Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Hari ini dunia Islam berada di persimpangan sejarah. Satu sisi kita menyaksikan betapa umat Islam di berbagai belahan dunia tertindas, terusir, bahkan dibantai—dari Gaza di Palestina hingga Rohingya di Myanmar, dari Suriah yang porak-poranda hingga Yaman yang menderita kelaparan kronis.
Di sisi lain, kita sebagai umat yang jumlahnya lebih dari 1,9 miliar jiwa atau sekitar 25% dari total populasi dunia (data Pew Research Center, 2023), justru seperti kehilangan arah dan kekuatan strategis dalam menghadapi tekanan global. Padahal secara angka dan potensi, umat Islam memiliki segalanya: sumber daya alam melimpah, usia produktif mayoritas, dan warisan intelektual-spiritual luar biasa. Namun satu hal yang hilang: persatuan dalam strategi kolektif melawan penindasan.
Kapitalisme Global dan Keterjajahan Baru
Kapitalisme global hari ini bukan hanya sebuah sistem ekonomi. Ia telah menjadi alat penjajahan modern yang lebih halus, namun lebih merusak. Negara-negara besar, terutama di Barat—Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, dan tentu saja sekutu strategis mereka: Israel—menguasai pasar dunia melalui konglomerasi ekonomi, teknologi, dan pendidikan.
Kita sebut sebagai “kapitalisme Jones Israel” yang tak hanya menjual barang, tapi juga cara berpikir, gaya hidup, dan cara kita memahami dunia. Dalam sistem ini, umat Islam dijadikan sebagai konsumen pasif—bergantung, tidak mandiri, dan kehilangan identitas.
Fakta menyakitkan menunjukkan bahwa lebih dari 70% kebutuhan barang dan jasa umat Islam di negara-negara berkembang dipenuhi oleh produk kapitalis Barat (World Bank, 2022). Mulai dari teknologi, makanan cepat saji, produk hiburan, hingga sistem pendidikan dan kesehatan.
Kita membeli, mengkonsumsi, bahkan meniru mereka—padahal sebagian besar keuntungan dari konsumsi itu mengalir ke negara-negara yang mendanai penjajahan atas Palestina dan mendukung agresi terhadap negeri-negeri Muslim lainnya.
Umat Islam dan Ketidaksadaran Kolektif
Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun hari ini, tubuh umat ini justru kehilangan rasa sakitnya. Kita menangis untuk Gaza, tapi masih mengantri beli produk-produk yang hasil keuntungannya membiayai rudal-rudal Israel. Kita berdoa untuk Palestina, tapi di saat yang sama tetap berlangganan layanan hiburan dari perusahaan yang terang-terangan menyumbang ke negara penjajah.
📚 Artikel Terkait
Ini bukan soal emosi sesaat. Ini soal kesadaran strategis. Umat Islam hari ini tak memiliki sistem alternatif ekonomi yang mampu menjawab ketergantungan pada kapitalisme Barat. Kita tidak punya industri yang mampu menandingi teknologi global. Kita belum punya sistem pendidikan terpadu yang mencetak pemikir mandiri dengan ruh Islam yang kokoh. Kita hanya punya semangat dan kemarahan, namun belum punya “blueprint” yang nyata untuk keluar dari sistem global yang menindas.
Mengapa Harus Bersatu? Belajar dari Sejarah
Sejarah membuktikan bahwa kolonialisme Barat sejak abad ke-16—termasuk oleh Belanda, Inggris, dan Portugis—bertujuan satu: menguasai aset dan sumber daya dunia Timur. Dari rempah-rempah, emas, hingga minyak bumi. Mereka datang dengan perusahaan dagang, misi agama, dan sistem pendidikan yang secara perlahan mematikan identitas bangsa-bangsa jajahan. Indonesia, Afrika, dan sebagian besar Timur Tengah adalah korban dari sistem ini.
Bandingkan dengan kedatangan Islam ke Nusantara: tanpa paksaan, tanpa penjajahan, justru melalui perdagangan yang jujur, nilai kemanusiaan, dan ilmu pengetahuan. Hasilnya? Islam diterima secara luas. Hari ini, Islam menjadi agama terbesar kedua di dunia, bahkan diprediksi akan menjadi yang terbesar pada 2075 (Pew Research Center, 2023). Ini bukti bahwa Islam membawa value tinggi, bukan sekadar ritual, tapi cara hidup yang bermartabat.
Namun mengapa hari ini, kita justru meninggalkan model hidup Islam dan mengikuti gaya hidup kapitalis? Mengapa kita lebih bangga dengan gaya hidup mewah, boros, dan konsumtif—padahal Nabi mengajarkan hidup sederhana, produktif, dan hemat?
Strategi Ekonomi Islam: Alternatif yang Mendesak
Inilah saatnya umat Islam membangun strategi ekonomi kolektif. Kita perlu berpikir jangka panjang, bukan emosional sesaat. Berikut ini beberapa langkah konkret yang bisa dimulai:
- Membangun kesadaran kolektif untuk boikot terarah. Tak semua produk perlu diboikot, namun produk-produk yang jelas mendukung agresi dan penjajahan harus dikurangi dan ditinggalkan.
- Menguatkan ekonomi syariah dan UMKM berbasis Islam. Menurut Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), ekonomi syariah Indonesia tumbuh stabil dan memiliki potensi menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Namun ini butuh dukungan umat yang sadar.
- Pendidikan ekonomi Islam sejak dini. Anak-anak Muslim harus diajarkan pentingnya kemandirian ekonomi, prinsip halal, anti-riba, dan nilai keberkahan dalam muamalah.
- Membangun jaringan dagang intra-umat. Kita perlu menghidupkan kembali semangat dagang seperti era Rasulullah: jujur, adil, dan saling menguatkan antar sesama Muslim.
- Mendirikan media dan teknologi alternatif. Jika semua informasi dan hiburan kita dikendalikan oleh Barat, maka pikiran dan budaya kita akan terus dijajah. Umat Islam harus mulai membangun media sendiri yang edukatif dan membangun karakter.
Menuju Hidup Mandiri: Sekolah Sehat, Hidup Hemat
Mandiri tidak berarti eksklusif. Mandiri berarti tidak bergantung pada sistem yang menindas. Kita bisa memulai dari hal kecil: membangun sekolah berbasis nilai Islam yang mengajarkan ilmu dan adab; menciptakan pola hidup hemat—tidak konsumtif—dan menjauhi gaya hidup hura-hura; memilih produk halal dan buatan umat; serta menghargai pengusaha Muslim kecil sebagai pilar ekonomi mandiri.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Penutup: Inilah Saatnya Bersatu!
Wahai umat Islam, kita adalah bagian dari tubuh yang sama. Jika Gaza disakiti, maka kita pun harus merasakan sakit. Jika umat di Yaman kelaparan, maka kita pun harus peduli. Tapi lebih dari itu, kita harus BERTINDAK. Kita harus bersatu secara strategi, bukan hanya secara emosi. Kita harus cerdas, bukan hanya keras. Dan yang paling penting, kita harus punya niat dan aksi kolektif untuk keluar dari sistem ekonomi kapitalis global yang selama ini melemahkan kita.
Persatuan umat tidak akan pernah tercapai jika kita masih saling menuduh, saling menunggu, dan saling menyalahkan. Kini saatnya bersatu—membangun ekonomi yang mandiri, pendidikan yang bermartabat, dan kehidupan yang sederhana namun terarah. Demi kemuliaan umat, bukan demi gemerlap dunia.
Wallahu a’lam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






