POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Akankah Pertemuan Kita Dirindukan?

Mahmudi HanafiahOleh Mahmudi Hanafiah
August 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Bireuen dan Guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek

Hidup penuh dengan perjalanan, pertemuan dan perpisahan. Melakukan perjalanan untuk sebuah pertemuan. Kemudian bertemu, untuk sebuah perpisahan. Aneh memang. Tapi itulah faktanya.
Kenapa bisa aneh…?


Imam Syafi’i pernah berkata: “Jika engkau telah merasakan manisnya pertemuan, engkau pasti akan mengetahui betapa pahitnya perpisahan”.


Pahitnya perpisahan sebanding dengan manisnya pertemuan. Artinya, pertemuan yang menciptakan berbagai kenangan yang penuh kesan akan menorehkan beragam luka saat perpisahan. Makanya, orang berkata: “Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali”.


Ada banyak sekali pertemuan yang sudah kita lalui semenjak kita lahir ke dunia ini. Mulai dari pertemuan dengan orang tua yang kita isi dengan tangisan dan disambut dengan air mata bahagia. Berlanjut pertemuan dengan tetangga dan sanak saudara. Pertemuan dengan kawan sejawat yang penuh dengan canda tawa. Pertemuan dengan para guru yang menyisakan niai yang luar biasa. Pertemuan dengan mitra kerja yang menggambarkan kekompakan tiada tara. Pertemuan dengan pasangan hidup yang memberikan kebahagiaan tak ternilai harga. Hingga pertemuan dengan anak cucu yang menandakan telah lanjutnya usia.


Semua pertemuan itu berujung dengan perpisahan. Pahitnya perpisahan yang kita rasakan selalu sebanding dengan manisnya kebersamaan yang kita lalui selama pertemuan. Kebersamaan setelah pertemuan kadang berlangsung lama, namun ada juga yang hanya sesaat saja. Bahkan, terkadang ada orang yang hanya sempat merasakan manisnya beberapa pertemuan saja, karena dia langsung dipertemukan dengan ‘pemutus’ semua pertemuan yang lain, yaitu kematian.


Kematian adalah pertemuan dengan malaikat ‘Izrail (malakul maut). Pertemuan dengan malakul maut memisahkan semua pertemuan yang telah dan yang sedang kita jalani. Namun di balik itu, pertemuan dengan malakul maut menjembatani pertemuan abadi dengan zat yang abadi, yaitu Allah. Di sinilah timbul pertanyaan, akankah pertemuan kita dirindukan…?


Pertemuan dengan Allah, yang dikatakan sebagai pertemuan yang dirindukan disebut sebagai ‘pertemuan habib dengan habib’ (pertemuan kekasih dengan kekasih). Artinya, untuk mendapatkan sebuah pertemuan yang dirindukan, kita harus menjalin hubungan dengan Allah sebagai hubungan kekasih dengan kekasih. Tanamkan rasa cinta kita yang paling mendalam hanya kepada Allah.

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Zab Bransah

Mengenal Black Campaign dalam Pemilu

Sepeda

Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh

Cintai Allah melebihi cinta kita kepada yang lainnya, apapun dan siapapun itu.
Kadang timbul pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana cara mencintai Allah…?
Apakah mencintai Allah melebihi dari mencintai yang lain bisa menyebabkan kita mengabaikan kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, anak, istri dan lainnya?


Kita bisa membuat analogi dengan cinta kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Rasa cinta kepada mereka kita perlihatkan dengan perhatian yang maksimal terhadap mereka, memenuhi kebutuhan mereka, mengupayakan yang terbaik bagi mereka, serta memberikan apa saja yang mereka minta. Apapun kita lakukan demi mencukupi kebutuhan mereka.

Berbagai macam cara kita lakukan demi membuat mereka tersenyum bahagia.
Cinta kita kepada Allah malah lebih sederhana. Allah sama sekali tidak mempunyai kebutuhan sedikitpun terhadap kita. Bahkan, Allah tidak butuh kita cintai. Hanya kita yang perlu mencitai Allah, agar kita dicintai Allah.


Mencintai Allah cukup dengan mengikuti Rasul-Nya, dan dengan begitu, kita juga akan dicintai Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”


Jadi, mencintai Allah sama sekali tidak mengabaikan tanggung jawab dan kewajiban kita kepada orang tua, istri/suami, anak dan seluruh makhluknya. Karena, di samping menyuruh dan mencontohkan kepada kita bagaimana cara kita berintaeraksi dengan Allah dalam ibadah mahdhah, seperti shalat dan puasa, Rasulullah dalam banyak hadisnya juga menegaskan kepada kita agar selalu berbakti kepada orang tua, menyayangi istri/suami dan anak serta berbuat baik kepada sesama manusia, bahkan kepada semua makhluk Allah.


Tidak mengabaikan kewajiban terhadap sesama, mencintai Allah justru meningkatkan tanggung jawab kita terhadap amanah-Nya, dan dengan begitu kita akan mendapatkan cinta-Nya.


Cinta merupakan perasaan hati, bukan omongan lisan. Cinta tumbuh dari dalam hati dan terlihat dari sikap dan perbuatan. Mencintai Allah tidak dengan ucapan ‘aku cinta Allah’, tetapi perlu diwujudkan dalam keseharian dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya.


Cinta kepada Allah tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Ketika cinta kepada Allah telah tumbuh dalam diri kita, saat itulah kita mendapatkan cinta Allah. Ketika cinta Allah telah kita dapatkan, pertemuan kita dengan Allah menjadi pertemuan yang dirindukan. Kedekatan dengan Allah hanya dijembatani oleh kematian. Kala itu, kematian tidak lagi dianggap sebagai hal yang ditakutkan, melainkan suatu hal yang ditunggu-tunggu, karena di balik kematian ada pertemuan antara kekasih dengan kekasih, itu pertemuan yang dirindukan.


Semoga kita mampu menumbuhkan rasa cinta yang setinggi-tingginya hanya kepada Allah, mendapatkan cinta Allah serta memperoleh pertemuan yang dirindukan.
Wallahu waliyyut tawfiq.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Mahmudi Hanafiah

Mahmudi Hanafiah

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Saat Pendidikan Hanya Jadi Program Pendukung

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00