POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Pasti Merdeka

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
June 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Korespondensi saya dan Nietzsche seingat saya di semester tiga kuliah, tentu imajiner. Saat itu Socrates, Plato, Aristoteles baru ‘ngekos’ di pikiran saya. Sementara itu,  Al-Ghazali masih kepala ‘asrama’.

Sebagai newcomer, saya sudah ingatkan pada Nietzche agar tak banyak tingkah. Namun bukan Nietzsche namanya apabila nurut. Singkat cerita dia dianggap nakal. Bagi Socrates tentu bukan masalah, namun bagi Plato dan Alghazali dianggap lain. “Ini orang benar-benar tidak menghargai keyakinan orang”, begitu kira-kira respon keduanya.

Namun bagi mereka berdua itu bukan masalah besar. Mereka hanya khawatir Nietzsche bakal digebuki fanatisme buta. Maklum saja, meski ringan, namun berpikir dengan benar bukanlah perkara mudah. Apalagi terkait teologi, pasti akan ada ‘hukuman’ sosiologis bagi mereka yang berpikir di luar kebiasaan.

Seperti Nietzsche yang berpikir bahkan diucapkan di luar kebiasaan penganut buta kristiani. Ia dianggap melanggar rambu agama mayoritas di lingkungannya. Tapi bukan Nietzsche namanya jika mundur dan menjilat ludah sendiri. Semangat para pemikir seharusnya begitu, meski dianggap melawan kebiasaan namun di waktu yang lain dianggap “iya juga ya”.

Dan ketika bicara soal Nietzsche, negara penganut agama sejak lahir pasti akan langsung menganggap Nietzsche cacat moral dan logika, maklum, ia memasuki ranah teologis. Meski tak banyak dari pembencinya menelisik kapan dan bagaimana ia mengatakan sesuatu.

Terlepas dari sisi kontroversialnya, seperti halnya taik, pikiran Nietzche banyak yang bermanfaat dan terbukti secara empiris-historis. Soal Nietzsche, saya sudahi. Kita fokus pada salah satu pemikirannya, yang saya analogikan seperti taik. Meski secara bahasa tulisan tak baku, namun secara sosiologis, taik lebih populer dan enak diucapkan ketimbang tahi.

Nah, lembu itu taiknya dapat digunakan sebagai penyubur tanah dan bermanfaat bagi tumbuhan. Pikiran Nietzche pun demikian, ibarat taik namun bermanfaat bagi tanaman. Misalnya soal Übermensch, manusia unggul.

Banyak di antara kita ternyata sangat mengidamkan ‘jabatan’ itu. Minimal merasa ras dan sukunya terbaik, seolah Tuhan dipengaruhi ‘orang dalam’ ketika akan menciptakan suku dan ras tertentu. Setidaknya doktrin itu yang dipahami Adolf Hitler.

Menganggap ras unggul, Hitler berpendapat bahwa wajib baginya mengatur tatanan dunia. Perang demi perang dilalui, dan ending-nya kita semua tahu. Sikap merasa suku dan rasnya terbaik bukan hanya terjadi masa lalu, bahkan di era ketika manusia sudah memabaca dan memahami sejarah dirinya sendiri, hal itu masih terjadi.

📚 Artikel Terkait

“Triple Faults” Kebijakan dan “Gol Bunuh Diri”

Ketika Negara Memberi Jubah Gaib

Panggung, Penjegalan, dan Ketakutan Terhadap Pikiran

Akibat Tidur Setelah Subuh

Bagi Nietzsche itu tidak penting, suku dan ras bukan faktor manusia menjadi unggul. Dan kita yang sekarang menganut demokrasi sebenarnya sudah tidak sepakat dengan genesis. Darah raja dan rakyat sama saja, keunggulan seseorang bukan karena seseorang dilahirkan sebagai anak raja maupun miskin papa. Bukan beragama A atau B, bukan pula berkulit A atau C.

Karenanya, jika Aceh ingin merdeka dari negara induk, bukan reputasi masa lalu yang terus digaungkan. Namun bagaimana Aceh hari ini. Masa lalu boleh dianalisis sebagai spirit dan pembelajaran namun jangan dijadikan dalil utama. Dalil utama yang harus diajukan adalah, pantas tidaknya Aceh menjadi wilayah berdikari.

Misalnya seberapa mampu Aceh berkembang bahkan maju tanpa dana otsus. Ya benar, itu hak namun sampai kapan Aceh terus ‘menyusu’. Di sini penting ngobrol dengan Nietzsche soal manusia unggul. Bayangkan bila Aceh memiliki manusia unggul dan outputnya pemimpin unggul, pasti Aceh akan menjadi salah satu wilayah dengan peradaban tinggi.

Dengan demikian, memastikan Aceh menjadi negara merdeka harus dimulai dengan menyiapkan manusia unggul. Kumpulan manusia unggul bukan hanya menjadikan Aceh sebuah negara merdeka namun negara berdaulat. Negara yang dicita-citakan banyak warga Aceh, bahkan seluruh manusia pada dasarnya ingin itu.

Lalu pertanyaan lucunya, sudahkah Aceh menyiapkan manusia unggul?. Sementara elitnya masih senang mencuri hak warganya sendiri. Masih senang mark-up,  dan warganya pun masih senang disuap saat memilih pemimpin. Bukankah merdeka harus dimulai dari pikiran dan jiwa yang merdeka. Karena konsep manusia unggul ala Nietzsche adalah manusia yang mencapai potensi tertinggi.

Bagaimana kemudian agar manusia unggul itu hadir di Aceh. Bagi kita yang bukan pejabat, jadilah pribadi berakhlak karimah dan ulul albab. Ini inti pendidikan, kemampuan kognitif dan karakter. Cerdas secara kognitif dan pintar secara karakter. Kronologis selanjutnya tidak akan saya bahas, karena saya percaya Anda sudah tahu.

Bagi pejabat, jadilah pelaksana dan pemutus yang adil. Jadilah fasilitator agar hadir manusia unggul di Aceh. Sinergi pejabat amanah dan rakyat cerdas, cepat atau lambat akan memastikan Aceh menjadi negara berdaulat. Jika tidak, tidak usah onani politik, tidak usah memprovokasi sehingga lahir perang fisik. Karena perang fisik manusia dewasa hanya akan mengaburkan masa depan anak-anak. Sekaligus memaksa perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Dua hal ini sudah terbukti secara empiris-historis. Karenanya, jika Aceh merdeka, merdekakan pikiran dan jiwa.

Jangan lagi jadi budak jabatan, budak uang,  karena manusia unggul adalah raja bagi dirinya sendiri. Ia akan memaksa harta dan tahta menjadi budaknya. Bukan hanya itu, ia mampu berinovasi, kreatif, dan produktif. Menghadirkan masyarakat ini butuh usaha dan doa bersama. Itu artinya semua pihak harus terlibat aktif.

Ini penting dipahami agar makna merdeka bukan hanya secara otoritas pemerintahan.  Namun dimulai dari jiwa dan pikiran merdeka. Will to power yang diinginkan Nietzsche itu ialah manusia unggul yang mampu menguasai diri. Islam pun lama mengajarkan ini, pribadi yang mampu menguasai dirinya sendiri berarti jiwa dan pikirannya merdeka. Jadi, bukan untuk menguasai apalagi menjajah orang lain.

Dengan modal syariat Islam dan budaya, Aceh harusnya sudah paham konsep manusia unggul sebelum Nietzche. Mengapa? karena Islam lebih awal mengenalkan konsep insan kamil. Konsep paripurna manusia, dunia-akhirat. Malah konsep ini lebih unggul dari konsep manusia unggul.

Insan kamil punya keunggulan dalam teologis. Ini mencegah manusia merasa paling unggul, jumawa, sekaligus pencegah putus asa ketika keinginan belum sesuai kenyataan. Konsep ini juga menginginkan manusia mencapai potensi tertingginya melalui ilmu. Nantinya, insan kamil yang ada di Aceh akan terakumulasi menjadi masyarakat dengan peradaban tinggi, baik dunia maupun akhirat. Bila tatanan ini terwujud, Aceh pasti merdeka. Mau?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share9SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
HABA Si PATok

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00