POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Mengenal Zohran Mamdani yang Dituduh Trump Komunis

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 27, 2025
Mengenal Zohran Mamdani yang Dituduh Trump Komunis
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Donald Trump, si mulut terompet, rambut jagung sedang kesal. Setelah di-prank Iran dan inteligennya sendiri, ia pun merasa dikhianati. Trump marah. Ternyata, di dalam negerinya sendiri, Trump juga dibuat kesal dengan kemenangan Zohran Mamdani di New York. Siapa politisi Demokrat yang pro Paletina yang membuat Trump merasa tak terima. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!

Di suatu pagi penuh dendam dan hairspray, Trump bangun dari tidur siangnya yang suci. Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur berbulu elang langka yang katanya cuma ada di Mongolia, lalu membuka Truth Social sambil menyeruput diet cola level presiden. Tapi pagi itu berbeda. Ada berita yang membuat tangan gemetar, rambut mencuat lebih liar, dan jari-jarinya mulai menari di keyboard dengan amarah surgawi, Zohran Mamdani menang primary Demokrat sebagai calon Wali Kota New York.

Trump langsung meledak. Bukan karena badai atau pajak, tapi karena seorang politikus muda berkulit cokelat dengan nama yang terdengar seperti tokoh anime revolusioner. “Komunis gila 100 persen,” tulisnya. “Dia terlihat mengerikan, suaranya mengganggu, dan dia tidak terlalu pintar.” Belum sempat ia menyelesaikan sarapan burgernya, ia sudah menyerang Alexandria Ocasio-Cortez, menyebut Chuck Schumer “Senator Palestina Hebat Kita”padahal Schumer adalah Yahudi Amerika. Tidak ada logika dalam kemarahan ini. Hanya ada dendam, hairspray, dan ideologi yang retak-retak seperti tembok Meksiko yang tak pernah selesai.

Siapa Mamdani sebenarnya? Seorang anak muda berumur 33 tahun, berdarah Uganda-India, yang sejak 2021 mewakili Astoria, Queens, di Majelis Negara Bagian New York. Ia bukan komunis, meskipun di mata Trump semua yang tak pakai jas biru tua adalah Karl Marx reinkarnasi. Mamdani adalah seorang demokrat sosialis, pejuang rakyat kecil, dan pecinta bus kota. Ya, ia ingin bus gratis. Ia ingin sewa apartemen tidak naik seperti harga iPhone. Ia ingin sembako murah, bukan karena ingin menjatuhkan Wall Street, tapi karena percaya rakyat New York layak makan tanpa harus berhutang ke rentenir TikTok.

Sumber dana program ini? Pajak 10 miliar dolar dari para dewa korporasi dan para penghuni menara gading Manhattan. Mamdani ingin mereka membayar karena katanya, “cukup sudah rakyat membayar dengan air mata.” Tentu saja, tak ada yang lebih membuat Trump mual selain kata “pajak”.

📚 Artikel Terkait

Menginfus Diri  Untuk  Sebuah Tulisan

Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi

BERHENTILAH MENYALAHKAN SEGALANYA

BOSAN LIHAT MEDSOS HARI INI

Tapi yang benar-benar membuat Trump mendesis seperti ular adalah sikap Mamdani terhadap Palestina. Ia menyebut perang Israel di Gaza sebagai genosida, mendukung gerakan BDS, dan bahkan bersumpah akan menangkap Benjamin Netanyahu jika si Perdana Menteri itu menginjakkan kaki di New York, merujuk pada surat perintah dari Mahkamah Pidana Internasional tahun 2024. Ini bukan kampanye politik. Ini operasi penangkapan tingkat Avengers.

Eric Adams, Wali Kota saat ini, mencoba ikut-ikutan marah. Ia menyebut Mamdani sebagai “penjual mimpi”. Lucu sekali, mengingat Adams sendiri menjual mimpi bahwa ia bersih dari korupsi, sampai akhirnya kasusnya dihentikan secara misterius oleh jaksa pro-Trump setelah ia tiba-tiba menjadi sangat kooperatif. Kooperatif seperti kucing liar yang tiba-tiba jinak karena dijanjikan ikan.

Dalam iklan kampanyenya, Mamdani menampilkan Mahmoud Khalil, mahasiswa Columbia yang ditangkap karena mendukung Palestina. Ini bukan sekadar kampanye wali kota, ini manifesto anti-otoritarianisme yang dibungkus dalam jaket denim dan kata-kata tajam.

Yang paling epik? Mamdani mengalahkan Andrew Cuomo, mantan gubernur, mantan golden boy Demokrat, didukung oleh Bill Clinton. Kemenangan ini bukan cuma simbol, ini deklarasi, era politik aman-dan-mapan sudah tamat, kawan.

Ketika Trump menggigit mejanya, marah-marah di Truth Social, dan menyebut Mamdani sebagai ancaman bagi demokrasi, bisa jadi dia benar. Tapi bukan ancaman dalam arti hancur. Justru sebaliknya. Mamdani adalah plot twist politik Amerika, dan Trump adalah karakter lama yang belum siap pensiun.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Brain Rot dan Krisis Pendidikan Digital di Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00