• Latest

Aceh Pasti Merdeka

Juni 30, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Pasti Merdeka

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Juni 30, 2025
Reading Time: 4 mins read
617
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Korespondensi saya dan Nietzsche seingat saya di semester tiga kuliah, tentu imajiner. Saat itu Socrates, Plato, Aristoteles baru ‘ngekos’ di pikiran saya. Sementara itu,  Al-Ghazali masih kepala ‘asrama’.

Sebagai newcomer, saya sudah ingatkan pada Nietzche agar tak banyak tingkah. Namun bukan Nietzsche namanya apabila nurut. Singkat cerita dia dianggap nakal. Bagi Socrates tentu bukan masalah, namun bagi Plato dan Alghazali dianggap lain. “Ini orang benar-benar tidak menghargai keyakinan orang”, begitu kira-kira respon keduanya.

Namun bagi mereka berdua itu bukan masalah besar. Mereka hanya khawatir Nietzsche bakal digebuki fanatisme buta. Maklum saja, meski ringan, namun berpikir dengan benar bukanlah perkara mudah. Apalagi terkait teologi, pasti akan ada ‘hukuman’ sosiologis bagi mereka yang berpikir di luar kebiasaan.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026

Seperti Nietzsche yang berpikir bahkan diucapkan di luar kebiasaan penganut buta kristiani. Ia dianggap melanggar rambu agama mayoritas di lingkungannya. Tapi bukan Nietzsche namanya jika mundur dan menjilat ludah sendiri. Semangat para pemikir seharusnya begitu, meski dianggap melawan kebiasaan namun di waktu yang lain dianggap “iya juga ya”.

Dan ketika bicara soal Nietzsche, negara penganut agama sejak lahir pasti akan langsung menganggap Nietzsche cacat moral dan logika, maklum, ia memasuki ranah teologis. Meski tak banyak dari pembencinya menelisik kapan dan bagaimana ia mengatakan sesuatu.

Terlepas dari sisi kontroversialnya, seperti halnya taik, pikiran Nietzche banyak yang bermanfaat dan terbukti secara empiris-historis. Soal Nietzsche, saya sudahi. Kita fokus pada salah satu pemikirannya, yang saya analogikan seperti taik. Meski secara bahasa tulisan tak baku, namun secara sosiologis, taik lebih populer dan enak diucapkan ketimbang tahi.

Nah, lembu itu taiknya dapat digunakan sebagai penyubur tanah dan bermanfaat bagi tumbuhan. Pikiran Nietzche pun demikian, ibarat taik namun bermanfaat bagi tanaman. Misalnya soal Übermensch, manusia unggul.

Banyak di antara kita ternyata sangat mengidamkan ‘jabatan’ itu. Minimal merasa ras dan sukunya terbaik, seolah Tuhan dipengaruhi ‘orang dalam’ ketika akan menciptakan suku dan ras tertentu. Setidaknya doktrin itu yang dipahami Adolf Hitler.

Menganggap ras unggul, Hitler berpendapat bahwa wajib baginya mengatur tatanan dunia. Perang demi perang dilalui, dan ending-nya kita semua tahu. Sikap merasa suku dan rasnya terbaik bukan hanya terjadi masa lalu, bahkan di era ketika manusia sudah memabaca dan memahami sejarah dirinya sendiri, hal itu masih terjadi.

Bagi Nietzsche itu tidak penting, suku dan ras bukan faktor manusia menjadi unggul. Dan kita yang sekarang menganut demokrasi sebenarnya sudah tidak sepakat dengan genesis. Darah raja dan rakyat sama saja, keunggulan seseorang bukan karena seseorang dilahirkan sebagai anak raja maupun miskin papa. Bukan beragama A atau B, bukan pula berkulit A atau C.

Karenanya, jika Aceh ingin merdeka dari negara induk, bukan reputasi masa lalu yang terus digaungkan. Namun bagaimana Aceh hari ini. Masa lalu boleh dianalisis sebagai spirit dan pembelajaran namun jangan dijadikan dalil utama. Dalil utama yang harus diajukan adalah, pantas tidaknya Aceh menjadi wilayah berdikari.

Misalnya seberapa mampu Aceh berkembang bahkan maju tanpa dana otsus. Ya benar, itu hak namun sampai kapan Aceh terus ‘menyusu’. Di sini penting ngobrol dengan Nietzsche soal manusia unggul. Bayangkan bila Aceh memiliki manusia unggul dan outputnya pemimpin unggul, pasti Aceh akan menjadi salah satu wilayah dengan peradaban tinggi.

Dengan demikian, memastikan Aceh menjadi negara merdeka harus dimulai dengan menyiapkan manusia unggul. Kumpulan manusia unggul bukan hanya menjadikan Aceh sebuah negara merdeka namun negara berdaulat. Negara yang dicita-citakan banyak warga Aceh, bahkan seluruh manusia pada dasarnya ingin itu.

Lalu pertanyaan lucunya, sudahkah Aceh menyiapkan manusia unggul?. Sementara elitnya masih senang mencuri hak warganya sendiri. Masih senang mark-up,  dan warganya pun masih senang disuap saat memilih pemimpin. Bukankah merdeka harus dimulai dari pikiran dan jiwa yang merdeka. Karena konsep manusia unggul ala Nietzsche adalah manusia yang mencapai potensi tertinggi.

Bagaimana kemudian agar manusia unggul itu hadir di Aceh. Bagi kita yang bukan pejabat, jadilah pribadi berakhlak karimah dan ulul albab. Ini inti pendidikan, kemampuan kognitif dan karakter. Cerdas secara kognitif dan pintar secara karakter. Kronologis selanjutnya tidak akan saya bahas, karena saya percaya Anda sudah tahu.

Bagi pejabat, jadilah pelaksana dan pemutus yang adil. Jadilah fasilitator agar hadir manusia unggul di Aceh. Sinergi pejabat amanah dan rakyat cerdas, cepat atau lambat akan memastikan Aceh menjadi negara berdaulat. Jika tidak, tidak usah onani politik, tidak usah memprovokasi sehingga lahir perang fisik. Karena perang fisik manusia dewasa hanya akan mengaburkan masa depan anak-anak. Sekaligus memaksa perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Dua hal ini sudah terbukti secara empiris-historis. Karenanya, jika Aceh merdeka, merdekakan pikiran dan jiwa.

Jangan lagi jadi budak jabatan, budak uang,  karena manusia unggul adalah raja bagi dirinya sendiri. Ia akan memaksa harta dan tahta menjadi budaknya. Bukan hanya itu, ia mampu berinovasi, kreatif, dan produktif. Menghadirkan masyarakat ini butuh usaha dan doa bersama. Itu artinya semua pihak harus terlibat aktif.

Ini penting dipahami agar makna merdeka bukan hanya secara otoritas pemerintahan.  Namun dimulai dari jiwa dan pikiran merdeka. Will to power yang diinginkan Nietzsche itu ialah manusia unggul yang mampu menguasai diri. Islam pun lama mengajarkan ini, pribadi yang mampu menguasai dirinya sendiri berarti jiwa dan pikirannya merdeka. Jadi, bukan untuk menguasai apalagi menjajah orang lain.

ADVERTISEMENT

Dengan modal syariat Islam dan budaya, Aceh harusnya sudah paham konsep manusia unggul sebelum Nietzche. Mengapa? karena Islam lebih awal mengenalkan konsep insan kamil. Konsep paripurna manusia, dunia-akhirat. Malah konsep ini lebih unggul dari konsep manusia unggul.

Insan kamil punya keunggulan dalam teologis. Ini mencegah manusia merasa paling unggul, jumawa, sekaligus pencegah putus asa ketika keinginan belum sesuai kenyataan. Konsep ini juga menginginkan manusia mencapai potensi tertingginya melalui ilmu. Nantinya, insan kamil yang ada di Aceh akan terakumulasi menjadi masyarakat dengan peradaban tinggi, baik dunia maupun akhirat. Bila tatanan ini terwujud, Aceh pasti merdeka. Mau?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
HABA Si PATok

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com