• Latest
Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Juli 30, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Juli 30, 2025
Reading Time: 3 mins read
Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Saat ini, istilah Rojali dan Rohana sedang marak kita dengar di media sosial. Sayangnya, istilah ini bukan tentang sepasang nama kekasih seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi istilah ini muncul dari sebuah plesetan getir yang muncul di kalangan pedagang Indonesia. Rojali artinya “Rombongan Jarang Beli”, sementara Rohana adalah “Rombongan Hanya Nanya”. Biasanya, istilah ini muncul saat segerombolan orang masuk ke toko, lihat-lihat, tanya-tanya, lalu… pergi tanpa membeli apa pun.

Bagi sebagian pedagang, hal ini tentu memberikan dampak yang cukup berisiko, di mana rendahnya daya beli masyarakat bisa memengaruhi usaha para pedagang yang kerap mengandalkan kebutuhan harian dari barang jualannya. Jika mayoritas masyarakat memilih menjadi bagian dari ‘Rojali dan Rohana’, lalu bagaimana para pedagang ini bisa bertahan untuk kelangsungan hidupnya?
Rojali dan Rohana bukan hanya sekadar humor plesetan, tapi ini sebenarnya adalah wajah baru dari kemiskinan Indonesia yang dirias agar tak terlalu menyakitkan.

Fenomena ini adalah efek domino, di mana daya beli masyarakat yang menukik bukan karena masyarakat Indonesia tiba-tiba bermeditasi anti-konsumtif, melainkan karena perut mereka lebih penting diisi dengan nasi daripada bergaya dengan baju baru. Rojali dan Rohana ini bukan tidak mau membeli barang yang dijajakan di etalase pertokoan, tapi mereka sadar betul bahwa anggaran dari gaji bulanan yang pas-pasan membuat mereka sulit menyisihkan dana untuk kebutuhan di luar makan. Alhasil, mereka lebih memilih melihat-lihat barang di pertokoan sebagai sarana hiburan semata.

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Mari kita tinjau ulang besaran UMK tiap provinsi. Meski nominalnya kerap berbeda, tapi jika dibandingkan dengan tingginya biaya hidup di kota tersebut, angka UMK tersebut tetap jauh dari kata mencukupi untuk bertahan hidup. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, selama dua minggu pertama mungkin aman, sisanya seperti biasa, mereka harus mencari pinjaman online.

Menyedihkan? Tapi itulah fenomena nyata yang terjadi di negara kita. Bukan karena pendidikan rendah atau kerja kerasnya yang kurang, sehingga penghasilannya dikategorikan di bawah standar kelayakan, karena pada kenyataannya yang berpendidikan S2 pun, gajinya bahkan tak sampai dua digit. Mereka yang punya banyak sertifikasi, itu kadang dibayar tidak lebih dari tiga juta. Mereka masih harus banting tulang mencari seseran ke sana ke sini demi uang dapur tetap mengepul.

Yang menyedihkan, istilah Rojali dan Rohana justru sering jadi bahan olokan para elit. Seolah masyarakat kita itu “irit dan terlalu pelit”. Padahal, mereka ini sedang berdiri di antara gaji yang pas-pasan dan kebutuhan hidup yang makin tinggi. Ini bukan soal gengsi tak mau beli, tapi soal logika: “Kalau banyak barang yang dibeli, besoknya makan apa?”

Lucunya, para petinggi kita sering pura-pura lupa bahwa realita ini bukan sekadar statistik di lembar laporan tahunan. Ini nyata! Tentang masyarakat Indonesia, tentang rakyat kita yang semakin hari semakin terjerat dalam kemiskinan ekstrem. Mereka hidup di ruang dingin ber-AC, membahas inflasi terkendali dan data statistik kemiskinan menurun, sembari menyeruput secangkir kopi luwak. Sementara rakyatnya? Jutaan orang jadi pengangguran. Jutaan orang terjerat kemiskinan. Jutaan orang terjerat pinjaman online. Lucunya, semua kerap hanya menjadi tontonan.

Rojali dan Rohana adalah simbol zaman. Sebuah sindiran diam-diam dari masyarakat yang lelah tapi masih mencoba untuk bisa bahagia, tertawa menertawakan penderitaan. Karena memang, kalau tidak ditertawakan, mungkin semuanya sudah jadi gila dengan tekanan hidup yang semakin luar biasa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH-

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com