Dengarkan Artikel
Oleh Dian Rubianty
Kepada para pendiri bangsa dan para syuhada, kusampaikan permohonan maaf, pada ikhtiar yang tak seberapa dalam menjaga amanah, mencapai cita-cita Negara-Bangsa yang dengan pengorbanan jiwa-raga diproklamirkan delapan puluh tahun yang lalu:
“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.“
Maaf, amanah itu belum mampu kuemban dengan baik. Maaf, jika dalam berjuang kadang aku begitu tergoda untuk tidak teguh. Begitu ingin menjawab panggilan untuk menyerah, dibanding mendengar seruan agar tegak di atas cita-cita.
Maaf, jika pun terus berjuang, kadang di tengah keterbatasan, aku masih harus pilih-pilih dan belum mampu berlaku adil, untuk semua. Sungguh. Permintaan maaf ini kusampaikan bukan untuk menghindari tanggung-jawab, atau agar sesak sejenak lega, karena mendapat pembenaran. Ah, memang sudah begitu. Tidak apa-apa!
Pagi ini, kita berteriak Merdeka!
📚 Artikel Terkait
Senangnya. Merdeka milik kita adalah sebuah warisan. Perjuangan kita bukan untuk meraihnya dengan harta, air mata dan darah. Perjuangan kita adalah memastikan maknanya dirasakan oleh setiap anak bangsa, dari Sabang sampai Meurauke.
Merdeka itu hak. Hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang dirinya tak memiliki kecerdasan luar biasa secara intelijensia. tak juga melihat apakah dia berasal dari keluarga berada. Sebab pendidikan bukanlah hak istimewa bagi setiap anak bangsa. Pendidikan adaah hak dasar yang harus Merdeka dari diskriminasi intelektual sang anak. Merdeka dari diskriminasi sosial-ekonomi orang tua atau walinya.
Merdeka itu hak. Hak setiap warga negara mendapatkan akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, terlepas dari tidak adanya koneksi atau “orang dalam”.
Merdeka itu tanggung jawab. Tanggung jawab Negara, melalui Pemerintah, untuk menyelenggarakan pelayanan publik berkualitas prima untuk memenuhi hak-hak warga negara. Tanggungjawab untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan dan kesehatan hanya dua contoh di antaranya. Ia tak sekadar kewajiban, ia manah yang diikat oleh konstitusi.
Siapapun kita, apapun peran kita dalam kehidupan berbangsa-bernegara, ada kewajiban yang mengikat karena terlahir sebagai anak kandung negeri ini. Negeri tempat kita lahir. Negeri yang di tanahnya, kelak kita kembali pulang. Semoga hari ini, kita kembali ingat akan janji pengabdian.
Mengabdi untuk Negeri, di jalan-jalan pengabdian yang kadang rasanya sungguh sunyi. Namun kita tentu ingat, jalan perjuangan ini sudah ditempuh oleh banyak pendahulu. Semangat mereka bersama kita. Perjuangan di jalan-jalan kebenaran terkadang sungguh sunyi, namun kita takkan pernah berjalan sendiri.
Semoga perjuangan kita akan turut mewujudkan cita-cita… membangun jalan raya menuju Indonesia Sejahtera. Mungkin dengan pengorbanan ini, kelak anak-cucu kita dengan percaya diri akan menyanyikan “bangunlah jiwanya… bangunlah badannya…” dari Aceh sampai Papua.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






