POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tradisi dan Inovasi: Jalan Tengah yang Terlupakan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
August 11, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

“Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka. Dan barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung.”
– (Hadis Nabi Muhammad SAW)


Pendahuluan: Antara Doay dan Data

Kita hidup di zaman yang membingungkan. Di satu sisi, banyak umat Islam menyerukan kembalinya kejayaan peradaban Islam. Di sisi lain, kita masih berselisih soal bentuk jubah, gaya jenggot, atau metode hisab. Dunia di luar sana sudah bicara tentang Artificial Intelligence, metaverse, rekayasa genetika, dan transhumanisme, tapi kita masih terjebak dalam pertanyaan: “Bolehkah inovasi?”

Kita tidak kekurangan doa, tapi kita tertinggal dalam data. Kita fasih dalam kisah kejayaan masa lalu, tetapi gagap membangun masa depan. Di sinilah letak permasalahannya: kita mencintai tradisi, namun enggan berinovasi.


Saat Tradisi dan Inovasi Pernah Bersatu

Dulu, Islam adalah kekuatan revolusioner. Pada abad ke-8 hingga ke-13, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global. Kota seperti Baghdad, Kairo, dan Andalusia bukan hanya simbol religius, tapi juga pusat astronomi, kedokteran, matematika, filsafat, dan teknologi.

Baitul Hikmah di Baghdad bukan hanya perpustakaan, tapi pusat penerjemahan dan diskusi terbuka antara budaya. Ibnu Sina menulis kitab kedokteran yang dipakai di universitas Eropa selama ratusan tahun. Al-Khawarizmi menciptakan dasar ilmu algoritma. Semuanya lahir karena semangat ijtihad, keterbukaan, dan keberanian merangkul pengetahuan dari berbagai peradaban.

Tradisi saat itu tidak menghambat inovasi—ia justru melahirkan inovasi. Ada keharmonisan antara iman dan akal, wahyu dan eksperimen, ibadah dan riset.


Kemunduran: Ketika Pintu Ijtihad Mulai Tertutup

Namun sejarah tidak selalu naik. Di masa-masa berikutnya, peradaban Islam mengalami penurunan tajam. Bukan karena musuh dari luar semata, tapi karena penolakan terhadap pembaruan dari dalam. Intelektual dicurigai, filsafat dimusuhi, inovasi dianggap ancaman.

Pintu ijtihad dikunci dengan dalih menjaga kemurnian agama. Taklid menggantikan eksplorasi. Ilmu dibatasi hanya pada yang “syar’i”. Akibatnya, kita berhenti mencipta. Kita mulai menyembah bentuk, bukan makna. Peradaban menjadi beku.


Dunia Bergerak Tanpa Kita

Sementara itu, Eropa yang dahulu belajar dari Islam mulai bangkit. Mereka menyerap warisan ilmu dari dunia Islam, lalu mengembangkannya tanpa beban dogma. Lahir Renaissance, lalu Revolusi Ilmiah, lalu Revolusi Industri. Dunia Barat kini memimpin dalam hampir semua bidang: teknologi, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.

Ironisnya, mereka maju karena dulu mereka belajar dari kita. Dan kita tertinggal karena berhenti belajar.


Ijtihad Digital: Jalan Menuju Kebangkitan Baru

📚 Artikel Terkait

Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

Kala Masyarakat Aceh Berkurban Dalam Ancaman PMK

Aktivis Gerebek Komisi I lagi “Indehoy” Rakyat di Hotel

Mengajak Anak Menulis Traveling Notes

Kini saatnya untuk bangkit — bukan dengan nostalgia, tetapi dengan ijtihad digital: keberanian membaca zaman dan mencipta solusi.

Bayangkan jika:

Pesantren digital menggunakan AI dan machine learning untuk mengembangkan metode belajar Al-Qur’an yang personal dan adaptif.

Aplikasi keuangan syariah berbasis blockchain menjamin transparansi zakat, infak, dan wakaf.

Platform dakwah berbasis metaverse menghadirkan khutbah interaktif lintas negara dan budaya.

Universitas Islam membangun ekosistem riset untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan berbasis nilai-nilai Qurani.

Semua ini bukan khayalan. Ini adalah peradaban baru yang mungkin, jika kita berani menyalakan kembali semangat ijtihad — bukan sekadar hukum, tapi juga dalam teknologi, desain, ekonomi, dan sains.


Solusi: Menyatukan Nilai dan Sistem

Apa yang perlu dilakukan?

  1. Transformasi Pendidikan

Kurikulum pesantren dan madrasah perlu mengintegrasikan logika, sains, coding, dan kewirausahaan tanpa kehilangan ruh spiritual.

Kembangkan guru sebagai inovator, bukan penghafal silabus.

  1. Ekosistem Nilai-Inovasi

Dorong kolaborasi antara ulama, akademisi, startup, dan komunitas kreatif.

Bangun inkubator ide berbasis masjid, madrasah, dan komunitas lokal.

  1. Kepemimpinan Transformatif

Pemimpin umat harus menjadi teladan dalam literasi digital, kejujuran moral, dan pemikiran terbuka.

Politik umat jangan hanya identitas, tapi juga kualitas sistem.

  1. Spiritualitas Kontekstual

Bangun spiritualitas yang aktif, bukan pasif. Yang mendorong amal, bukan sekadar ritual.

Hadirkan dakwah yang membumi, menjawab keresahan manusia modern: alienasi, krisis identitas, makna hidup.


Penutup: Dari Tradisi ke Transformasi

Tradisi bukan untuk disembah. Tradisi adalah akar. Tapi akar tak berarti apa-apa tanpa cabang, daun, dan buah. Kita butuh tradisi yang menumbuhkan, bukan membelenggu. Inovasi yang berakar, bukan yang tercerabut.

Saatnya umat Islam berhenti menjadi penonton sejarah. Kita punya sumber daya spiritual dan intelektual yang luar biasa. Kita hanya perlu menyatukannya dalam dedikasi dan desain besar untuk masa depan.

Kita tidak harus memilih antara menjadi modern atau religius. Kita bisa menjadi keduanya sekaligus — asal berani merumuskan ulang misi peradaban kita.

“Tidak ada kebangkitan tanpa pencerahan. Dan tidak ada pencerahan tanpa keberanian membuka jendela ilmu dan menggerakkan langkah ijtihad.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00