• Latest
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 94d776fc b881 417e 9aca c66a6725773d | Essay | Potret Online

KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

Februari 19, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 19, 2025
in Essay, Indonesia
Reading Time: 2 mins read
0
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 94d776fc b881 417e 9aca c66a6725773d | Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Banyak orang Sambas di Kalbar sudah lama memilih kabur ke Sarawak Malaysia. Fenomena ini sudah sangat lama. Ada puluhan ribu orang Sambas di negeri jiran itu. Ternyata, ajakan kabur ke luar negeri, viralnya sekarang. Bahkan, Noel seorang Wamen justru berujar, “Bila perlu tak usah pulang.” Sambil sarapan pagi di Jalan Pancasila Pontianak, kita bedah tagar #KaburAjaDulu.

Langit Indonesia masih biru. Matahari masih terbit dari timur. Tapi di media sosial, sebuah tagar berkibar lebih kencang dari bendera di tiang sekolah setiap Senin pagi, #KaburAjaDulu. Bukan sekadar kata-kata, ini adalah jeritan jiwa, deklarasi digital dari generasi yang merasa hidup di tanah kelahiran sendiri lebih sulit dari ujian matematika tanpa kalkulator.

Mereka ingin pergi. Bukan karena tidak cinta, tapi karena lelah. Mereka tumbuh dengan janji bahwa kerja keras akan membawa keberhasilan, tapi yang mereka temui hanyalah lowongan kerja dengan syarat “pengalaman lima tahun” untuk fresh graduate, gaji yang bahkan kalah banyak dari biaya parkir bulanan di Jakarta, dan harga rumah yang seolah dibuat khusus untuk manusia abadi yang punya waktu menabung seribu tahun.

Setiap hari, mereka bangun dengan doa yang sama, “Semoga hari ini lebih baik.” Tapi yang datang malah berita harga beras naik, biaya hidup naik, apa saja naik. Sementara satu-satunya yang tidak naik adalah gaji dan harapan. Mereka disuruh bersyukur, tapi perut tetap harus diisi. Disuruh berjuang, tapi yang menang tetap orang-orang itu lagi. Lalu muncullah pikiran sederhana, kalau hidup di sini seperti permainan yang sudah diatur supaya selalu kalah, kenapa tidak pindah ke arena lain?

Mereka melihat Instagram, TikTok, YouTube, anak-anak muda di luar negeri hidup dengan tenang. Makan enak tanpa harus hitung-hitungan sampai angka nol di rekening. Gaji cukup untuk hidup layak, bukan hanya untuk bertahan hidup. Sistem yang lebih jelas, aturan yang lebih masuk akal, kesempatan yang lebih nyata. Bukan ilusi, bukan janji manis.

Maka dimulailah pencarian. Beasiswa? Bisa. Kerja? Bisa. Nikah sama warga lokal? Kalau beruntung, kenapa tidak? Grup-grup diskusi bertebaran, tips dan trik pindah negara beredar lebih cepat dari gosip artis. Anak-anak muda yang dulu diajari mencintai tanah air, sekarang diajari cara meninggalkannya dengan rapi, legal, dan tanpa drama.

Tentu saja, tidak semua orang setuju. “Nasionalisme!” teriak mereka yang nyaman hidup di posisi atas. “Jangan lari, bangun negeri ini!” Tapi bagaimana mau membangun kalau alatnya rusak, bahan bakunya mahal, dan setiap kali ada yang mencoba, malah dijegal oleh sistem? Nasionalisme itu indah, tapi perut kosong lebih nyata.

Jadi mereka pergi. Satu per satu, pelan tapi pasti. Ada yang hanya sementara, ada yang memilih selamanya. Setiap kali seseorang berhasil kabur, yang tinggal hanya bisa melihat dengan dua perasaan, iri dan sadar bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka juga harus mulai mencari jalan keluar.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tags: #kaburajadulu
Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - IMG 20250219 WA0003 | Essay | Potret Online

Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com