• Latest

Maafku Padamu Syuhada 

Agustus 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Maafku Padamu Syuhada 

Redaksiby Redaksi
Agustus 17, 2025
Reading Time: 2 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dian Rubianty

Kepada para pendiri bangsa dan para syuhada,  kusampaikan permohonan maaf, pada ikhtiar yang tak seberapa dalam menjaga amanah, mencapai cita-cita Negara-Bangsa yang dengan pengorbanan jiwa-raga diproklamirkan delapan puluh tahun yang lalu:

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.“

Maaf, amanah itu belum mampu kuemban dengan baik. Maaf, jika dalam berjuang kadang aku begitu tergoda untuk tidak teguh. Begitu ingin menjawab panggilan untuk menyerah, dibanding mendengar seruan agar tegak di atas cita-cita.

Maaf, jika pun terus berjuang, kadang di tengah keterbatasan, aku masih harus pilih-pilih dan belum mampu berlaku adil, untuk semua. Sungguh. Permintaan maaf ini kusampaikan bukan untuk menghindari tanggung-jawab,  atau agar sesak sejenak lega, karena mendapat pembenaran. Ah, memang sudah begitu. Tidak apa-apa!

Pagi ini, kita berteriak Merdeka!

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Senangnya. Merdeka milik kita adalah sebuah warisan. Perjuangan kita bukan untuk meraihnya dengan harta, air mata dan darah. Perjuangan kita adalah memastikan maknanya dirasakan oleh setiap anak bangsa, dari Sabang sampai Meurauke.

Merdeka itu hak. Hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang dirinya tak memiliki kecerdasan luar biasa secara intelijensia. tak juga melihat apakah dia berasal dari keluarga berada. Sebab pendidikan bukanlah hak istimewa bagi setiap anak bangsa. Pendidikan adaah hak dasar yang harus Merdeka dari diskriminasi intelektual sang anak. Merdeka dari diskriminasi sosial-ekonomi orang tua atau walinya.

Merdeka itu hak. Hak setiap warga negara mendapatkan akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, terlepas dari tidak adanya koneksi atau “orang dalam”. 

Merdeka itu tanggung jawab. Tanggung jawab Negara, melalui Pemerintah, untuk menyelenggarakan pelayanan publik berkualitas prima untuk memenuhi hak-hak warga negara. Tanggungjawab untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan dan kesehatan hanya dua contoh di antaranya. Ia tak sekadar kewajiban, ia manah yang diikat oleh konstitusi.

Siapapun kita, apapun peran kita dalam kehidupan berbangsa-bernegara, ada kewajiban yang mengikat karena terlahir sebagai anak kandung negeri ini. Negeri tempat kita lahir. Negeri yang di tanahnya, kelak kita kembali pulang. Semoga hari ini, kita kembali ingat akan janji pengabdian. 

Mengabdi untuk Negeri, di jalan-jalan pengabdian yang kadang rasanya sungguh sunyi. Namun kita tentu ingat, jalan perjuangan ini sudah ditempuh oleh banyak pendahulu. Semangat mereka bersama kita. Perjuangan di jalan-jalan kebenaran terkadang sungguh sunyi, namun kita takkan pernah berjalan sendiri. 

Semoga perjuangan kita akan turut mewujudkan cita-cita… membangun jalan raya menuju Indonesia Sejahtera. Mungkin dengan pengorbanan ini, kelak anak-cucu kita dengan percaya diri akan menyanyikan “bangunlah jiwanya… bangunlah badannya…” dari Aceh sampai Papua.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Dipisahkan Oleh Waktu, Disatukan Oleh Kampung

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com