POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta

Luhur SusiloOleh Luhur Susilo
July 16, 2025
Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Luhur Susilo

Alumnus IKIP Negeri Yogyakarta 1995

Aku tiba di Yogyakarta dengan semangat yang mengepul, bersamaan dengan tanggal 2 Mei 1988—hari pendidikan nasional. Tak sekadar simbolik, itulah hari her registrasi yang menandai langkah pertamaku sebagai mahasiswa baru IKIP Negeri Yogyakarta, jalur PMDK.

Dari Blora, aku dan dua kawan berangkat awal Agustus 1988, hanya dengan sepeda onta dan harapan panjang. Kami tak membawa banyak, tapi kami percaya cukup: uang SPP, sedikit uang saku, dan keyakinan bahwa ilmu bisa menuntun masa depan.

Dua tahun pertama berjalan luwes. Kuliah lancar, semangat menyala. Kami kos di sekitar Ponpes Wahid Hasyim, Gaten, Condong Catur. Tapi perlahan, dua kawanku memilih jalan lain, pindah ke tempat yang lebih mereka rasa cocok.

Aku tetap bertahan. Rumah kontrakan sekretariat Pergerakan dan UKM Gelanggang Mahasiswa jadi pelabuhan baru. Di sanalah kami saling belajar: tentang idealisme, pengabdian, dan bertahan. Di sana pula kami memplesetkan pasal 34 UUD 1945—fakir miskin, anak telantar, dan mahasiswa kere dipelihara oleh negara—menjadi azimat humor yang menyambung hidup.

Namun negara, ternyata, tak punya cukup tangan untuk menjangkau lapar yang datang diam-diam. November di tahun ketiga, aku memilih tak pulang. Menanti wesel pos dari kampung yang molor hingga dua pekan lebih.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Puisi-Puisi Ramadan Moh. Ghufron Cholid

Kebakaran di Israel: Antara Fenomena Ekologi dan Makna Spiritualitas dalam Tradisi Abrahamik

Ini Eranya Generasi Begadang Yang Bakal Menuai Badai

Hari-hari kampus sepi. Kegiatan usai. Undangan rekan-rekan tak lagi berdatangan. Aku mulai menepi, menjauh dari keramaian, tak karena tak suka, tapi karena malu mengaku lapar.

Aku biarkan perut diisi air putih berulang-ulang. Tapi air hanya mengulur waktu. Di seberang Masjid Mujahidin, beberapa pohon pepaya di area makam menjulang dengan buah ranum yang tak pernah dipetik.

“Mbàh, nyuwun gandhul,” bisikku lirih, sambil memetik satu. Aku izin sendiri, lalu menjawab sendiri. Dan lapar itu, perlahan, tergantikan rasa manis yang datang dari buah yang matang oleh waktu dan diam.

Pepaya itu tak hanya mengisi perut, tapi mengisi jiwa yang hampir menyerah. Aku bagi ke tetangga sekretariat. Tak kuceritakan asalnya, biarlah manisnya bicara sendiri.

Hari-hari berikutnya, pisang di belakang Gelanggang pun ikut menolong. Bergantian dengan jambu air di halaman rumah kontrakan. Alam seolah tahu: tak semua lapar butuh nasi, kadang cukup buah dan niat bertahan.

Saat jambu air jatuh dan berserakan, aku punguti dan makan, sambil menyapu halaman. Sendiri, sepi. Para sahabat telah mudik. Tapi aku tahu: Tuhan sedang menempaku lewat sepi dan lapar.

Aku mulai menghindari percakapan sosialita. Terbesit ide: menjual jasa ketik kartu mahasiswa dan transkrip. Hari kelima belas, akhirnya aku makan nasi. Rasanya seperti kemenangan kecil di tengah medan perjuangan.

Sejak hari itu, aku berani menjual jasa ketik, lalu mengantar koran dari satu terminal ke lainnya. Yogyakarta memberiku ilmu kampus, tapi lebih dari itu—ia memberiku pelajaran hidup dari pepaya, pisang, dan jambu air.

Rumah Tua, 15 Juli 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Luhur Susilo

Luhur Susilo

Luhur Susilo Luhur Susilo adalah seorang penulis kelahiran Blora tahun 1970. Ia merupakan alumnus IKIP N Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mulai menulis sejak kuliah profesi. Antologi puisi Sajak dari Belantara (2020), Blandhong (2021), dan beberapa karya mulai terbit di media online. Luhur mulai aktif di komunitas penulisan, termasuk Satupena. Ia juga menulis di bidang sastra, sosiohistoris, dan humaniora.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Salem’s City Seal Controversy: Between Historical Legacy and Modern Sensitivities

Aceh dan Salem: Jejak Sejarah Dagang yang Terancam Terhapus

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00