POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merayakan Hari Anak Nasional di Era Kecerdasan Artifisial

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
July 23, 2025
Merayakan Hari Anak Nasional di Era Kecerdasan Artifisial
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora

Hari Anak Nasional (HAN) setiap 23 Juli adalah momen reflektif bagi bangsa untuk meneguhkan komitmen terhadap pemenuhan hak-hak anak.
Di era Kecerdasan Artifisial (AI), peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk menata masa depan generasi muda dengan pendekatan baru yang adaptif, cerdas, dan berkarakter.

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh dalam lanskap digital yang penuh tantangan sekaligus peluang.
Kehadiran AI telah mengubah cara anak belajar, bermain, bahkan berinteraksi, menjadikan teknologi sebagai bagian dari dunia batin dan keseharian mereka.

Namun, euforia akan kemajuan teknologi harus dibarengi dengan refleksi kritis.
Apakah AI benar-benar menghadirkan ruang tumbuh yang sehat bagi anak, atau justru menjadi medan baru eksploitasi, isolasi, dan kecanduan digital?

Merayakan HAN di era AI berarti menumbuhkan kesadaran bahwa perlindungan anak kini tak hanya soal makanan, pendidikan, atau kesehatan.
Tetapi juga soal literasi digital, keamanan data pribadi, dan pembentukan karakter di ruang maya yang tak berbatas.

Pendidikan karakter menjadi kata kunci.
AI dapat mempercepat pembelajaran, tetapi tidak bisa menggantikan empati, moralitas, dan nilai kemanusiaan yang harus ditanamkan sejak dini oleh keluarga dan sekolah.

Teknologi bukan musuh anak-anak, melainkan alat.
Maka, menjadi tugas orang dewasa untuk memastikan bahwa anak-anak menggunakan AI untuk berkembang, bukan untuk dikendalikan atau teralienasi dari realitas sosialnya.

📚 Artikel Terkait

Jeju Ala Pohon Ceubrek dan Nimby Syndrom

Rantai Doa

Bencana Aceh; Tambang Ilegal dan Hutan Berubah Sawit

80 Tahun Kemerdekaan : Flashback Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan

Di sisi lain, anak-anak juga harus dilatih menjadi kreator, bukan sekadar pengguna pasif.
AI harus dimaknai sebagai ruang berekspresi dan berkarya, seperti menciptakan konten edukatif, animasi, atau aplikasi sederhana sesuai usia dan bakat.

Karenanya, momentum HAN menjadi sangat strategis untuk menggelorakan kembali semangat tumbuh bersama teknologi.
Kegiatan seperti lomba menulis, coding untuk anak, atau diskusi tentang keamanan digital adalah contoh perayaan yang edukatif sekaligus inspiratif.

Pemerintah, sekolah, dan komunitas perlu bersinergi untuk menghadirkan ekosistem digital yang ramah anak.
Bukan hanya dengan regulasi, tetapi juga dengan pendampingan aktif dan ruang dialog yang sehat antara generasi muda dan dewasa.

Tak kalah penting adalah pemberdayaan anak di wilayah tertinggal dan marjinal agar tidak tertinggal dalam arus AI.
Keadilan digital adalah bagian dari hak anak yang tak boleh diabaikan dalam narasi transformasi teknologi nasional.

Refleksi HAN di era AI juga menantang kita untuk melihat anak bukan sebagai objek perlindungan semata.
Mereka adalah subjek yang mampu berperan dalam perumusan masa depan, bahkan ikut menyuarakan pandangan tentang dunia yang mereka warisi.

Kita butuh ruang-ruang mendengarkan, bukan hanya ruang mengajarkan.
Kita perlu lebih banyak bertanya: “Apa yang anak-anak pikirkan tentang AI, tentang masa depan, tentang dunia mereka sendiri?”

AI bisa menyimpan informasi, tetapi anak-anaklah yang menyimpan harapan dan arah peradaban.
Dengan bimbingan yang tepat, mereka bisa menjadikan AI sebagai alat pembebasan, bukan jerat kebebasan.

Merayakan HAN hari ini berarti menyiapkan anak-anak untuk menjadi manusia digital yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral.
Mereka bukan hanya penerus zaman, tetapi penentu arah zaman.

Di tengah laju algoritma dan transformasi teknologi, mari kita ajak anak-anak menulis masa depan dengan hati, bukan hanya dengan kode.
Karena masa depan Indonesia—dan kemanusiaan—bertumpu pada bagaimana hari ini kita memperlakukan anak-anak kita. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Ketemu Orang-Orang yang Istimewa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00