POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenang Kembali “Risalah Amman”

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 22, 2025
Mengenang Kembali “Risalah Amman”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ketika menulis “Mengenal Ayatollah Ali Khamenei” saya diserang netizen yang masih menganggap paham Syiah itu bukan Islam. Tuduhan gilanya, Syiah itu sesat. Segala argumentasi mereka paparkan. Ada membantah, dan tentu ada mendukung. Namanya juga netizen, maha benar, mulutnya tak bisa diresleting.

Kali ini saya mau membuka sebuah risalah lama. Risalah Amman. Dideklarasikan tahun 2004, lalu diteken tahun 2005. Dengan mengenal risalah ini, saya berharap bisa meredakan pertengkaran “Apakah Syiah itu Islam atau Bukan?” Mari simak sambil seruput kopi tanpa gula agar otak tetap encer dan waras.

Pada November 2004, Raja Abdullah II dari Yordania duduk termenung di balkon istananya sambil menatap langit Amman yang sepi dan penuh prasangka. Ia pun menghela napas panjang lalu berkata, “Sudah saatnya kita buat manual book resmi, “Cara Menjadi Muslim Tanpa Mengkafirkan Muslim Lain.”

Maka lahirlah Risalah Amman, sebuah deklarasi akbar yang lebih agung. Risalah ini bukan sekadar dokumen, tapi semacam kitab suci darurat untuk umat yang sudah terlalu lelah berdebat apakah qunut itu sunnah, bid’ah, atau hanya kedipan mata Imam.

Risalah ini menetapkan Tiga Pasal Sakral. Pertama, pengakuan terhadap delapan mazhab, yakni empat Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), dua Syiah (Ja’fari dan Zaydi), Ibadi, dan Zahiri. Kalau ente ikut salah satunya, selamat, sampeyan masih Muslim meskipun bacaan iftitahmu beda dari ustaz favorit netizen.

Pasal kedua: Takfir itu dilarang. Tidak boleh mengkafirkan siapa pun yang ikut salah satu mazhab tersebut, juga tidak boleh mengkafirkan Asy’ariyah, kaum sufi sejati, dan para Salafi yang bukan Salafi bohongan. Karena mengkafirkan itu bukan olahraga nasional.

📚 Artikel Terkait

Kedaulatan Rakyat Sekarat

Relasi Kuasa di Balik Kisah Cinta Publik Figur

Jangan Samakan FGD dengan Seminar

Puisi-Puisi RiskaTembilahan

Pasal ketiga, yang boleh berfatwa hanyalah ulama yang memenuhi syarat keilmuan dan otoritas. Artinya, kalau nuan cuma hafal dua juz dan hobi debat live di TikTok, mohon maaf, jangan fatwa dulu. Fatwa itu bukan status WhatsApp, bro. Ia butuh ilmu, sanad, dan akhlak.

Setahun kemudian, tepatnya 4–6 Juli 2005, Konferensi Islam Internasional digelar di Amman. Ini bukan konferensi kaleng-kaleng. Lebih dari 200 ulama dari 50 negara hadir. Ada Syaikh Mahmud Syalthut dan Syaikh Ahmad Thanthawi dari Universitas Al-Azhar, dua sosok legendaris yang bisa bikin debat fikih jadi terdengar seperti syair cinta. Ada Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani dari Irak dan Ayatollah Ali Khamenei dari Iran, dua bintang besar dari madzhab Ja’fari yang duduk berdampingan dengan Mufti Besar Kesultanan Oman. Hadir pula Dewan Urusan Agama Turki, Akademi Fiqih Islam dari Arab Saudi, dan tentunya Mufti Besar Yordania beserta Komite Fatwa Nasional.

Tak ketinggalan, sang jembatan umat, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi, ulama kharismatik yang fatwanya sering menyejukkan didengar oleh jutaan Muslim dari Maroko sampai Indonesia. Semua mereka duduk dalam satu ruangan. Tidak saling mencurigai, tidak membawa bom dalil, tidak melempar tasbih. Mereka sepakat, satu suara, bahwa Risalah Amman adalah peta jalan untuk menyelamatkan umat dari hobi mencakar sesama.

Risalah Amman bukan dokumen antik yang ditaruh di museum. Ia adalah pengingat bahwa umat ini pernah waras. Pernah cerdas. Pernah berkumpul dengan kepala dingin dan hati lapang. Ia adalah saksi bahwa ketika dunia Islam mulai tenggelam dalam lautan debat tak bertepi, masih ada segelintir orang yang berkata, “Kita berbeda, tapi kita saudara. Kita tidak sama, tapi kita tetap Islam.”

Hari ini, ketika takfiri makin viral, ketika perbedaan dipelintir demi likes, mungkin sudah saatnya kita buka lagi Risalah Amman. Bukan sekadar dibaca. Tapi direnungkan. Sebab di dunia yang terlalu bising oleh suara yang mengklaim paling benar, Risalah Amman datang sebagai bisikan lembut, “Berhentilah memukul bayangan sendiri. Kalian semua sedang menuju arah yang sama. Yang beda hanya cara melangkah.”

Yang mungkin penasaran isi lengkap Risalah Amman, bisa dicari google. Banyak kok.

Sumber foto: bamah.net

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share13SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Sigit Prasojo

Puisi-Puisi Sigit Prasojo

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00