POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Uang Naik Pangkat MenJadi Tuhan

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
August 25, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Belakangan publik kembali dikejutkan dengan operasi tangkap tangan (OTT) Wakil Menteri Tenaga Kerja dari Kabinet Merah Putih yang diduga terjerat kasus pemerasan. Data yang dirilis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melalui hasil National Risk Assessment (NRA) bahkan mencatat angka fantastis.  

Sepanjang tahun 2024 saja, kerugian negara akibat praktik korupsi mencapai Rp 984 triliun. Angka ini menunjukkan betapa uang menjadi pusat dari berbagai skandal kekuasaan. Dalam kehidupan modern, hampir tak ada aktivitas manusia yang lepas dari peran uang—dari urusan makan, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga ongkos berhaji. 

Uang di satu sisi memudahkan banyak hal, namun di sisi lain ia kerap menuntut kesetiaan yang melampaui batas, seolah lebih tinggi dari ketaatan kita kepada Tuhan. Maka muncul pertanyaan mendasar: apakah uang masih sekadar alat, atau sudah menjelma menjadi “tuhan kecil” yang diam-diam disembah manusia?

Kisah fiksi Gerald Crowford memberi cermin tentang kenyataan ini. Gerald, tokoh miskin dalam cerita, diperlakukan rendah, bahkan dianggap hina hanya karena tidak memiliki uang. Sebaliknya, tokoh-tokoh kaya seperti Danny dan Yuri bisa mengatur orang lain sesuka hati, membeli loyalitas, bahkan menentukan arah hidup seseorang hanya dengan harta. Bahkan cinta, yang sejatinya urusan hati, dalam kisah itu ditakar dengan materi. 

Meski berangkat dari dunia fiksi, narasi ini sejatinya akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Di sekeliling kita, jabatan bisa dibeli, suara rakyat bisa ditukar dengan amplop, bahkan persahabatan atau hubungan keluarga bisa pecah hanya karena uang.

Inilah wajah kehidupan modern yang secara perlahan menempatkan uang bukan lagi sebagai sekadar alat tukar, melainkan ukuran nilai dan martabat manusia. Apa yang digambarkan Crowford selaras dengan analisis Max Weber, yang mengaitkan lahirnya kapitalisme modern dengan etika Protestan. 

Weber menyebut etika kerja keras, disiplin, dan akumulasi harta telah menjadikan kekayaan sebagai indikator moralitas. Kaya berarti sukses, miskin berarti gagal. Uang bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol keselamatan sosial.

Islam memandang arah ini sebagai penyimpangan. Bukan berarti Islam anti-harta, sebaliknya, Islam mengakui peran vital uang dalam kehidupan. Namun Islam menolak keras penuhanan uang. Nilai manusia tidak ditakar dengan saldo, melainkan dengan iman, ketakwaan, dan kontribusi sosial. Dalam pandangan Islam, uang hanyalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kepemilikan manusia bersifat sementara dan terbatas.

Al-Qur’an menegaskan hal itu dengan tegas: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanah atasnya” (QS. Al-Hadid: 7). Ayat ini jelas menyatakan bahwa hakikat harta bukanlah milik manusia, melainkan titipan dari Allah. 

Karena itu, setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana ia diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan. Rasulullah SAW pun memperingatkan bahaya orang yang menjadikan uang sebagai pusat hidup. “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham,” sabda beliau (HR. Bukhari). Begitu uang sudah menjadi tuan, manusia akan berubah status: bukan lagi hamba Allah, melainkan budak harta.

📚 Artikel Terkait

TAK ADA MAKAN SIANG YANG GRATIS

Elegi Perut Bumi

The Poems of Humairah Binti Zul Hasimi

Air yang Mengambil Jalan

Bahaya ini terlihat nyata dalam kehidupan psikologis modern. Obsesi pada uang membuat manusia terus dihantui kecemasan. Takut miskin, takut kalah saing, takut kehilangan status sosial. Ketakutan itu berubah menjadi beban mental yang melahirkan stres, depresi, bahkan penyakit fisik. 

Lebih jauh lagi, obsesi ini merusak moralitas. Segala cara ditempuh demi uang, dari korupsi kecil-kecilan hingga skandal besar-besaran. Relasi sosial pun ikut hancur. Berapa banyak keluarga yang pecah hanya karena berebut warisan? Berapa banyak persaudaraan retak akibat hutang-piutang?

Al-Qur’an sudah mengingatkan sejak lama: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur” (QS. At-Takatsur: 1–2). 

Ayat ini mengingatkan betapa manusia bisa terlena oleh harta hingga lupa pada tujuan akhir hidupnya. Ketika ukuran kebahagiaan hanya ditentukan oleh banyaknya angka di rekening, maka lahirlah kegelisahan tanpa ujung. Padahal Islam sejak awal menuntun umatnya agar hidup dengan penuh kesederhanaan dan merasa cukup (qanâ‘ah), serta mensyukuri nikmat yang ada.

Islam juga memberi rambu-rambu jelas agar uang tidak berubah menjadi berhala. Larangan riba, misalnya, mencegah agar harta tidak tumbuh dengan menindas yang lemah. Larangan gharar atau transaksi yang tidak jelas mengajarkan transparansi dan keadilan. Larangan maysir, atau perjudian, menolak mental kaya instan yang menumpulkan etos kerja. 

Sebaliknya, Islam mendorong mekanisme ekonomi yang sehat: perdagangan yang adil, kerja sama bagi hasil, sewa yang transparan, serta filantropi melalui zakat, infak, dan wakaf. Semua ini bertujuan agar uang tetap mengalir secara adil di masyarakat, bukan menumpuk di segelintir tangan.

Justru di tangan orang beriman, uang bisa menjadi jalan ibadah. Dengan uang, seorang ayah bisa menafkahi keluarga dengan halal. Dengan uang pula kita bisa membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, membangun sekolah, masjid, atau rumah sakit. Instrumen zakat, infak, dan wakaf adalah sarana agar uang tidak berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan menjadi energi sosial yang menyejahterakan umat.

Namun, mari kita bercermin sejenak. Tidakkah kita sering menunda ibadah hanya demi pekerjaan, tapi jarang sekali menunda pekerjaan demi ibadah? Tidakkah keputusan moral kita sering kali tunduk pada kalkulasi untung-rugi semata? 

Tidakkah kita jauh lebih gelisah ketika saldo menipis daripada ketika kita lupa bersedekah? Jika iya, berarti ada tanda bahwa uang sudah naik pangkat dari alat menjadi “tuhan kecil” dalam hidup kita.

Lalu bagaimana agar uang tetap fitri, tetap pada posisinya sebagai alat? Islam memberi resep sederhana tapi mendalam: halalkan sumbernya, kelola dengan adil, dan gunakan untuk berbagi. Harta yang halal akan menumbuhkan keberkahan, sementara harta haram hanya akan menghapus nikmat. Mengelola dengan adil berarti mendahulukan kebutuhan, bukan gengsi. Membagi sebagian harta untuk orang lain akan membuat uang tidak menumpuk di hati, tetapi mengalir membawa manfaat.

Kuncinya adalah menempatkan uang di tangan, bukan di hati. Biarkan ia bekerja untuk membiayai pendidikan, menguatkan keluarga, menolong sesama, dan membangun peradaban. Jangan biarkan ia menguasai hati kita sehingga menggeser Allah dari pusat hidup. Pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya saldo, melainkan bersihnya niat, halalnya cara, adilnya pembagian, dan ikhlasnya berbagi.

Al-Qur’an menutup peringatan itu dengan indah: “Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). 

Ayat ini menegaskan keseimbangan: gunakan harta untuk membangun dunia, tapi jangan lupa bahwa tujuannya tetap akhirat.

Maka, bila hari ini uang sering kali terlihat lebih berkuasa daripada nilai, lebih dihormati daripada iman, dan lebih ditakuti daripada Tuhan, inilah saatnya kita kembali menata. Uang hanyalah sarana. Tuhan tetap satu: Allah Yang Maha Kaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Menguatkan Pendidikan Praktik: Refleksi atas Penyerahan Mahasiswa Magang UNISAI ke Mahkamah Syar’iyah Bireuen

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00