Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Donald Trump, si mulut terompet, rambut jagung sedang kesal. Setelah di-prank Iran dan inteligennya sendiri, ia pun merasa dikhianati. Trump marah. Ternyata, di dalam negerinya sendiri, Trump juga dibuat kesal dengan kemenangan Zohran Mamdani di New York. Siapa politisi Demokrat yang pro Paletina yang membuat Trump merasa tak terima. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!
Di suatu pagi penuh dendam dan hairspray, Trump bangun dari tidur siangnya yang suci. Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur berbulu elang langka yang katanya cuma ada di Mongolia, lalu membuka Truth Social sambil menyeruput diet cola level presiden. Tapi pagi itu berbeda. Ada berita yang membuat tangan gemetar, rambut mencuat lebih liar, dan jari-jarinya mulai menari di keyboard dengan amarah surgawi, Zohran Mamdani menang primary Demokrat sebagai calon Wali Kota New York.
Trump langsung meledak. Bukan karena badai atau pajak, tapi karena seorang politikus muda berkulit cokelat dengan nama yang terdengar seperti tokoh anime revolusioner. “Komunis gila 100 persen,” tulisnya. “Dia terlihat mengerikan, suaranya mengganggu, dan dia tidak terlalu pintar.” Belum sempat ia menyelesaikan sarapan burgernya, ia sudah menyerang Alexandria Ocasio-Cortez, menyebut Chuck Schumer “Senator Palestina Hebat Kita”padahal Schumer adalah Yahudi Amerika. Tidak ada logika dalam kemarahan ini. Hanya ada dendam, hairspray, dan ideologi yang retak-retak seperti tembok Meksiko yang tak pernah selesai.
Siapa Mamdani sebenarnya? Seorang anak muda berumur 33 tahun, berdarah Uganda-India, yang sejak 2021 mewakili Astoria, Queens, di Majelis Negara Bagian New York. Ia bukan komunis, meskipun di mata Trump semua yang tak pakai jas biru tua adalah Karl Marx reinkarnasi. Mamdani adalah seorang demokrat sosialis, pejuang rakyat kecil, dan pecinta bus kota. Ya, ia ingin bus gratis. Ia ingin sewa apartemen tidak naik seperti harga iPhone. Ia ingin sembako murah, bukan karena ingin menjatuhkan Wall Street, tapi karena percaya rakyat New York layak makan tanpa harus berhutang ke rentenir TikTok.
Sumber dana program ini? Pajak 10 miliar dolar dari para dewa korporasi dan para penghuni menara gading Manhattan. Mamdani ingin mereka membayar karena katanya, “cukup sudah rakyat membayar dengan air mata.” Tentu saja, tak ada yang lebih membuat Trump mual selain kata “pajak”.
📚 Artikel Terkait
Tapi yang benar-benar membuat Trump mendesis seperti ular adalah sikap Mamdani terhadap Palestina. Ia menyebut perang Israel di Gaza sebagai genosida, mendukung gerakan BDS, dan bahkan bersumpah akan menangkap Benjamin Netanyahu jika si Perdana Menteri itu menginjakkan kaki di New York, merujuk pada surat perintah dari Mahkamah Pidana Internasional tahun 2024. Ini bukan kampanye politik. Ini operasi penangkapan tingkat Avengers.
Eric Adams, Wali Kota saat ini, mencoba ikut-ikutan marah. Ia menyebut Mamdani sebagai “penjual mimpi”. Lucu sekali, mengingat Adams sendiri menjual mimpi bahwa ia bersih dari korupsi, sampai akhirnya kasusnya dihentikan secara misterius oleh jaksa pro-Trump setelah ia tiba-tiba menjadi sangat kooperatif. Kooperatif seperti kucing liar yang tiba-tiba jinak karena dijanjikan ikan.
Dalam iklan kampanyenya, Mamdani menampilkan Mahmoud Khalil, mahasiswa Columbia yang ditangkap karena mendukung Palestina. Ini bukan sekadar kampanye wali kota, ini manifesto anti-otoritarianisme yang dibungkus dalam jaket denim dan kata-kata tajam.
Yang paling epik? Mamdani mengalahkan Andrew Cuomo, mantan gubernur, mantan golden boy Demokrat, didukung oleh Bill Clinton. Kemenangan ini bukan cuma simbol, ini deklarasi, era politik aman-dan-mapan sudah tamat, kawan.
Ketika Trump menggigit mejanya, marah-marah di Truth Social, dan menyebut Mamdani sebagai ancaman bagi demokrasi, bisa jadi dia benar. Tapi bukan ancaman dalam arti hancur. Justru sebaliknya. Mamdani adalah plot twist politik Amerika, dan Trump adalah karakter lama yang belum siap pensiun.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






