Dengarkan Artikel
Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Tadi pagi saya mengantar anak ke sekolah, lanjut siangnya menjemput pulang.
Jalan di depan sekolah itu seperti nadi yang tersumbat: padat, merayap, nyaris berhenti.
Macet ini nyaris setiap hari seperti ini. Seperti ayam yang dipelihara. Tak hanya SD, SMP, dan SMA, hampir semua sekolah di kota ini jelang jam masuk sekolah dan pulangnya, sama saja; macet.
Para orang tua, termasuk saya, menurunkan anak di bahu jalan, tepatnya depan pintu gerbang sekolah, seolah bahu jalan memang bagian dari halaman sekolah.
Siang hari, pulangnya, pemandangan berulang, bahkan lebih parah karena posisi orang tua menjemput, menunggu di badan jalan, menatap gerbang dengan sabar yang sesekali ditelan bunyi klakson.
Untung sebagian besar pakai sepeda motor. Saya membayangkan, jika pakai mobil, Denpasar akan punya koleksi museum kendaraan terpanjang di dunia — semua dipajang di atas aspal, tanpa gerak di pinggir jalan.
Tidak ada jembatan rusak, yang menyebabkan macet, tidak ada pula proyek galian, tak ada gorong-gorong diperbaiki. Macet murni dari cinta yang berlebihan: antar-jemput anak.
Masalahnya begitu sederhana, nyaris terlalu mudah untuk disimpulkan. Itulah penyebab macet, setiap hari demikian di ibukotanya Bali itu.
📚 Artikel Terkait
Saya saja yang bukan ahli perhubungan bisa mengidentifikasi dan menyimpulkan demikian, kenapa Dinas Perhubungan dan instansi terkait yang punya otoritas dan ahli di bidang lalu lihtas tak kunjung menuntaskannya?
Barangkali solusinya sudah pernah dibuat. Tapi jika macet tetap hadir, bisa jadi masalah yang diidentifikasi dengan cara penyelesaiannya tak klop, pasti ada yang salah. Dan jika diagnosisnya keliru, resepnya pasti tak manjur.
Menurut saya, solusinya sederhana: Pertama, atur jam masuk sekolah berbeda-beda, bahkan bila perlu ada sekolah yang mulai masuknya jam lima pagi dan pulang lebih awal, sehingga tak numplek di jalan.
Kedua, sediakan halaman sekolah untuk parkir, agar badan jalan tidak digunakan untuk parkir bagi orang tua yang hendak menjemput si buah hati.
Ketiga, walau satu sekolah, pulangnya diatur bergelombang, buatkan interval yang pas sehingga bergiliran dan tidak numplek bersamaan seperti arus pasang.
Keempat, jika semua gagal, relokasi sekolah jauh dari jalan utama, siapkan lahan parkir luas, agar kemacetan tak lagi menjadi bagian dari upacara harian.
Itulah macet yang dipelihara setiap hari. Belum lagi macet yang lahir dari hal-hal mendadak: ada ngaben, jalan ditutup, bade diletakkan di tengah badan jalan, separuh ruas jalan hilang.
Dalam situasi begitu, warga tampaknya maklum. Yang tak dimaklumi justru macet tanpa sebab jelas. Mencari jalan alternatif, malah menemukan kemacetan yang lebih parah.
Paradoksnya, di negeri ini, macet kadang tak butuh alasan, dan solusi seringkali hanyalah cerita yang kita ulang-ulang.
Denpasar, 4 Agustus 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





