• Latest
Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu  - 49ea08ab 3563 4287 81c6 5569bde8def8 | Bingkai | Potret Online

Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu 

Februari 20, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu 

Jacob Ereste by Jacob Ereste
Februari 20, 2025
in Bingkai, Diagframa, Essay, Indonesia, Lingkungan
Reading Time: 3 mins read
0
Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu  - 49ea08ab 3563 4287 81c6 5569bde8def8 | Bingkai | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Jacob Ereste 

Hidup hanya sekali berarti, setelah itu mati…”,  kata penyair Chairil Anwar. “Hidup di penghujung hayat, tinggal memperindah batu nisan saja”, kata penyair lain yang mendapat kesempatan hidup lebih panjang usianya. Karena itu, ekspresi rasa syukur dia terus bergiat untuk berbuat yang terbaik guna genenasi anak dan cucunya.

Bagi dirinya sendiri, sesungguhnya semua sudah selesai. Karena itu di ujung usia senjanya, dia hanya ingin membalas bonus yang dikirim dari langit, sebagai ungkapan terima kasih dan syukur yang tidak mungkin mampu dia rampungkan sampai ke liang lahat.

Di sela renungan rindu dan kangen, ia menemukan hikmah cinta terhadap anak dan cucunya yang kini mulai membangun ladang penghidupan di seberang sana. Rindu dan kangen itu bagi dia bisa dipahami sungguh religius dan sakral, karena mampu menuntun jalan lurus spiritual yang semakin mengasyikkan dirinya. 

Kematian pun semakin dia pahami dengan keramahan dan keridhaan yang tidak mungkin pernah dinikmati oleh setiap orang. Itulah sebagian dari sejumlah rasa keberuntungan dirinya yang selalu disyukuri. Seperti sikap keperduliannya pada sesama manusia yang gigih mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan martabat serta harga diri yang luhur,  sebagai bagian dari upaya  menjaga otentisitas keillahian fitrah pemberian dari langit bersama segenap nikmat  rahmatan lil alamin yang tiada batas dan tiada bertepi itu.

Karenanya, dalam usianya di ujung senja sekarang, tiada pernah hendak dia berpangku tangan dari kegaduhan jaman yang perlu ditertibkan. Apalagi sekadar untuk cari selamat bagi dirinya sendiri, hingga tak hirau untuk ikut menata bumi agar harmoni dan sinkron dengan derap awan di langit yang berarak-arakan.

Maka itu budaya feodal dan amtenar yang diwariskan keluarga dan tetangga dahulu telah dia kubur sejak masa sekolah rakyat. Ia melupakan tradisi kelangenan seperti memelihara perkutut di beranda rumah. Seakan-akan tak cukup banyak urusan penting yang perlu untuk diluruskan agar bencana masa depan yang telah lalai  diperhutiungkan dapat dapat kembali dikaji ulang.

Duduk manis di beranda rumah sambil meniknati masa jaya yang pernah dicapai dengan susah payah dahulu, sungguh baik tiada ada yang salah. Tapi nyinyir dan latah menyalahkan orang lain memilih  untuk terus aktif dan berbuat atas dasar keyakinan yang baik dan benar, agaknya tak cukup bijak. Apalagi kemudian beranggapan terbaik pada pilihan sendiri sambil ceriwis untuk mencerca pilihan sikap orang lain,  karena tidak senada atau bahkan tidak searah dengan sikap dan pilihan kita yang mungkin justru lebih puritan.

Menikmati masa tua itu tidak cukup, karena merasa aman dan nyaman dengan deposito yang cukup atau berlebih, sehingga tidak lagi merasa perlu — atau berkewajiban — untuk terus berbuat baik bagi bangsa dan negara yang memerlukan sumbangan pemikiran serta dharma bakti untuk masa depan yang lebih baik, lebih nyaman dan aman sehingga kebahagian dapat lebih merata dinikmati oleh banyak orang.

Agaknya, pilihan sikap serupa ini merupajan upaya minimal dari peran serta menekan arus kapitalisme global terselubung yang selama ini ikut memanfaatkan kelalaian kita yang abai atau bahkan ikut menyuburkan bertumbuhnya sikap kemaruk itu dalam diri kita. Hingga harga diri dan kepribadian bangsa yang tergerus tak lagi memiliki ghirah heroisme  patriotik yang luntur,  hingga tata kelola negara — yang berdampak langsung bagi bangsa — menjadi amburadul tak karu-karuan. 

Maka itu atas rasa tanggung jawab dan sikap nasionslisme,  kebobrokan ini tidak boleh dibiarkan. Sebab kita tidak ingin mewariskan kerusakan dan kebusukan yang tak patut diterima oleh anak cucu kita.

Kemampuan kita mewariskan negeri ini dalam kondisi yang baik, pasti kelak akan dikenang oleh anak cucu kita. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, maka hujatan atau bahkan dera dan derita akan jadi legenda bagi anak cucu kita juga. Jadi itulah kelak, bekal spiritual yang akan terus kita dibawa sampai ke  alam baka dan menjadi ornamen penghias batu nisan.

Banten, 9 April 2023

Share234SendTweet146Share
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Next Post
Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu  - IMG 20250220 WA0010 | Bingkai | Potret Online

Bitcoin untuk Zakat: Solusi atau Masalah?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com