Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif Arsyad
Belajar yang Tak Lagi Membebaskan
Di era digital ini, belajar seolah makin mudah. Aplikasi pendidikan membanjiri gawai siswa dari kota hingga desa—mulai dari Ruangguru, Zenius, sampai YouTube Edukasi. Sekilas tampak mempermudah. Tapi siapa sangka, di balik semua kemudahan itu, ada kekuatan tak kasatmata yang diam-diam mengatur arah pembelajaran: algoritma.
Jika dulu belajar adalah proses menjelajah dan bertanya, kini ia makin menyerupai scrolling. Siswa hanya disuguhi topik-topik yang “cocok” dengan minat mereka—bukan karena relevansi, melainkan karena sering diklik. Penelitian Kemdikbudristek (2023) mencatat 68% siswa terjebak dalam “filter bubble pengetahuan”, hanya mengakses bidang tertentu dan kehilangan paparan lintas ilmu.
Teknologi personalisasi yang seharusnya memperluas cakrawala justru bisa mempersempitnya. Anak-anak yang semestinya belajar berpikir luas malah dikurung dalam minat yang itu-itu saja, sesuai logika mesin.
Gamifikasi: Antara Semangat dan Ketergantungan
Banyak platform belajar kini mengadopsi konsep gamification—dengan poin, lencana, dan papan peringkat layaknya permainan. Ini berhasil memompa semangat siswa, meski hanya dalam jangka pendek. Namun, studi Universitas Indonesia (2024) menemukan bahwa 72% siswa belajar bukan karena ingin tahu, tapi karena ingin mendapat reward digital.
Belajar jadi seperti permainan adiktif: bukan untuk paham, tapi untuk menang. Jika dibiarkan, pendekatan ini bisa melemahkan motivasi sejati dan mengubah pendidikan menjadi perlombaan angka semata.
Forum Diskusi Digital yang Tergerus Makna
Pergeseran ketiga menyentuh aspek paling penting dalam pembelajaran: ruang diskusi. Seiring banyaknya kelas online dan penggunaan Learning Management System (LMS), forum diskusi menjadi sarana utama bertukar pikiran.
Namun di balik kemudahan itu, algoritma diam-diam bekerja menentukan urutan komentar yang tampil teratas. Tak jarang, komentar yang viral atau banyak disukai justru mengalahkan argumen yang lebih substansial. Dosen Universitas Gadjah Mada pernah menyampaikan kegelisahannya: “Diskusi kritis tergeser oleh komentar yang ‘algoritma-friendly’.”
Akibatnya, budaya debat sehat dan berpikir mendalam mulai terpinggirkan. Forum diskusi menjadi ajang adu populer, bukan adu pikiran. Hal ini mengancam esensi pendidikan itu sendiri—yang seharusnya melatih nalar, membuka perspektif, dan memperkuat empati antarindividu.
Frekuensi Manusia yang Mulai Tergerus
Belajar yang bermakna menyentuh tiga sisi manusia: nalar kritis, empati sosial, dan intuisi kreatif. Namun kini, ketiganya mulai tergeser oleh mesin. Jawaban instan dari AI seperti ChatGPT bisa mematikan keingintahuan alami. Ruang dialog yang dulunya hangat kini jadi dingin dan singkat. Ide-ide orisinal pun dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari seberapa besar potensi viralnya.
📚 Artikel Terkait
Contoh paling nyata terlihat dalam sistem penilaian AI. Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta (2023) menunjukkan bahwa esai dengan metafora budaya lokal sering dianggap “tidak akademis” oleh mesin. Ini bukti bahwa teknologi belum tentu mampu menangkap nuansa insani dalam karya anak-anak.
Ilusi Kesuksesan dan Beban Psikologis
Konsep law of attraction ala edutech juga menjalar dalam pendidikan. Banyak aplikasi menjanjikan sukses instan: “mahir dalam 7 hari” atau “lolos PTN tanpa belajar keras”. Realitasnya? Banyak siswa merasa gagal hanya karena algoritma menyodorkan materi di luar jangkauan mereka.
Survei Ikatan Psikolog Pendidikan (2024) mencatat 65% siswa merasa minder karena selalu dibandingkan dengan standar buatan mesin. Seperti disindir oleh Prof. Arief Rahman, “yang ditarik bukan lagi pengetahuan, tapi engagement.” Pendidikan menjadi komoditas klik.
Ketimpangan Digital: Antara Kota dan Desa
Keadilan belajar makin terancam ketika sistem pendidikan—termasuk zonasi PPDB—bergantung pada algoritma. Di Jakarta, sistem zonasi digital 2024 justru menyingkirkan banyak siswa dari keluarga marginal ke sekolah pinggiran, bukan karena nilai mereka rendah, tapi karena infrastruktur digital di rumah mereka lemah.
Di desa-desa, kondisi lebih memprihatinkan. Banyak siswa masih belajar dengan sinyal lemah, gawai terbatas, bahkan tanpa listrik stabil. Algoritma tak membaca kenyataan ini. Ia hanya memproses data. Maka, anak desa yang tak punya jejak digital dinilai “tidak layak”, sementara anak kota dengan klik dan koneksi lancar mendapat jalan mulus.
Keadilan tak bisa dicapai jika sistemnya buta konteks. Anak kota dan desa tak bisa disamakan dalam satu rumus algoritmik. Keadilan sejati melihat kebutuhan, bukan hanyaangka.
Solusi Human-Centered: Menempatkan Manusia Kembali di Pusat
Tantangan besar hari ini adalah mengembalikan arah pendidikan ke tangan manusia. Guru harus diperkuat sebagai pendamping teknologi—bukan digantikan. Di kota, mereka berperan menyaring banjir konten digital. Di desa, mereka menjadi penghubung antara anak dan dunia digital yang terbatas.
Literasi digital juga harus diperluas. Di perkotaan, siswa perlu diajak berpikir kritis terhadap rekomendasi algoritma. Di desa, pendidikan digital bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mengenali informasi palsu, memahami penggunaan data pribadi, hingga belajar dengan media alternatif.
Negara pun tak boleh tinggal diam. Dibutuhkan regulasi yang mewajibkan platform pendidikan digital membuka cara kerja algoritmanya secara transparan. Lebih jauh, perlu dibentuk lembaga pengawas algoritma pendidikan—agar tidak ada anak yang dirugikan hanya karena sistem yang tak peka.
Penutup: Menjaga Ruh Belajar dalam Arus Digital
Di tengah gegap gempita teknologi, kita perlu kembali bertanya: untuk siapa sesungguhnya pendidikan dirancang? Jika jawaban kita tetap “untuk manusia”, maka pembelajaran tak boleh sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma yang dingin dan tak mengenal konteks. Sebab belajar bukanlah proses mengisi data, melainkan proses menjadi—menjadi manusia yang berpikir, merasa, dan peduli.
Kini, tantangan utama dunia pendidikan bukan sekadar membangun infrastruktur digital, tetapi menjaga agar teknologi tak mencabut nilai-nilai kemanusiaan dari proses belajar. Kita harus berani membongkar logika sistem yang lebih memihak klik daripada makna, yang lebih mementingkan engagement daripada pemahaman. Baik di kota dengan jaringan super cepat maupun di desa yang sinyalnya timbul tenggelam, anak-anak tetap punya hak yang sama untuk tumbuh lewat pendidikan yang adil, kontekstual, dan manusiawi.
Pendidikan berbasis algoritma boleh saja terus berkembang, tapi arah dan nilai-nilainya tetap harus ditentukan oleh manusia. Bukan sebaliknya. Karena jika kita membiarkan sistem yang kaku menentukan masa depan anak-anak kita, maka pelan-pelan kita bukan hanya kehilangan kendali—tapi juga kehilangan makna belajar itu sendiri.
Sebagaimana pesan abadi Ki Hajar Dewantara:
“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat pada anak-anak kita, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
Dan tugas kita hari ini—di kota, di desa, di ruang kelas fisik maupun digital—adalah memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi ruang yang membebaskan, bukan menjebak. Membangun sistem yang kuat, tanpa kehilangan ruh insani yang menjadi jantungnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






