Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Aceh dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak pahlawan yang gagah berani, mulai dari Teuku Umar hingga Cut Nyak Dhien. Namun, di antara deretan nama besar itu, ada satu nama terlupakan yaitu Teuku Cut Ali, sosok pejuang yang berjuang melawan penjajah Belanda di daerah Aceh selatan dengan semangat jihad dan keberanian luar biasa, namun sungguh disayangkan hingga hari ini belum pernah diakui secara resmi sebagai pahlawan nasional oleh negara.
Teuku Cut Ali bukan nama asing bagi masyarakat Aceh Selatan, khususnya wilayah Kluet Selatan dan sekitarnya. Ia adalah pejuang sejati, seorang pemimpin perang yang mengangkat senjata demi mempertahankan tanah, agama, dan martabat bangsanya. Perjuangannya berlangsung di tengah kondisi sosial yang sulit, saat rakyat Aceh dipaksa tunduk kepada kekuatan kolonial belanda yang ingin merampas tanah adat dan menghancurkan tatanan keislaman yang mereka pegang teguh.
Kenapa Tidak Diakui?
Pertanyaannya: mengapa nama Teuku Cut Ali belum masuk dalam daftar resmi pahlawan nasional? Padahal, dari sisi pengorbanan, peran strategis, dan keteladanan, ia sejajar — bahkan dalam beberapa aspek, melampaui — tokoh-tokoh yang sudah lebih dulu diberi gelar itu. Apakah karena dokumentasi sejarah tentangnya minim? Ataukah karena pemerintah pusat masih terlalu Jawa-sentris dalam menilai tokoh-tokoh perjuangan dari daerah khususnya aceh yang begitu banyak sosok pahlawan yang belum di akui oleh nasional?
📚 Artikel Terkait
Bisa jadi juga karena lemahnya usaha dari pemerintah daerah dan sejarawan lokal dalam mendorong pengusulan Teuku Cut Ali ke tingkat nasional. Banyak pejuang dari daerah lain bisa ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena adanya riset akademik yang kuat, dukungan politik daerah, serta konsistensi advokasi dari generasi penerus. Tanpa itu semua, nama-nama seperti Teuku Cut Ali akan terus terbenam dalam buku sejarah lokal yang terbatas jangkauannya.
Keadilan Sejarah Harus Diperjuangkan
Mengakui Teuku Cut Ali sebagai pahlawan nasional bukan hanya soal simbol atau nama. Ini adalah soal keadilan sejarah. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai seluruh pejuangnya, bukan hanya yang populer atau berasal dari pusat kekuasaan. Jika kita ingin sejarah bangsa ini utuh dan adil, maka tokoh seperti Teuku Cut Ali harus mendapat tempat yang layak di hati bangsa Indonesia.
Sebuah usulan Langkah konkret yang bisa diambil adalah dengan mendorong riset sejarah yang lebih mendalam tentang Teuku Cut Ali, mengumpulkan bukti perjuangannya dari manuskrip, serta tradisi lisan masyarakat. Pemerintah Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh juga harus lebih aktif dalam proses pengusulan ke Kementerian Sosial. Generasi muda, akademisi, dan aktivis lokal harus ikut menyuarakan desakan ini, bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu, tapi juga sebagai bentuk pendidikan politik untuk masa depan.
Penutup: Jangan Biarkan Teuku Cut Ali Tetap Dilupakan dan Hilang ditelan Masa.
Teuku Cut Ali sudah berjuang, bahkan ia juga mengorbankan nyawanya, tanpa meminta imbalan apa pun. Tapi bangsa yang bermartabat harus tahu cara membalas jasa para pejuangnya. Jangan biarkan Teuku Cut Ali hanya jadi nama jalan, monumen makam atau mungkin pelajaran lokal semata. Ia layak diakui secara nasional — sebagai pahlawan yang sah, bukan hanya di hati rakyat Aceh umum, khususnya Aceh Selatan, tetapi juga dalam sejarah resmi Republik Indonesia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






