POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
July 30, 2025
Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Saat ini, istilah Rojali dan Rohana sedang marak kita dengar di media sosial. Sayangnya, istilah ini bukan tentang sepasang nama kekasih seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi istilah ini muncul dari sebuah plesetan getir yang muncul di kalangan pedagang Indonesia. Rojali artinya “Rombongan Jarang Beli”, sementara Rohana adalah “Rombongan Hanya Nanya”. Biasanya, istilah ini muncul saat segerombolan orang masuk ke toko, lihat-lihat, tanya-tanya, lalu… pergi tanpa membeli apa pun.

Bagi sebagian pedagang, hal ini tentu memberikan dampak yang cukup berisiko, di mana rendahnya daya beli masyarakat bisa memengaruhi usaha para pedagang yang kerap mengandalkan kebutuhan harian dari barang jualannya. Jika mayoritas masyarakat memilih menjadi bagian dari ‘Rojali dan Rohana’, lalu bagaimana para pedagang ini bisa bertahan untuk kelangsungan hidupnya?
Rojali dan Rohana bukan hanya sekadar humor plesetan, tapi ini sebenarnya adalah wajah baru dari kemiskinan Indonesia yang dirias agar tak terlalu menyakitkan.

Fenomena ini adalah efek domino, di mana daya beli masyarakat yang menukik bukan karena masyarakat Indonesia tiba-tiba bermeditasi anti-konsumtif, melainkan karena perut mereka lebih penting diisi dengan nasi daripada bergaya dengan baju baru. Rojali dan Rohana ini bukan tidak mau membeli barang yang dijajakan di etalase pertokoan, tapi mereka sadar betul bahwa anggaran dari gaji bulanan yang pas-pasan membuat mereka sulit menyisihkan dana untuk kebutuhan di luar makan. Alhasil, mereka lebih memilih melihat-lihat barang di pertokoan sebagai sarana hiburan semata.

Mari kita tinjau ulang besaran UMK tiap provinsi. Meski nominalnya kerap berbeda, tapi jika dibandingkan dengan tingginya biaya hidup di kota tersebut, angka UMK tersebut tetap jauh dari kata mencukupi untuk bertahan hidup. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, selama dua minggu pertama mungkin aman, sisanya seperti biasa, mereka harus mencari pinjaman online.

📚 Artikel Terkait

Mengoreksi Adab Kemanusiaan Kita ( Hari Pahlawan)

Penyusutan Hutan Aceh dan Dampaknya

NASIB MAHASISWA PERBANKAN SYARIAH BAGAIKAN ABU DI ATAS TANGGUL?

Menakar Masa Depan Bimbingan dan Konseling

Menyedihkan? Tapi itulah fenomena nyata yang terjadi di negara kita. Bukan karena pendidikan rendah atau kerja kerasnya yang kurang, sehingga penghasilannya dikategorikan di bawah standar kelayakan, karena pada kenyataannya yang berpendidikan S2 pun, gajinya bahkan tak sampai dua digit. Mereka yang punya banyak sertifikasi, itu kadang dibayar tidak lebih dari tiga juta. Mereka masih harus banting tulang mencari seseran ke sana ke sini demi uang dapur tetap mengepul.

Yang menyedihkan, istilah Rojali dan Rohana justru sering jadi bahan olokan para elit. Seolah masyarakat kita itu “irit dan terlalu pelit”. Padahal, mereka ini sedang berdiri di antara gaji yang pas-pasan dan kebutuhan hidup yang makin tinggi. Ini bukan soal gengsi tak mau beli, tapi soal logika: “Kalau banyak barang yang dibeli, besoknya makan apa?”

Lucunya, para petinggi kita sering pura-pura lupa bahwa realita ini bukan sekadar statistik di lembar laporan tahunan. Ini nyata! Tentang masyarakat Indonesia, tentang rakyat kita yang semakin hari semakin terjerat dalam kemiskinan ekstrem. Mereka hidup di ruang dingin ber-AC, membahas inflasi terkendali dan data statistik kemiskinan menurun, sembari menyeruput secangkir kopi luwak. Sementara rakyatnya? Jutaan orang jadi pengangguran. Jutaan orang terjerat kemiskinan. Jutaan orang terjerat pinjaman online. Lucunya, semua kerap hanya menjadi tontonan.

Rojali dan Rohana adalah simbol zaman. Sebuah sindiran diam-diam dari masyarakat yang lelah tapi masih mencoba untuk bisa bahagia, tertawa menertawakan penderitaan. Karena memang, kalau tidak ditertawakan, mungkin semuanya sudah jadi gila dengan tekanan hidup yang semakin luar biasa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH-

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00