Kamis, April 23, 2026

Senerai Puisi S. Sigit Prasojo

Senerai Puisi S. Sigit Prasojo - 2025 06 22 08 42 36 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Senerai Puisi S. Sigit Prasojo

Kau Panggil Aku

Tuhan,

aku tak sedang marah—

hanya ingin tahu:

masihkah Kau mengingat

nama yang dulu Kau bisikkan

dalam hening?

Aku tak lagi pandai berdoa,

tanganku kaku menengadah,

sementara hatiku

tak tahu kiblat

selain gelap.

Tapi malam ini aku memanggil,

bukan lewat lidah

melainkan melalui retakan

yang tumbuh di sela napas.

Jika Kau mendengarku,

jangan jawab.

Biarkan diam-Mu saja

jadi pengakuan

yang paling sunyi.

Ponorogo, Juni 2025

Kitab Tanpa Huruf

Tak semua ayat datang dari langit.
Ada yang lahir dari luka
dan ditulis
dengan tinta paling dalam:
air mata.

Di dinding kamarku
terpaku satu kitab
tanpa huruf,
tanpa tafsir,
tapi tiap lembarnya
bisa membuat jiwaku rebah.

Mungkin itu bukan wahyu,
tapi aku percaya
Tuhan pun kadang membaca
tulisan paling sunyi
dari makhluk yang tak sanggup
menulis ulang hidupnya.

Ponorogo, Juni 2025

Doa yang Mengendap

Pernah kutulis doa

di selembar kertas

dan kusimpan

dalam kotak kayu

di bawah kasur.

Tiap malam,

aku mengendapkannya

bersama napas yang separuh.

Tapi esoknya, doa itu berubah—

bukan jadi jawaban,

melainkan debu.

Dan aku belajar:

tak semua doa

diciptakan untuk dikabulkan.

Sebagian hanya cara

agar kita

tak sepenuhnya terlupakan.

Ponorogo, Juni 2025

Jeda antara Doa dan Duka

Keningku pernah menyentuh sajadah

dengan harap

yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun.

Namun bumi tetap dingin,

dan langit terlalu jauh

untuk memeluk.

Aku ingin percaya,

tapi iman

kadang seperti kabut:

terasa basah,

namun tak tergenggam.

Di antara sujud dan doa,

ada jeda

ketika aku bukan hamba—

hanya tubuh

yang tak tahu

untuk apa hidup dilanjutkan.

Ponorogo, Juni 2025

Tuhan Juga Kesepian

Aku membayangkan—

di singgasana cahaya,

Tuhan duduk sendiri,

menatap bumi

dengan tangan-Nya yang rindu

pada suara-suara

penuh harap.

Barangkali Tuhan pun kesepian,

bukan karena ditinggal,

tapi karena terlalu sering dipanggil

tanpa dipahami.

Malam ini,

saat aku tak sanggup bicara,

aku hanya ingin

menjadi sepi yang jujur—

yang bisa menemani Tuhan

tanpa meminta apa-apa.

Ponorogo, Juni 2025

Karya: S. Sigit Prasojo 

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist