah.
Karena itu, setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana ia diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan. Rasulullah SAW pun memperingatkan bahaya orang yang menjadikan uang sebagai pusat hidup. “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham,” sabda beliau (HR. Bukhari). Begitu uang sudah menjadi tuan, manusia akan berubah status: bukan lagi hamba Allah, melainkan budak harta.
📚 Artikel Terkait
Bahaya ini terlihat nyata dalam kehidupan psikologis modern. Obsesi pada uang membuat manusia terus dihantui kecemasan. Takut miskin, takut kalah saing, takut kehilangan status sosial. Ketakutan itu berubah menjadi beban mental yang melahirkan stres, depresi, bahkan penyakit fisik.
Lebih jauh lagi, obsesi ini merusak moralitas. Segala cara ditempuh demi uang, dari korupsi kecil-kecilan hingga skandal besar-besaran. Relasi sosial pun ikut hancur. Berapa banyak keluarga yang pecah hanya karena berebut warisan? Berapa banyak persaudaraan retak akibat hutang-piutang?
Al-Qur’an sudah mengingatkan sejak lama: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur” (QS. At-Takatsur: 1–2).
Ayat ini mengingatkan betapa manusia bisa terlena oleh harta hingga lupa pada tujuan akhir hidupnya. Ketika ukuran kebahagiaan hanya ditentukan oleh banyaknya angka di rekening, maka lahirlah kegelisahan tanpa ujung. Padahal Islam sejak awal menuntun umatnya agar hidup dengan penuh kesederhanaan dan merasa cukup (qanâ‘ah), serta mensyukuri nikmat yang ada.
Islam juga memberi rambu-rambu jelas agar uang tidak berubah menjadi berhala. Larangan riba, misalnya, mencegah agar harta tidak tumbuh dengan menindas yang lemah. Larangan gharar atau transaksi yang tidak jelas mengajarkan transparansi dan keadilan. Larangan maysir, atau perjudian, menolak mental kaya instan yang menumpulkan etos kerja.
Sebaliknya, Islam mendorong mekanisme ekonomi yang sehat: perdagangan yang adil, kerja sama bagi hasil, sewa yang transparan, serta filantropi melalui zakat, infak, dan wakaf. Semua ini bertujuan agar uang tetap mengalir secara adil di masyarakat, bukan menumpuk di segelintir tangan.
Justru di tangan orang beriman, uang bisa menjadi jalan ibadah. Dengan uang, seorang ayah bisa menafkahi keluarga dengan halal. Dengan uang pula kita bisa membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, membangun sekolah, masjid, atau rumah sakit. Instrumen zakat, infak, dan wakaf adalah sarana agar uang tidak berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan menjadi energi sosial yang menyejahterakan umat.
Namun, mari kita bercermin sejenak. Tidakkah kita sering menunda ibadah hanya demi pekerjaan, tapi jarang sekali menunda pekerjaan demi ibadah? Tidakkah keputusan moral kita sering kali tunduk pada kalkulasi untung-rugi semata?
Tidakkah kita jauh lebih gelisah ketika saldo menipis daripada ketika kita lupa bersedekah? Jika iya, berarti ada tanda bahwa uang sudah naik pangkat dari alat menjadi “tuhan kecil” dalam hidup kita.
Lalu bagaimana agar uang tetap fitri, tetap pada posisinya sebagai alat? Islam memberi resep sederhana tapi mendalam: halalkan sumbernya, kelola dengan adil, dan gunakan untuk berbagi. Harta yang halal akan menumbuhkan keberkahan, sementara harta haram hanya akan menghapus nikmat. Mengelola dengan adil berarti mendahulukan kebutuhan, bukan gengsi. Membagi sebagian harta untuk orang lain akan membuat uang tidak menumpuk di hati, tetapi mengalir membawa manfaat.
Kuncinya adalah menempatkan uang di tangan, bukan di hati. Biarkan ia bekerja untuk membiayai pendidikan, menguatkan keluarga, menolong sesama, dan membangun peradaban. Jangan biarkan ia menguasai hati kita sehingga menggeser Allah dari pusat hidup. Pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya saldo, melainkan bersihnya niat, halalnya cara, adilnya pembagian, dan ikhlasnya berbagi.
Al-Qur’an menutup peringatan itu dengan indah: “Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77).
Ayat ini menegaskan keseimbangan: gunakan harta untuk membangun dunia, tapi jangan lupa bahwa tujuannya tetap akhirat.
Maka, bila hari ini uang sering kali terlihat lebih berkuasa daripada nilai, lebih dihormati daripada iman, dan lebih ditakuti daripada Tuhan, inilah saatnya kita kembali menata. Uang hanyalah sarana. Tuhan tetap satu: Allah Yang Maha Kaya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





