Dengarkan Artikel
Oleh Silvia
Siswa Kelas X F, SMA Negeri 1 Bireun, Aceh
Aku terlahir dari rahim seorang perempuan sederhana. Orang biasa,yang selalu apa adanya. Saat aku terlahir ke dunia dan saat mata ini mulai terbuka memandang dunia, aku hanya mengenal sosok seorang ibu. Ayahku dan ibuku berpisah, ketika aku berusia satu tahun delapan bulan.
Di usiaku yang masih belia, tak sekalipun aku mengenal seorang sosok yang di panggil dengan sebutan “AYAH”.Tak pernah kurasakan pelukan hangatnya. Tak pernah kurasakan belaian sayangnya. Dan tak pernah sekalipun ada tiupan lilin dan potong kue, pada saat ” Ultah”ku. Hingga sampai pada detik ini, di mana usiaku sudah menginjak 16 tahun. Tak pernah aku kenal sosok lain, selain bidadari yang kini tak cantik lagi, yaitu ibuku. Perempuan tangguh, sabar dan tegar. Darinya lah aku mendapatkan kasih sayang.
Ibuku memang bukan orang hebat. Namun dalam dirinya aku banyak belajar tentang arti hidup dan kehidupan sesungguhnya. Dari umur 3 tahun aku digembleng menghadapi kerasnya hidup ini. Ibuku juga bukan seorang konglomerat. Ibuku hanya seorang penjual gorengan. Meskipun demikian, aku tak pernah malu dan merasa rendah diri, mungkin sebagian anak seusiaku merasa malu, karena memilih orang tua yang bekerja sebagai tukang ojek, tukang kayu dan sebagainya.
Namun tidak untukku. Justru aku bangga memiliki seorang ibu, meskipun ibuku seorang penjual gorengan. Karena dari usaha itulah aku mendapatkan uang jajan, membeli buku sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semua itu ibuku lakukan hanya untukku.
Hingga pada suatu ketika, sesuatu yang kutakutkan terjadi. Ibuku jatuh sakit dan mau tak mau, usaha yang dirintis ibuku harus berhenti di tengah jalan. Di samping itu, ibuku semakin tua. Tenaganya tak sekuat dulu lagi. Itulah yang membuatnya sering sakit-sakitan.
Terkadang dalam diam, aku menangis tanpa seorang pun tahu. Betapa tidak?! Di usianya yang tidak muda lagi, ibuku yang seharusnya beristirahat justru banting tulang, mengais rezeki agar aku tak putus sekolah. Menyedihkan memang, namun demikian, aku tetap mengucap syukur pada Tuhan, aku dan ibuku masih bisa makan.
Meskipun hanya nasi berlaukan telur.
Begitu besar pengorbanan ibuku dalam membesarkan dan mendidik-ku. Yang semuanya itu tak pernah bisa terbayar oleh ku. Aku berjanji suatu saat nanti, aku akan membahagiakan dirinya dan sosoknya tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Terimakasih untukmu ibu, yang telah hadir mengisi hari – hariku sejauh ini.
Cot Gapu, 5 Agustus 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











