• Latest
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 1a85891d 2cea 4a3d b96e d36e4c062abf | pemerintah Aceh, | Potret Online

Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh

Februari 13, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 1001348646_11zon | pemerintah Aceh, | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 1001353319_11zon | pemerintah Aceh, | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 1001361361_11zon | pemerintah Aceh, | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh

Muzakir Manaf dan Fadhullah, SE dilantik (12/02/2025)

Redaksi by Redaksi
Februari 13, 2025
in pemerintah Aceh,, Pertanian
Reading Time: 4 mins read
0
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 1a85891d 2cea 4a3d b96e d36e4c062abf | pemerintah Aceh, | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Riski Alfandi

Ketua Umum Hmi Komisariat Fakultas Pertanian USK

Baca Juga
  • Menjadi Petani Adalah Pilihan Nekat
  • Tragedi Sumatera 2025: Indonesia sebagai Negara Gagal

Pelantikan Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf, dan Wakil Gubernur, Fadhlullah, pada 12 Februari 2025, menjadi momen penting yang dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat Aceh, tak terkecuali para petani yang menggeluti sektor pertanian di Aceh. 

Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf, dan Wakil Gubernur, Fadhlullah, memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan permasalahan pertanian yang telah lama membelit Aceh. Mulai dari infrastruktur irigasi yang rusak, dampak perubahan iklim, hingga ketergantungan pada impor pangan. Semua ini membutuhkan solusi konkret dan terintegrasi. 

Baca Juga
  • Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh
  • INDONESIA SEBAGAI LUMBUNG PANGAN DUNIA PADA 2045, OPTIMISME ATAU PESIMISME?

Visi-misi mereka yang berfokus pada pembangunan lumbung pangan dan modernisasi pertanian sejalan dengan program swasembada pangan nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Namun, sinergi antara program pemerintah pusat dan daerah harus diperkuat agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan atau bahkan kegagalan implementasi seperti yang terjadi pada program food estate di daerah lain.

Muzakir Manaf telah menegaskan komitmennya untuk membangun Aceh yang mandiri pangan melalui pembangunan lumbung pangan berbasis korporasi dan peningkatan infrastruktur pertanian. Hal ini sejalan dengan program Presiden Prabowo yang menargetkan perluasan lahan panen hingga 4 juta hektar untuk tujuh komoditas strategis. 

Baca Juga
  • Kontroversi Pilihan Sejarah: Mengapa Aceh Memilih Bergabung dengan Indonesia?
  • Aceh Pernah Berjaya Dengan Rempah 1450-1680 M

Namun, Gubernur terpilih harusmemastikan bahwa program ini tidak mengabaikan petani kecil, yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pertanian Aceh. Selain itu, upaya modernisasi pertanian yang digaungkan oleh pemerintah pusat, seperti penggunaan teknologi digital dan alsintan, harus diadaptasi dengan kondisi lokal Aceh.

Krisis Pertanian Aceh

Ironi yang Memilukan Aceh, yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, justru bergantung pada impor beras dari Pakistan, Thailand, dan Myanmar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Desember 2024, nilai impor beras ke Aceh mencapai 9,71 juta USD.

Sementara itu, beras lokal Aceh justru “diekspor” ke Medan karena minimnya pasar lokal yang menyerap hasil panen petani. Ini adalah ironi yang memilukan.

Produksi padi di Aceh anjlok dari 2,3 juta ton pada 2015 menjadi hanya 1,5 juta ton pada 2022. Banjir di Aceh Utara pada 2022 menyebabkan 3.611 hektar sawah gagal panen, dengan kerugian mencapai Rp 162 miliar. Belum lagi kekeringan ekstrem di Pidie pada 2024 yang mengancam 5.000 hektar sawah. Jika ini terus berlanjut, Aceh akan semakin bergantung pada impor.

Sekitar 46% jaringan irigasi di Aceh dalam kondisi rusak, dan 30,6% petani tidak memiliki akses ke irigasi yang memadai. 

Bendungan Krueng Pase di Aceh Utara, yang seharusnya menjadi penopang irigasi ribuan hektar sawah, mangkrak selama bertahun-tahun. Akibatnya, ribuan petani harus menanggung kerugian akibat gagal panen.

Dampak perubahan iklim semakin nyata. Kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino melanda 23 kabupaten/kota di Aceh pada 2024. Petani di Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara terpaksa menggunakan mesin pompa air untuk menyelamatkan tanaman padi mereka. 

Namun, biaya operasional yang tinggi membuat banyak petani memilih menghentikan aktivitas pertanian.Mayoritas petani di Aceh berusia di atas 55 tahun. Generasi muda enggan terjun ke sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Di desa Baktiya Barat, Aceh Utara, petani kesulitan mendapatkan benih bersertifikat dan pupuk subsidi. Minimnya akses terhadap teknologi modern juga membuat sektor pertanian semakin tertinggal.

Luas panen padi di Aceh turun drastis dari 461.060 hektar pada 2015 menjadi hanya271.750 hektar pada 2022. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan pertanian untuk pembangunan dan permukiman. Jika tidak ada regulasi ketat, lahan pertanian produktif akan semakin menyusut. 

Hasil pertanian Aceh dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati di luar Aceh. Komoditas seperti tomat dan cabai sering tidak laku maksimal di pasar lokal, karena minimnya industri pengolahan. Akibatnya, petani kesulitan meningkatkan pendapatan mereka.

Rekomendasi Kebijakan

Solusi Konkret untuk Pertanian Aceh. Sebagai solusi konkret, HMI Pertanian USK merekomendasikan sebagai berikut:

Revitalisasi Infrastruktur Irigasi

Pemerintah harus segera memperbaiki saluran irigasi yang rusak dan membangun embung baru guna mengatasi kekeringan yang kerap terjadi.

Subsidi dan Akses Peralatan Modern

Petani perlu didukung dengan akses terhadap pupuk bersubsidi, benih unggul, dan teknologi pertanian modern seperti drone pertanian dan alat mekanisasi lainnya.

Pendidikan dan Regenerasi Petani

Program beasiswa dan pelatihan bagi generasi muda dalam bidang agribisnis dan teknologi pertanian harus diperluas untuk menarik lebih banyak anak muda ke sektor ini.

Penguatan Pasar dan Industri 

Pengolahan: Mendorong investasi di sektor industri pengolahan hasil pertanian agar produk Aceh memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.

Perlindungan Lahan Pertanian

Peraturan yang lebih ketat untuk mengendalikan alih fungsi lahan harus diterapkan guna menjaga lahan produktif dari eksploitasi non-pertanian. Harapan Besar untuk Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih HMI Pertanian USK, melalui Ketua Umum, menyampaikan harapan besar kepada Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk segera mengambil langkah konkret dalam membenahi sektor pertanian Aceh. “Kami berharap momentum pelantikan ini menjadi titik balik bagi pertanian Aceh. Jangan biarkan petani terus menderita, dan jangan biarkan potensi besar Aceh terbuang sia-sia,”

HMI Pertanian USK berharap Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih dapatmewujudkan kebijakan pertanian yang berpihak kepada petani kecil serta memastikan regenerasi petani dapat berjalan dengan baik. Pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda dalam bidang pertanian harus menjadi prioritas, sehingga sektor ini tidak semakin ditinggalkan. 

Selain itu, diharapkan adanya sinergi dengan perguruan tinggi dalam pengembangan riset dan inovasipertanian yang berbasis pada kebutuhan lokal. Dengan langkah-langkah strategis ini, Aceh dapat menjadi contoh sukses dalam program swasembada pangan nasional dan membuktikan bahwa sektor pertanian mampu menjadi pilar utama pembangunan ekonomi daerah.  Juga,  diharapkan momentum pelantikan ini untuk membawa Aceh menuju pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Momen Pelantikan Gubernur, HMI Pertanian USK Soroti Tantangan Dan Harapan Besar Sektor Pertania Aceh - 8EA74668 ECF3 4A18 8A9C 762A2E3CF0BA | pemerintah Aceh, | Potret Online

(Jangan) Biarkan MPA Menjadi Parasit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com