POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar di Era Algoritma: Mencari Keadilan di Tengah Ketimpangan Digital

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
July 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Belajar yang Tak Lagi Membebaskan

Di era digital ini, belajar seolah makin mudah. Aplikasi pendidikan membanjiri gawai siswa dari kota hingga desa—mulai dari Ruangguru, Zenius, sampai YouTube Edukasi. Sekilas tampak mempermudah. Tapi siapa sangka, di balik semua kemudahan itu, ada kekuatan tak kasatmata yang diam-diam mengatur arah pembelajaran: algoritma.

Jika dulu belajar adalah proses menjelajah dan bertanya, kini ia makin menyerupai scrolling. Siswa hanya disuguhi topik-topik yang “cocok” dengan minat mereka—bukan karena relevansi, melainkan karena sering diklik. Penelitian Kemdikbudristek (2023) mencatat 68% siswa terjebak dalam “filter bubble pengetahuan”, hanya mengakses bidang tertentu dan kehilangan paparan lintas ilmu.

Teknologi personalisasi yang seharusnya memperluas cakrawala justru bisa mempersempitnya. Anak-anak yang semestinya belajar berpikir luas malah dikurung dalam minat yang itu-itu saja, sesuai logika mesin.

Gamifikasi: Antara Semangat dan Ketergantungan

Banyak platform belajar kini mengadopsi konsep gamification—dengan poin, lencana, dan papan peringkat layaknya permainan. Ini berhasil memompa semangat siswa, meski hanya dalam jangka pendek. Namun, studi Universitas Indonesia (2024) menemukan bahwa 72% siswa belajar bukan karena ingin tahu, tapi karena ingin mendapat reward digital.

Belajar jadi seperti permainan adiktif: bukan untuk paham, tapi untuk menang. Jika dibiarkan, pendekatan ini bisa melemahkan motivasi sejati dan mengubah pendidikan menjadi perlombaan angka semata.

Forum Diskusi Digital yang Tergerus Makna

Pergeseran ketiga menyentuh aspek paling penting dalam pembelajaran: ruang diskusi. Seiring banyaknya kelas online dan penggunaan Learning Management System (LMS), forum diskusi menjadi sarana utama bertukar pikiran.

Namun di balik kemudahan itu, algoritma diam-diam bekerja menentukan urutan komentar yang tampil teratas. Tak jarang, komentar yang viral atau banyak disukai justru mengalahkan argumen yang lebih substansial. Dosen Universitas Gadjah Mada pernah menyampaikan kegelisahannya: “Diskusi kritis tergeser oleh komentar yang ‘algoritma-friendly’.”

Akibatnya, budaya debat sehat dan berpikir mendalam mulai terpinggirkan. Forum diskusi menjadi ajang adu populer, bukan adu pikiran. Hal ini mengancam esensi pendidikan itu sendiri—yang seharusnya melatih nalar, membuka perspektif, dan memperkuat empati antarindividu.

Frekuensi Manusia yang Mulai Tergerus

Belajar yang bermakna menyentuh tiga sisi manusia: nalar kritis, empati sosial, dan intuisi kreatif. Namun kini, ketiganya mulai tergeser oleh mesin. Jawaban instan dari AI seperti ChatGPT bisa mematikan keingintahuan alami. Ruang dialog yang dulunya hangat kini jadi dingin dan singkat. Ide-ide orisinal pun dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari seberapa besar potensi viralnya.

📚 Artikel Terkait

Membangun Generasi Tangguh Indonesia: Potret Realitas, Tantangan, dan Gerakan Pemuda

Pemuda. Sejarah dan Buku

SMPN 1 Pantee Bidari Raih Juara Satu Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi

Raker Forhati Aceh Diwarnai Tausiah Maulid Nabi Muhammad SAW

Contoh paling nyata terlihat dalam sistem penilaian AI. Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta (2023) menunjukkan bahwa esai dengan metafora budaya lokal sering dianggap “tidak akademis” oleh mesin. Ini bukti bahwa teknologi belum tentu mampu menangkap nuansa insani dalam karya anak-anak.

Ilusi Kesuksesan dan Beban Psikologis

Konsep law of attraction ala edutech juga menjalar dalam pendidikan. Banyak aplikasi menjanjikan sukses instan: “mahir dalam 7 hari” atau “lolos PTN tanpa belajar keras”. Realitasnya? Banyak siswa merasa gagal hanya karena algoritma menyodorkan materi di luar jangkauan mereka.

Survei Ikatan Psikolog Pendidikan (2024) mencatat 65% siswa merasa minder karena selalu dibandingkan dengan standar buatan mesin. Seperti disindir oleh Prof. Arief Rahman, “yang ditarik bukan lagi pengetahuan, tapi engagement.” Pendidikan menjadi komoditas klik.

Ketimpangan Digital: Antara Kota dan Desa

Keadilan belajar makin terancam ketika sistem pendidikan—termasuk zonasi PPDB—bergantung pada algoritma. Di Jakarta, sistem zonasi digital 2024 justru menyingkirkan banyak siswa dari keluarga marginal ke sekolah pinggiran, bukan karena nilai mereka rendah, tapi karena infrastruktur digital di rumah mereka lemah.

Di desa-desa, kondisi lebih memprihatinkan. Banyak siswa masih belajar dengan sinyal lemah, gawai terbatas, bahkan tanpa listrik stabil. Algoritma tak membaca kenyataan ini. Ia hanya memproses data. Maka, anak desa yang tak punya jejak digital dinilai “tidak layak”, sementara anak kota dengan klik dan koneksi lancar mendapat jalan mulus.

Keadilan tak bisa dicapai jika sistemnya buta konteks. Anak kota dan desa tak bisa disamakan dalam satu rumus algoritmik. Keadilan sejati melihat kebutuhan, bukan hanyaangka.

Solusi Human-Centered: Menempatkan Manusia Kembali di Pusat

Tantangan besar hari ini adalah mengembalikan arah pendidikan ke tangan manusia. Guru harus diperkuat sebagai pendamping teknologi—bukan digantikan. Di kota, mereka berperan menyaring banjir konten digital. Di desa, mereka menjadi penghubung antara anak dan dunia digital yang terbatas.

Literasi digital juga harus diperluas. Di perkotaan, siswa perlu diajak berpikir kritis terhadap rekomendasi algoritma. Di desa, pendidikan digital bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mengenali informasi palsu, memahami penggunaan data pribadi, hingga belajar dengan media alternatif.

Negara pun tak boleh tinggal diam. Dibutuhkan regulasi yang mewajibkan platform pendidikan digital membuka cara kerja algoritmanya secara transparan. Lebih jauh, perlu dibentuk lembaga pengawas algoritma pendidikan—agar tidak ada anak yang dirugikan hanya karena sistem yang tak peka.

Penutup: Menjaga Ruh Belajar dalam Arus Digital

Di tengah gegap gempita teknologi, kita perlu kembali bertanya: untuk siapa sesungguhnya pendidikan dirancang? Jika jawaban kita tetap “untuk manusia”, maka pembelajaran tak boleh sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma yang dingin dan tak mengenal konteks. Sebab belajar bukanlah proses mengisi data, melainkan proses menjadi—menjadi manusia yang berpikir, merasa, dan peduli.

Kini, tantangan utama dunia pendidikan bukan sekadar membangun infrastruktur digital, tetapi menjaga agar teknologi tak mencabut nilai-nilai kemanusiaan dari proses belajar. Kita harus berani membongkar logika sistem yang lebih memihak klik daripada makna, yang lebih mementingkan engagement daripada pemahaman. Baik di kota dengan jaringan super cepat maupun di desa yang sinyalnya timbul tenggelam, anak-anak tetap punya hak yang sama untuk tumbuh lewat pendidikan yang adil, kontekstual, dan manusiawi.

Pendidikan berbasis algoritma boleh saja terus berkembang, tapi arah dan nilai-nilainya tetap harus ditentukan oleh manusia. Bukan sebaliknya. Karena jika kita membiarkan sistem yang kaku menentukan masa depan anak-anak kita, maka pelan-pelan kita bukan hanya kehilangan kendali—tapi juga kehilangan makna belajar itu sendiri.

Sebagaimana pesan abadi Ki Hajar Dewantara:

“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat pada anak-anak kita, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Dan tugas kita hari ini—di kota, di desa, di ruang kelas fisik maupun digital—adalah memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi ruang yang membebaskan, bukan menjebak. Membangun sistem yang kuat, tanpa kehilangan ruh insani yang menjadi jantungnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Buktinya Adalah Sepiku

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00