• Latest
Macet Dipelihara, Solusi Mana?

Macet Dipelihara, Solusi Mana?

Agustus 10, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Macet Dipelihara, Solusi Mana?

Redaksiby Redaksi
Agustus 10, 2025
Reading Time: 2 mins read
Macet Dipelihara, Solusi Mana?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya

Tadi pagi saya mengantar anak ke sekolah, lanjut siangnya menjemput pulang.

Jalan di depan sekolah itu seperti nadi yang tersumbat: padat, merayap, nyaris berhenti.

Macet ini nyaris setiap hari seperti ini. Seperti ayam yang dipelihara. Tak hanya SD, SMP, dan SMA, hampir semua sekolah di kota ini jelang jam masuk sekolah dan pulangnya, sama saja; macet.

Para orang tua, termasuk saya, menurunkan anak di bahu jalan, tepatnya depan pintu gerbang sekolah, seolah bahu jalan memang bagian dari halaman sekolah.

Siang hari, pulangnya, pemandangan berulang, bahkan lebih parah karena posisi orang tua menjemput, menunggu di badan jalan, menatap gerbang dengan sabar yang sesekali ditelan bunyi klakson.

Untung sebagian besar pakai sepeda motor. Saya membayangkan, jika pakai mobil, Denpasar akan punya koleksi museum kendaraan terpanjang di dunia — semua dipajang di atas aspal, tanpa gerak di pinggir jalan.

Tidak ada jembatan rusak, yang menyebabkan macet, tidak ada pula proyek galian, tak ada gorong-gorong diperbaiki. Macet murni dari cinta yang berlebihan: antar-jemput anak.

Masalahnya begitu sederhana, nyaris terlalu mudah untuk disimpulkan. Itulah penyebab macet, setiap hari demikian di ibukotanya Bali itu.

Saya saja yang bukan ahli perhubungan bisa mengidentifikasi dan menyimpulkan demikian, kenapa Dinas Perhubungan dan instansi terkait yang punya otoritas dan ahli di bidang lalu lihtas tak kunjung menuntaskannya?

Barangkali solusinya sudah pernah dibuat. Tapi jika macet tetap hadir, bisa jadi masalah yang diidentifikasi dengan cara penyelesaiannya tak klop, pasti ada yang salah. Dan jika diagnosisnya keliru, resepnya pasti tak manjur.

Menurut saya, solusinya sederhana: Pertama, atur jam masuk sekolah berbeda-beda, bahkan bila perlu ada sekolah yang mulai masuknya jam lima pagi dan pulang lebih awal, sehingga tak numplek di jalan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Kedua, sediakan halaman sekolah untuk parkir, agar badan jalan tidak digunakan untuk parkir bagi orang tua yang hendak menjemput si buah hati.

Ketiga, walau satu sekolah, pulangnya diatur bergelombang, buatkan interval yang pas sehingga bergiliran dan tidak numplek bersamaan seperti arus pasang.

Keempat, jika semua gagal, relokasi sekolah jauh dari jalan utama, siapkan lahan parkir luas, agar kemacetan tak lagi menjadi bagian dari upacara harian.

Itulah macet yang dipelihara setiap hari. Belum lagi macet yang lahir dari hal-hal mendadak: ada ngaben, jalan ditutup, bade diletakkan di tengah badan jalan, separuh ruas jalan hilang.

Dalam situasi begitu, warga tampaknya maklum. Yang tak dimaklumi justru macet tanpa sebab jelas. Mencari jalan alternatif, malah menemukan kemacetan yang lebih parah.

Paradoksnya, di negeri ini, macet kadang tak butuh alasan, dan solusi seringkali hanyalah cerita yang kita ulang-ulang.

ADVERTISEMENT

Denpasar, 4 Agustus 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com