POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pohon “Jeju”, Hutan yang Tak Estetik, dan Kemarahan yang Tebang Pilih

Sazali S.PdOleh Sazali S.Pd
July 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sazali

Beberapa hari ini, Banda Aceh gaduh. Bukan karena banjir, bukan juga karena harga barang yang lagi naik, tapi karena sebatang pohon ditebang. Iya, pohon. Hanya sebatang pohon. Bukan hutan. Tapi yang bikin ramai, ini bukan pohon sembarangan. Ini adalah pohon “Jeju” julukan “sayang” warga kota karena bentuk dan lokasinya yang estetik mirip-mirip dengan pohon di drama Korea. Yang juga kebetulan lokasinya di pinggir pantai sehingga kerap menjadi latar foto dan video untuk postingan media sosial

Namun, entah oleh siapa, pohon itu tiba-tiba ditebang, kemudian narasi kehilangan, kemarahan, dan desakan untuk mengusut pelaku mulai bermunculan. Bahkan anggota dewan pun turut mengeluarkan pernyataan keras dan meminta untuk mengusut siapa pelakunya.

Sekilas, ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan semakin tinggi. Tapi benarkah demikian?

Saya justru melihat gejala lain. Kemarahan kita sepertinya bukan semata-mata lahir dari kepedulian terhadap alam secara utuh, melainkan dari kehilangan sesuatu yang terlihat dan terpotret. Satu pohon yang estetik ditebang, kita ramai, heboh bukan kepalang. Tapi saat ratusan bahkan ribuan hektar hutan kita di Aceh yang terus-menerus dibabat setiap tahun: kita malah diam tak peduli. Tak ada video menangis di lokasi, tak ada tangisan netizen, dan sangat jarang kita melihat anggota dewan bersuara keras soal itu.

📚 Artikel Terkait

Sajak-Sajak Tasya Febrianda

Puisi-Puisi Bencana Alkhair Aljohore

KETUKAN RAMADAN

Begitu Berharganya Guru

Mengapa? Apakah karena hutan tak memiliki nilai visual yang cukup untuk viral? Atau karena ia jauh dari radar selfie Gen Z, dan terlalu sunyi untuk memancing empati kita semua? Atau jangan-jangan, perhatian kita terhadap lingkungan selama ini hanya bersifat estetis belaka. Artinya selama bisa jadi konten, baru kita jaga dan perjuangkan.

Tentu, saya tidak sedang membela tindakan penebangan pohon “Jeju” itu. Itu tindakan sembrono dan harus ditindak.* Namun yang patut disorot adalah bagaimana respon terhadap satu pohon lebih nyaring dibanding kerusakan yang jauh lebih sistemik dan masif di tempat lain. Di Aceh, sudah menjadi rahasia umum, laju deforestasi terus terjadi. Hutan Leuser yang merupakan habitat terakhir spesies langka seperti orangutan, harimau, dan gajah Sumatera, terus tergerus atas nama pembangunan dan investasi. Tapi kemarahan publik, jika pun muncul, tidak sebesar atau secepat ketika satu pohon viral ditebang.

Ini menunjukkan bahwa kita semua, baik masyarakat umum, influencer, maupun para pejabat sepertinya sering kali terjebak dalam aktivisme simbolik. Kita bergerak ketika ada momen visual yang menyentuh, bukan karena prinsip atau kesadaran ekologis yang konsisten. Dan yang lebih parahnya lagi, perasaan Gen Z yang kehilangan spot foto bisa mendapat perhatian lebih besar ketimbang satwa yang kehilangan habitat hidup.

Saya ingin mengajak kita semua untuk berkaca. Jika kita bisa marah besar karena satu pohon estetik ditebang, mengapa kita malah diam saat hutan yang menjadi sumber kehidupan kita dibabat habis?

Sudah saatnya kita mengakhiri ‘Double Standard’ dalam upaya kita mencintai alam. Jangan hanya merawat yang bisa difoto atau yang instagramable, tapi kita lupakan yang menopang kehidupan kita sehari-hari. Jangan hanya menangisi sebatang pohon viral, tapi kita biarkan ratusan hektar hutan hilang diam-diam.

Jangan hanya lantang ketika satu pohon viral ditebang, tapi bungkam saat ratusan pohon tumbang di hutan. Karena jika perhatian kita hanya muncul saat kamera menyorot, maka kita bukan sedang membela lingkungan tapi hanya sedang mencari panggung.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Sazali S.Pd

Sazali S.Pd

Kepala Sekolah yang cinta anak dan istri

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Keringat Air Mata

Keringat Air Mata

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00