POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Uleebalang Bukan Pengkhianat: Menimbang Ulang Sejarah Aceh yang Terlupakan

RedaksiOleh Redaksi
August 2, 2025
Uleebalang Bukan Pengkhianat: Menimbang Ulang Sejarah Aceh yang Terlupakan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar

Pemerhati Sosial dan Lingkungan Aceh

Sejarah Aceh kerap ditulis dengan tinta yang tebal di satu sisi, namun kabur di sisi lainnya. Dalam banyak narasi populer, Uleebalang dicap sebagai “pengkhianat” yang memihak kolonial Belanda melawan ulama dan rakyat Aceh. Namun, apakah benar sesederhana itu? Apakah sejarah boleh direduksi menjadi hitam-putih, tanpa mempertimbangkan kompleksitas sosial, politik, dan adat yang mengikat masyarakat Aceh kala itu?

Mitos Pengkhianatan yang Direproduksi

Narasi “pengkhianatan” Uleebalang lahir dari pembacaan sejarah yang menekankan konflik antara ulama dan Uleebalang, khususnya pada masa revolusi sosial di Sumatra Timur dan pergolakan pasca-kemerdekaan. Namun, menyematkan label pengkhianat tanpa konteks sama saja dengan memenjarakan sejarah dalam ruang sempit propaganda.

Padahal, Uleebalang adalah institusi adat yang telah eksis jauh sebelum kolonial datang. Mereka bukan sekadar penguasa lokal, tetapi juga penjaga tatanan sosial, hukum adat, dan kedaulatan wilayah mukim. Relasi mereka dengan ulama pada masa-masa tertentu bukan semata konflik, melainkan kerap bersifat komplementer: ulama memimpin dalam hal agama, sementara Uleebalang menjaga tata kelola sosial dan keamanan rakyat.

Kolaborasi atau Survival Politik?

Benar, ada sebagian Uleebalang yang berhubungan dengan pemerintah kolonial. Namun, apakah semua bentuk hubungan itu dapat dimaknai sebagai pengkhianatan? Dalam konteks kolonialisme, strategi bertahan hidup sering kali memaksa elit lokal menempuh jalan kompromi. Bagi sebagian Uleebalang, kolaborasi bukan sekadar tunduk, tetapi cara untuk menyelamatkan rakyatnya dari kebijakan represif yang lebih keras jika mereka memilih perlawanan terbuka.

📚 Artikel Terkait

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang

Pengemis dan Strategi Bertahan Hidup

Jatuh Tak Terkubur

Pencegahan dan Penindakan Korupsi di Indonesia Terkesan Adanya Persekongkolan dan Kesepakatan

Sejarawan Anthony Reid mencatat bahwa banyak perjanjian antara Uleebalang dan Belanda tidak sepenuhnya dijalankan karena di tingkat lokal, Uleebalang tetap menjaga kepentingan mukim mereka. Fakta ini jarang disorot dalam wacana publik, karena tidak sesuai dengan narasi “hitam-putih” yang selama ini menguasai imajinasi sejarah Aceh.

Uleebalang dan Ulama: Relasi yang Berubah

Konflik antara Uleebalang dan ulama di Aceh juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-ekonomi. Revolusi sosial yang meletus di beberapa daerah pasca-kemerdekaan bukan semata perang ideologi, tetapi juga perebutan ruang kuasa yang dipengaruhi perubahan tatanan kolonial. Ulama yang sebelumnya lebih fokus pada peran keagamaan mulai memasuki arena politik, sementara sebagian Uleebalang yang melemah akibat kebijakan kolonial kehilangan legitimasi. Persinggungan inilah yang kemudian dipolitisasi hingga melahirkan stigma “pengkhianatan.”

Mendamaikan Sejarah Aceh

Aceh butuh cara pandang baru terhadap sejarahnya sendiri. Uleebalang tidak bisa dihapus dari identitas Aceh hanya karena stigma masa lalu yang tidak sepenuhnya akurat. Mereka adalah bagian dari mozaik sejarah, sama pentingnya dengan peran ulama, pejuang rakyat, dan bangsawan lainnya.

Mendekonstruksi mitos “pengkhianatan” bukan berarti menafikan kesalahan sebagian Uleebalang, tetapi menolak generalisasi yang membutakan. Dalam konteks kini, rekonsiliasi memori sejarah justru penting agar Aceh mampu merangkai kembali jati dirinya secara utuh: sebagai bangsa yang menghormati adat, ulama, dan sejarah tanpa dikungkung narasi sepihak.

Penutup: Saatnya Menulis Ulang

Uleebalang bukan pengkhianat. Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang Aceh yang kompleks. Kini, tugas kita adalah menulis ulang sejarah dengan jujur-bukan untuk membela siapa pun, melainkan untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Sebab sejarah yang adil tidak menuding, ia memahami. Dan Aceh, lebih dari siapa pun, layak mendapatkan pemahaman itu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Sosialisasi PKKM di Kalangan Madrasah, Pentingkah?

Sosialisasi PKKM di Kalangan Madrasah, Pentingkah?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00