Dengarkan Artikel
Perjalanan Seorang Guru dari Meureudu ke Pedalaman Pidie Jaya
Oleh RAHAYULISNA, S. Pd
Guru SD Negeri 11 Bandar Baru , Pidie Jaya
Waktu masih gelap, udara dingin masih menusuk kulit. Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpinya, saya sudah menyiapkan ransel dan menyalakan sepeda motor. Setiap pagi, saya berangkat dari kampung halaman saya di Meureudu, menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer menuju SD Negeri 11 Bandar Baru yang terletak di Desa Blang krueng, salah satu daerah pegunungan di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.
Jalan yang saya tempuh bukan jalan biasa. Hutan lebat, tanjakan bukit, jalan sepi yang nyaris tak dilewati kendaraan, menjadi pemandangan sehari-hari. Namun suara burung dan desir angin pagi menjadi teman perjalanan saya menuju sekolah. Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah sebuah misi, panggilan jiwa untuk menjadi bagian dari perubahan di tempat yang jarang disorot.
Tahun 2022 menjadi titik awal pengabdian saya secara resmi sebagai guru P3K. Saya ditugaskan menjadi wali kelas 5 di SD Negeri 11 Bandar Baru. Di tengah segala keterbatasan, saya tidak hanya mengajar, tapi juga mencoba menjadi jembatan perubahan. Jumlah siswa disini hanya 50 orang dari kelas 1 sampai kelas 6 .
Saya mulai mengenalkan teknologi kepada para siswa—Chromebook, PowerPoint, dan berbagai media pembelajaran lainnya. Saya ingin mereka menyadari, meskipun tinggal di pedalaman, mereka tetap berhak mengenal dunia yang luas.
📚 Artikel Terkait
Di akhir tahun 2022, sebuah kepercayaan besar datang. Saya ditunjuk mewakili SD Negeri 11 Bandar Baru untuk mengikuti BIMTEK TIK di Medan. Dari sekian banyak sekolah di Kabupaten Pidie Jaya, hanya lima sekolah yang terpilih. Dan sekolah kami menjadi salah satunya.
Tahun berikutnya, di 2023, saya dipercaya mewakili seluruh jenjang SD dari Kabupaten Pidei Jaya untuk mengikuti Training of Trainers (TOT) TIK di Banda Aceh. Hanya dua guru dari Pidie Jaya yang dikirim—satu dari SD, yaitu saya, dan satu lagi dari SMP.
Kepercayaan ini sangat berarti bagi saya. Tidak hanya menjadi pengakuan atas apa yang telah saya upayakan, tetapi juga menjadi dorongan untuk lebih aktif mengenalkan teknologi kepada siswa di kelas.
Kemudian di tahun 2024, saya mengambil langkah lebih jauh dengan mengikuti program Guru Penggerak di Kabupaten Pidie Jaya. Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos dan resmi mengikuti pelatihan. Ini adalah perjalanan pembelajaran yang luar biasa. Saya belajar bagaimana menjadi pemimpin pembelajaran di sekolah, memperkuat karakter sebagai pendidik, serta menumbuhkan nilai kolaborasi, empati, dan inovasi dalam pendidikan. Walaupun pada akhirnya dengan pergantian menteri program guru penggerak dihapus, namun ilmu yang didapatkan selama lebih kurang 6 bulan sangat bermanfaat untuk diri saya dan juga murid-murid saya
Semua perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Setiap hari saya masih harus menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan sunyi, mendaki bukit, dan melintasi hutan. Namun, saya selalu percaya: tidak ada kata terlambat untuk memulai dari nol.
Di pedalaman sekalipun, guru tetap bisa menjadi pembawa cahaya. Setiap hari adalah perjuangan, tetapi juga peluang untuk menghadirkan harapan baru bagi anak-anak yang bermimpi. Ayo ” Tergerak, bergerak dan Menggerakkan “
RAHAYULISNA, S. Pd
Guru SD NEGERI 11 BANDAR BARU
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






